Dalam balutan syukur, Ibadah Senin di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) menjadi penanda dua momentum sekaligus yaitu perayaan Hari Ulang Tahun ke-69 Campus Ministry (CM) dan pembukaan Academic Week sebagai rangkaian Dies Natalis ke-57 Fakultas Teologi UKSW, Senin (03/05/2026) di Balairung Universitas. Ibadah ini menjadi ruang bersama yang mempertemukan dimensi iman, tradisi, dan akademik dalam satu kesatuan yang bermakna.
Suasana ibadah diawali dengan pujian, dilanjutkan tarian kolaboratif dari perwakilan berbagai etnis di UKSW sebagai wujud pelayanan lintas budaya yang dilakukan Campus Ministry. Persembahan pujian duet mahasiswa turut melengkapi rangkaian ibadah, mencerminkan keberagaman yang terjalin dalam kebersamaan.
Dalam pengantarnya, Kepala Campus Ministry Pendeta Dr. Ferry Nahusona, M.Si., menyoroti akar historis Campus Ministry sejak awal berdirinya UKSW. Mengacu pada buku Sejarah Perkembangan UKSW (1956–2006) karya Tri Widiarto dan tokoh lainnya, ia menjelaskan bahwa gagasan “hidup bersekutu” telah menjadi dasar sejak perencanaan Perguruan Tinggi Pendidikan Guru Kristen Indonesia (PTPGKI) pada 1955. Persekutuan diwujudkan tidak hanya melalui ibadah, tetapi juga diskusi, kehidupan asrama, serta kehadiran pendeta mahasiswa sebagai bagian dari pemeliharaan spiritual. Keputusan rapat dewan dosen pada 4 Mei 1957 yang membentuk tim khusus untuk pemeliharaan jiwa mahasiswa menjadi dasar penetapan tanggal tersebut sebagai hari jadi Campus Ministry.
Pendeta Dr. Ferry Nahusona menegaskan bahwa sejak awal, pelayanan kerohanian telah dirancang sebagai bagian penting dalam kehidupan kampus dan menjadi fondasi persekutuan di UKSW. “Sejak awal, persekutuan menjadi bagian yang dirancang untuk menopang kehidupan bersama di kampus, termasuk melalui ibadah, diskusi, dan pemeliharaan jiwa mahasiswa,” ujarnya.
Rektor UKSW Profesor Intiyas Utami dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas perjalanan 69 tahun Campus Ministry sebagai bagian penting dalam kehidupan kampus. Ia menegaskan peran CM dalam menjaga nilai-nilai Tridharma Perguruan Tinggi serta kehidupan spiritual civitas academica.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga lingkungan kampus yang inklusif dan aman. “Rawat perbedaan yang ada. Pastikan tidak ada kekerasan maupun perundungan di lingkungan kampus,” tegasnya. Tema perayaan yang mengangkat aspek ilmiah dan “Kampus Berdampak” dinilai mencerminkan identitas UKSW sebagai perguruan tinggi Kristen yang relevan.
Sebagai penutup, dilakukan penyerahan anggrek dari Rektor Intiyas kepada Pendeta Ferry Nahusona., M.Si., didampingi Dekan Fakultas Teologi UKSW Pendeta Profesor Izak Yohan Matriks Lattu, S.Si-Teol, M.A., Ph.D., Wakil Dekan Fakultas Teologi Pendeta Irene Ludji, MAR., Ph.D., dan Ketua Academic Week Pendeta Imanuel Teguh Harisantoso, M.Si., sebagai simbol komitmen pelayanan yang terus dijaga dan dikembangkan.

Pelayanan Bersama
Firman Tuhan disampaikan oleh Pendeta Izak Lattu dengan tema “Inilah Aku, Utuslah Aku”. Ia mengajak civitas academica untuk kembali pada kesadaran panggilan, dimulai dari pengakuan atas keterbatasan diri. Ia menegaskan bahwa manusia hadir bukan karena kelayakan, melainkan karena dilayakkan.
“Kita berada di sini bukan karena kita pantas secara alamiah, melainkan karena dilayakkan,” ujarnya. Ia juga menekankan bahwa kegagalan bukan akhir, melainkan bagian dari proses pembentukan. Dalam konteks akademik, ia mengingatkan bahwa tanggung jawab pelayanan tidak dapat dijalankan sendiri, melainkan membutuhkan keterlibatan bersama. Panggilan sebagai hamba, menurutnya, adalah panggilan yang akan dipertanggungjawabkan.
Ketua Academic Week, Pendeta Imanuel Teguh Harisantoso, M.Si., mengatakan bahwa rangkaian kegiatan telah dimulai sejak 26 Februari dan akan berlangsung selama satu minggu. Setelah ibadah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan Dean Talks yang menghadirkan pimpinan fakultas untuk membahas perkembangan Fakultas Teologi dan Sosiologi Agama di UKSW. Agenda lainnya meliputi seminar hasil karya mahasiswa yaitu skripsi, tesis, dan disertasi serta diskusi panel.
Kegiatan akan ditutup pada Jumat mendatang melalui Teo Talk yang menghadirkan praktisi dari rumah sakit, gereja, dan dunia pendidikan untuk membahas isu pastoral dalam konteks keberagaman Indonesia. Selain itu, pada Selasa hingga Kamis akan ditampilkan pertunjukan mahasiswa dari berbagai sinode pendukung UKSW di area Fakultas Teologi.
Melalui kegiatan ini, UKSW mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) ke-4 pendidikan berkualitas, SDGs ke-16 perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang tangguh, serta SDGs ke-17 kemitraan untuk mencapai tujuan. Sejalan dengan Asta Cita, kegiatan ini mencerminkan poin ke-4 tentang pembangunan sumber daya manusia dan pendidikan, serta poin ke-8 tentang penguatan harmoni sosial dan kehidupan beragama.
Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak 1956 dengan 15 fakultas dan 64 program studi di jenjang D3 hingga S3 dengan 36 prodi terakreditasi Unggul dan A. Terletak di Salatiga, UKSW dikenal dengan julukan Kampus Indonesia Mini, mencerminkan keragaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah. Selain itu, UKSW juga dikenal sebagai “Creative Minority” yang berperan sebagai agen perubahan dan inspirasi bagi masyarakat. Salam Satu Hati UKSW! (Ish_TimKomblik/foto:Ron)
