Di balik keseharian seorang pelajar kelas IX-C SMP Kristen Satya Wacana, Steven Obetnego Setiahardi, menyimpan semangat belajar yang luar biasa. Remaja berusia 14 tahun ini tidak hanya gemar menonton anime dan bermain gim Genshin Impact, tetapi juga memiliki ketertarikan mendalam pada dunia sains dan matematika. Ketekunannya membawa Steven melangkah hingga ke babak nasional Kompetisi Sains Ruangguru (KSR) 2025.
Segala bermula dari ajakan pihak sekolah untuk mengikuti kompetisi tahunan yang diadakan oleh lembaga bimbingan belajar Ruangguru. “Awalnya saya ditawarkan oleh sekolah, tapi kemudian saya jadi tertarik sendiri setelah melihat Clash of Champions dari Ruangguru tahun lalu,” tutur Steven saat ditemui di Salatiga.
Babak penyisihan tingkat provinsi dilakukan secara daring belum lama ini. Dengan penuh semangat, Steven mengikuti perlombaan tersebut dari rumah. Ketekunannya membuahkan hasil: ia berhasil lolos ke babak nasional, yang digelar di Brain Academy Center Ruangguru Salatiga.
“Rasanya jauh lebih sulit dari provinsi, tapi saya berharap hasil terbaik bisa saya raih,” ujarnya dengan optimis.
Strategi Belajar dan Persiapan
Untuk menghadapi kompetisi ini, Steven menyiapkan diri dengan sangat serius. Ia mengaku rutin berlatih soal-soal Olimpiade Sains Nasional (OSN) dan Ujian Nasional (UN) setiap hari selama satu sampai dua jam. “Saya biasanya latihan dari buku OSN Matematika SMP dan juga dari buku latihan TKA. Selain itu, guru-guru di sekolah dan dosen dari Fakultas Sains & Matematika (FSM) serta Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UKSW juga membantu memberikan soal latihan,” jelasnya.
Dedikasi Steven tidak hanya terbatas pada latihan pribadi, tetapi juga pada kemauan untuk belajar dari kesulitan. Ia mengaku beberapa materi seperti Geometri, Kombinatorika, dan Peluang masih menjadi tantangan tersendiri. Namun, ia berusaha mengatasinya dengan berlatih secara konsisten dan beradaptasi pada setiap lomba yang diikuti.

Momen yang Paling Berkesan
Dari seluruh perjalanan lomba, momen paling berkesan bagi Steven adalah ketika namanya diumumkan lolos ke tingkat nasional. “Itu hal yang cukup tidak terduga karena ada beberapa materi yang saya kesulitan. Tapi ternyata saya bisa lolos, dan itu sangat membanggakan,” ujarnya sambil tersenyum.
Bagi Steven, pencapaian ini merupakan bentuk kebanggaan pribadi sekaligus kontribusi kecil untuk sekolahnya. “Saya bangga pada diri saya sendiri karena bisa melalui lomba yang cukup menantang. Ini juga bisa jadi sesuatu yang saya tunjukkan nanti di SMA,” katanya.
Ke depannya, Steven bertekad untuk menjadi juara nasional dan terus mengasah kemampuannya di bidang akademik. Ia juga berharap bisa memulai langkah awalnya dalam penelitian ketika sudah menempuh pendidikan di SMA.
Meski sempat mendapatkan tawaran lomba lain dari sekolah, Steven tetap fokus pada jalur yang ia pilih. “Kemarin sempat ditawari lomba di SMA Karangturi, tapi tidak jadi karena situasi sedang tidak kondusif. Mungkin ke depannya saya akan menunggu tawaran lomba lain,” katanya dengan tenang.
Bagi Steven, mengikuti kompetisi bukan hanya tentang menang atau kalah, melainkan tentang proses pembelajaran dan keberanian untuk menghadapi tantangan. Dari Salatiga, langkah kecil seorang remaja bernama Steven ini menjadi bukti bahwa semangat belajar dapat membuka jalan menuju prestasi besar.
Sejalan dengan ASTA CITA dan SDGs
Kisah Steven menjadi contoh nyata SDM muda yang unggul, kreatif, dan berprestasi dalam bidang sains dan matematika yang sejalan dengan arah kebijakan ASTA CITA Presiden dan Wakil Presiden 2024-2025, terutama pada poin “Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Kesetaraan Gender”. Kompetisi yang diadakan secara online oleh Ruangguru menunjukkan pemanfaatan teknologi digital untuk meningkatkan akses pendidikan dan kompetisi. Melalui kompetisi daring seperti ini, kesempatan berprestasi menjadi lebih inklusif.
Selain itu, perjuangan Steven juga mencerminkan semangat Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 9 (Inovasi dan Infrastruktur Digital), dan SDG 10 (Mengurangi Ketimpangan). Partisipasinya dalam ajang nasional menunjukkan bahwa setiap anak di Indonesia, dari berbagai daerah, memiliki peluang yang sama untuk berkembang dan berkontribusi bagi masa depan bangsa.
Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak 1956 dengan 15 fakultas dan 65 program studi di jenjang D3 hingga S3, dengan 34 Prodi Unggul dan A. terletak di Salatiga, UKSW dikenal dengan julukan Kampus Indonesia Mini, mencerminkan keragaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah. Selain itu, UKSW juga dikenal sebagai “Creative Minority” yang berperan sebagai agen perubahan dan inspirasi bagi masyarakat. Salam Satu Hati UKSW! (Jos_TimKomblik/foto:Wiw)