Jamur Warna-Warni Mikoologi: Saat Riset Kampus UKSW Menyelinap ke Rak Swalayan

Berawal dari keresahan melihat anak-anak yang semakin akrab dengan gawai, lahirlah sebuah inovasi dari Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) yang menawarkan cara belajar sekaligus bermain melalui budidaya jamur. Produk bernama Mikoologi atau Mikoo ini kini telah berkembang menjadi lini usaha berbasis riset yang sukses menembus pasar komersial.

Perjalanan Mikoo bermula dari Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) tahun 2024. Saat itu, tim mahasiswa Agroteknologi UKSW bernama “Mycelium Magic” mengembangkan mushroom growing kit sebagai media edukasi bagi anak-anak sekolah di bawah bimbingan Dosen Fakultas Pertanian dan Bisnis (FPB) UKSW, Ruth Meike Jayanti, S.P., M.Sc. Program yang berhasil memperoleh pendanaan P2MW tersebut lahir dari gagasan menghadirkan aktivitas edukatif yang dapat mengurangi ketergantungan anak-anak terhadap gawai melalui pengalaman membudidayakan jamur secara langsung.

Inovasi tersebut kemudian menarik perhatian alumni FPB UKSW, Aditya Yoga Sustika, S.P., saat menjadi narasumber dalam sebuah kegiatan kewirausahaan. Melihat potensi mushroom growing kit sebagai produk yang dapat dikembangkan lebih luas, ia bersama rekannya berdiskusi dengan pihak FPB dan dipertemukan dengan Ruth Meike. Dari proses brainstorming tersebut lahirlah kolaborasi untuk mengembangkan riset lanjutan yang berlangsung pada Maret hingga Mei 2025 sebagai fondasi pengembangan Mikoologi.

Selain terlibat dalam pengembangan konsep, Aditya juga berperan mengembangkan aspek bisnis Mikoologi melalui penyusunan strategi pemasaran, sistem penjualan, dan pengelolaan operasional usaha. Perannya menjembatani hasil riset dengan kebutuhan pasar sehingga inovasi ini tidak hanya berkembang sebagai produk edukasi berbasis sains, tetapi juga sebagai usaha yang berkelanjutan.

Perjalanan Mikoologi dari tahap riset hingga menjadi produk komersial pada tahun 2026 terbilang relatif singkat. Dalam waktu sekitar satu tahun, inovasi ini berhasil berkembang menjadi contoh nyata hilirisasi hasil penelitian UKSW yang tidak hanya memberikan manfaat edukatif bagi masyarakat, tetapi juga membuka peluang usaha berbasis inovasi.

Bukan Sekadar Laporan di Atas Meja

Kolaborasi ini berhasil mematahkan “kutukan” yang sering menimpa riset kampus, yaitu berhenti di rak perpustakaan sebagai laporan akhir atau jurnal akademik. Lewat Mikoo, riset ini melompat ke tahap hilirisasi. Keterlibatan dosen dan mahasiswa tak lagi sebatas pendampingan di atas kertas. Mereka meriset jamur tiram warna-warni dan mematangkan formula media tanam agar jamur bisa tumbuh lebih cepat, hasilnya konsisten, dan tetap aman dikonsumsi. 

“Diproduksi, diperjualbelikan, dan dikomersialisasikan. Itu semua sudah termasuk hilirisasi nyata,” ungkap Ruth Meike.

Bagi Aditya keterlibatan UKSW memberikan dampak besar, salah satunya pada aspek trust atau kepercayaan konsumen. Penandatanganan kerja sama (MoU) resmi dengan UKSW pada Oktober tahun lalu menjadi nilai tambah yang menguntungkan saat dimasukkan ke dalam portofolio maupun company profile bisnis mereka.

“Konsumen kami beragam, mulai dari swalayan hingga end user. Terutama untuk mitra bisnis atau B2B, mereka pasti melihat portofolio Mikoo. Ketika mereka mengetahui bahwa kami telah berkolaborasi dengan Fakultas Pertanian dan Bisnis UKSW serta memiliki kerja sama resmi dengan kampus, hal itu menjadi nilai yang sangat menguntungkan bagi kami. Jadi secara kepercayaan, posisi kami menjadi lebih kuat,” jelas Aditya.

