Program Kosabangsa untuk masyarakat 3T

UKSW dan Jejak Panjang Pemberdayaan Masyarakat: Selaras dengan Semangat Kosabangsa

Semangat Diktisaintek Berdampak yang menempatkan perguruan tinggi sebagai penggerak transformasi sosial selaras dengan komitmen pengabdian Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW). Berbagai program pemberdayaan masyarakat yang dijalankan UKSW di Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi wujud nyata kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung Asta Cita Presiden, khususnya Asta Cita ke-2 pemantapan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa, Asta Cita ke-4 tentang penguatan sumber daya manusia melalui pendidikan dan kesehatan, Asta Cita ke-6 tentang pembangunan dari desa dan daerah tertinggal, serta Asta Cita ke-8 tentang pelestarian budaya dan penguatan harmoni sosial. Melalui penguatan pendidikan, literasi, kesehatan, dan kapasitas komunitas, UKSW secara konsisten mentransformasikan ilmu pengetahuan menjadi solusi yang relevan, berdampak, dan berkelanjutan bagi masyarakat.

Revitalisasi Sekolah GMIT: Menguatkan Mutu Pendidikan bagi Ribuan Peserta Didik di Nusa Tenggara Timur

Komitmen UKSW dalam memperkuat kualitas pendidikan di Indonesia Timur diwujudkan melalui program Revitalisasi Sekolah Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT). Sebagai salah satu gereja pembina UKSW, GMIT mengelola 580 satuan pendidikan mulai dari PAUD hingga Sekolah Menengah Teologi Kristen (SMTK) yang tersebar di 12 kabupaten di NTT. Namun, sekitar 35 persen atau 203 sekolah masih belum terakreditasi, dengan tantangan terbesar berada pada jenjang TK dan SD.

Melalui program senilai Rp 75.520.900,00 yang didukung dana UKSW sebesar Rp 65.520.900,00 serta kontribusi mitra berupa fasilitas dan kendaraan senilai Rp 10.000.000,00, UKSW menghadirkan pendampingan selama delapan bulan bagi sekolah-sekolah binaan GMIT. Program ini dipimpin oleh Dr. Helti Lygia Mampouw, S.Pd., M.Si., bersama tim multidisiplin yang terdiri atas pakar pendidikan, psikologi, karakter, literasi, teknologi, dan manajemen sekolah.

Pendampingan dilakukan secara daring dan luring melalui penguatan tata kelola sekolah, penyusunan visi-misi dan program kerja berbasis kebutuhan lokal, peningkatan kompetensi guru dalam pembelajaran inovatif dan Kurikulum Merdeka, hingga observasi langsung untuk mempersiapkan sekolah menghadapi reakreditasi. Kegiatan luring juga melibatkan Yayasan Pendidikan Kristen Agape dan Toisneno di Soe sebagai mitra pelaksana.

Dampak program ini melampaui target administratif akreditasi. Kepala sekolah dan yayasan memperoleh arah pengembangan yang lebih terstruktur, sementara guru memperoleh keterampilan baru dalam pemanfaatan teknologi pendidikan, Platform Merdeka Mengajar, serta pengembangan pembelajaran yang lebih kontekstual. Penguatan kapasitas tersebut berpotensi menjangkau ribuan guru dan peserta didik di lingkungan sekolah GMIT sekaligus membuka akses yang lebih luas terhadap berbagai bantuan dan program pemerintah melalui peningkatan status akreditasi sekolah.

KBM Humanistic Skill Olahraga UKSW

Menumbuhkan Budaya Literasi Bahasa Inggris di Sumba Barat

Rendahnya kemampuan literasi Bahasa Inggris masih menjadi tantangan bagi banyak sekolah di wilayah 3T, termasuk Kabupaten Sumba Barat. Menjawab kebutuhan tersebut, UKSW menginisiasi program “Introducing Extensive Reading to English Teachers in West Sumba” untuk memperkuat kapasitas guru dalam membangun budaya membaca yang menyenangkan dan berkelanjutan.

Program bernilai Rp 55.380.000,00 ini merupakan hasil kolaborasi UKSW dengan Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Sumba Barat, Extensive Reading Foundation (ERF), serta Indonesian Extensive Reading Association (IERA). Kegiatan dipimpin oleh Antonina Anggraini Setiamunadi bersama Yustina Priska Kisnanto dan Yustinus Calvin Gai Mali, dengan dukungan pemateri internasional seperti Ann Mayeda dan Rob Waring dari ERF serta Anita K. Hadiyanto dari IERA.

Sebanyak 40 guru Bahasa Inggris SMP dari enam kecamatan di Sumba Barat mengikuti pelatihan intensif selama tiga hari yang mencakup pengenalan Extensive Reading, pemanfaatan sumber bacaan digital gratis, hingga penggunaan berbagai platform teknologi pembelajaran seperti Readlang, WordSift, Vocaroo, dan Canva.

Dampaknya sangat signifikan. Berdasarkan hasil evaluasi, 100 persen peserta menyatakan siap menerapkan Extensive Reading di sekolah masing-masing. Para guru tidak hanya memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai strategi literasi modern, tetapi juga mengembangkan keterampilan praktis dalam memanfaatkan teknologi untuk mendukung pembelajaran. Dalam jangka panjang, program ini berpotensi memperluas praktik literasi berkualitas di sekolah-sekolah wilayah 3T dan mendorong lahirnya generasi pembelajar yang lebih literat, percaya diri, serta siap berkompetisi di tingkat global.