Jaminan Kualitas dan Dampak Nyata

Aspek kedua yang turut memberikan dampak signifikan adalah kualitas produk. Kehadiran akademisi, baik dosen pendamping maupun mahasiswa, membuat kualitas produk lebih terjamin. Sekitar enam bulan lalu, dua mahasiswa UKSW yang topik penelitiannya berkaitan dengan jamur diterjunkan langsung setiap hari di lokasi produksi untuk melakukan pengawasan dan quality control.

“Kami tidak perlu melakukan pengawasan harian secara detail karena sudah ada orang-orang yang memang ahli di bidangnya,” tambah Aditya selaku Direktur Utama PT. Mikoo Sijamur Cantik. Selain dari sisi kualitas dan kepercayaan mitra, institusi UKSW juga memberikan banyak peluang bagi Mikoo pada masa-masa awal melalui kesempatan mengikuti bazar dan berbagai kegiatan kampus.

Secara produk, Mikoo mencoba meningkatkan value produk pertanian yang biasanya hanya dijual sebagai komoditas pangan biasa. Jamur tiram ditingkatkan nilainya agar bisa menjadi gift, suvenir, hiasan, sekaligus sarana edukasi.

Dampaknya pun mulai dirasakan oleh konsumen. Banyak orang tua yang memberikan testimoni bahwa anak-anak mereka, bahkan yang masih balita, sudah bisa merawat Mikoo sendiri. Pengalaman berinteraksi dengan tanaman inilah yang berhasil membantu mengurangi waktu beralih ke gawai (screen time) pada anak.

Menghidupkan Ekosistem Kampus

Meski dampak ke masyarakat luas masih dalam tahap berkembang, kehadiran Mikoo telah memberikan manfaat nyata di internal kampus. Proyek ini menjadi salah satu alternatif tempat bagi mahasiswa UKSW untuk mendapatkan pengalaman praktik secara langsung dalam membuat produk pertanian yang benar-benar dipasarkan dan digunakan oleh konsumen. Bahkan, tantangan nyata di lapangan bersama Mikoo ini diangkat oleh mahasiswa sebagai topik skripsi mereka.

Perlahan tapi pasti, pasar Mikoo kian meluas. Dari wilayah lokal seperti Salatiga, Solo, Semarang, dan Yogyakarta, produk edukasi ini telah merambah ke kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, hingga Surabaya, mengisi rak swalayan, e-commerce, dan destinasi wisata edukasi.

Keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa UKSW sangat terbuka terhadap proses hilirisasi hasil riset yang mempertemukan fakultas dengan dunia industri. Di akhir kesempatan, Aditya memberikan pesan penyemangat bagi para mahasiswa yang sedang mengembangkan riset.

“Jangan takut dan sungkan untuk datang kepada akademisi atau para ahli di bidangnya. Bertanyalah, berdiskusilah, dan coba ajukan peluang kolaborasi yang bisa dilakukan. Baik untuk riset yang serius, proyek pengembangan produk, maupun kegiatan magang, saya melihat UKSW sangat terbuka terhadap kolaborasi semacam itu,” pungkas Aditya.

Inovasi ini menjadi representasi nyata komitmen UKSW dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs ke-4 yaitu pendidikan berkualitas, SDGs ke-9 yaitu Industri, Inovasi dan Infrastruktur, dan SDGs ke-17 yaitu kemitraan untuk mencapai tujuan. Capaian ini juga sejalan dengan Asta Cita poin ke-4 yaitu dalam penguatan sumber daya manusia, sains, teknologi, dan pendidikan, serta poin ke-6 yaitu dalam membangun tata kelola ekonomi dan kelembagaan yang produktif, inovatif, dan berkelanjutan.

Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak 1956 dengan 15 fakultas dan 65 program studi di jenjang D3 hingga S3 dengan 36 prodi terakreditasi Unggul dan A. Terletak di Salatiga, UKSW dikenal dengan julukan Kampus Indonesia Mini, mencerminkan keragaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah. Selain itu, UKSW juga dikenal sebagai “Creative Minority” yang berperan sebagai agen perubahan dan inspirasi bagi masyarakat.  Salam Satu Hati UKSW! (Arl_TimKomblik/foto:Divpromkomblik)

Bagikan:
Facebook
Share
WhatsApp