Merawat Bahasa dan Budaya Lokal Melalui Literasi Dwibahasa di Sumba

Selain meningkatkan literasi global, UKSW juga berupaya menjaga keberlanjutan budaya lokal melalui program Peningkatan Literasi Dwibahasa di SMA Swasta Kristen Weekarou, Sumba Barat. Berangkat dari minimnya bahan bacaan yang mengangkat kearifan lokal, program ini mendorong siswa dan guru menjadi pencipta karya literasi berbasis budaya daerah.

Program senilai Rp 35.000.000,00 ini dipimpin oleh Antonina Anggraini Setiamunadi, M.Pd., bersama Yustina Priska Kisnanto, M.Hum., dan Dr. Anna Sriastuti, M.Hum., dengan melibatkan mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris dan Sastra Inggris Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) UKSW. Sebanyak 35 siswa dan delapan guru mengikuti pelatihan intensif yang berfokus pada penulisan cerita rakyat Sumba dalam bahasa daerah, kemudian diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

Hasilnya, lahir delapan naskah cerita rakyat yang ditulis langsung oleh siswa dengan pendampingan guru dan dosen. Naskah-naskah tersebut menjadi fondasi penyusunan buku cerita rakyat trilingual yang memadukan bahasa daerah, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris.

Dampak program ini tidak hanya memperkuat budaya literasi di sekolah, tetapi juga mengubah siswa dari sekadar pembaca menjadi pencipta pengetahuan. Di saat yang sama, kekayaan budaya Sumba memperoleh ruang baru untuk diwariskan kepada generasi mendatang melalui media yang lebih inklusif dan mudah diakses. Program ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kompetensi literasi dan kemampuan berbahasa.

Meningkatkan Kesadaran Kesehatan Ibu Melalui Penguatan Kader Posyandu

Di bidang kesehatan masyarakat, UKSW menghadirkan program edukasi deteksi dini sub-involusi uteri bagi kader posyandu di wilayah kerja Puskesmas Binaus, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Program ini lahir dari keprihatinan terhadap tingginya angka kematian ibu di Nusa Tenggara Timur, di mana perdarahan pascapersalinan masih menjadi salah satu penyebab utama kematian.

Melalui program senilai Rp 11.630.000,00 yang dipimpin oleh Ners. Kristiani Desimina Tauho, MSN, bersama Rifatolistia Tampubolon, S.S.T.Keb., MH., dan mahasiswa UKSW, sebanyak 23 kader posyandu dari enam desa memperoleh pelatihan mengenai deteksi dini sub-involusi uteri, pengenalan tanda bahaya perdarahan postpartum, serta langkah-langkah penanganan awal yang tepat. Program ini juga didukung oleh Puskesmas Binaus melalui penyediaan narasumber dan fasilitas pelatihan.

Dampaknya terlihat dari meningkatnya kemampuan kader dalam mengenali gejala yang sebelumnya belum mereka pahami secara medis. Para kader yang telah mendapatkan pelatihan kini mampu mengidentifikasi tanda-tanda sub-involusi uteri dan mengambil keputusan yang lebih tepat ketika mendampingi ibu nifas di komunitasnya.

Lebih jauh lagi, manfaat program ini berpotensi menjangkau masyarakat di enam desa melalui peran kader sebagai agen edukasi kesehatan. Dengan kemampuan deteksi dini yang lebih baik, peluang terjadinya keterlambatan rujukan dapat ditekan, sehingga mendukung upaya penurunan angka kematian ibu dan memperkuat sistem kesehatan berbasis masyarakat di wilayah pedalaman Nusa Tenggara Timur.

Pengabdian yang Bertumbuh Menjadi Dampak

Program Revitalisasi Sekolah GMIT, Introducing Extensive Reading to English Teachers in West Sumba, Peningkatan Literasi Dwibahasa di SMA Swasta Kristen Weekarou, serta edukasi deteksi dini sub-involusi uteri bagi kader posyandu di Timor Tengah Selatan menunjukkan bagaimana pengabdian masyarakat UKSW dirancang untuk menghasilkan perubahan yang terukur dan berkelanjutan. Dengan total nilai program mencapai lebih dari Rp 177 juta, UKSW tidak hanya menghadirkan transfer pengetahuan, tetapi juga memperkuat kapasitas manusia, institusi pendidikan, komunitas budaya, hingga sistem kesehatan masyarakat.

Dari peningkatan kualitas ratusan sekolah GMIT, penguatan literasi guru di wilayah 3T, pelestarian budaya lokal melalui karya trilingual, hingga peningkatan kapasitas kader kesehatan desa, seluruh inisiatif tersebut menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan dapat menjadi instrumen transformasi sosial yang nyata. Inilah wujud komitmen UKSW dalam menghadirkan pendidikan tinggi yang berdampak, sejalan dengan semangat Kosabangsa dan Diktisaintek Berdampak yang menempatkan perguruan tinggi sebagai mitra strategis pembangunan masyarakat Indonesia.