Dari Tanimbar hingga Salatiga, Kisah 15 Ibu Warnai Wisuda UKSW dengan Haru dan Air Mata

Momen wisuda Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) tak hanya menjadi perayaan bagi para lulusan, tetapi juga panggung apresiasi atas perjuangan orang tua yang setia mendampingi perjalanan pendidikan anak-anak mereka. Di tengah kemeriahan Upacara Wisuda UKSW, panggung Balairung sejenak menjadi ruang berbagi kisah kasih orangtua, khususnya seorang ibu. Sebanyak 15 ibu dari berbagai daerah di Indonesia diundang Rektor Intiyas untuk berdiri bersama di hadapan para winisuda dan seluruh hadirin. Mereka berbagi perasaan menyaksikan buah hati yang selama ini didampingi dengan doa, air mata, dan pengorbanan, akhirnya mengenakan toga dan meraih gelar akademik.

Thabitha Laritmas rela menempuh perjalanan jauh dari Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, untuk menyaksikan putranya, Wilzon Batkormbawa, lulusan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, menerima gelar sarjana. Dengan penuh haru, ia mengungkapkan rasa bangganya atas pencapaian sang putra.

“Saya merasakan kebanggaan yang luar biasa sebagai orang tua. Perjalanannya memang sangat panjang, tetapi ketika bisa berada di sini, apalagi berdiri di panggung ini, bagi saya ini adalah sesuatu yang luar biasa dan patut disyukuri. Saya juga menyampaikan apresiasi kepada Ibu Rektor beserta seluruh jajaran yang bertanggung jawab di universitas ini atas segala hal yang telah diberikan. Terima kasih,” ungkap Thabitha.

Dari Tanimbar hingga Salatiga, Kisah 15 Ibu Warnai Wisuda UKSW dengan Haru dan Air Mata

Kisah mengharukan lainnya datang dari Yuanita Timparosa, ibu dari Ribkah Amaylia Wartono, lulusan Program Studi Psikologi. Sebagai seorang ibu tunggal, Yuanita mengenang perjalanan panjang yang akhirnya mengantarkan putrinya meraih gelar sarjana sekaligus mewujudkan impian yang pernah diungkapkan sejak kecil.

“Kalau saya mengingat kembali, saat anak saya berusia sekitar tiga setengah tahun, saya menjadi seorang ibu tunggal. Anak saya tinggal bersama ayahnya. Waktu itu, dia pernah berkata kepada saya, ‘Mama, saya bisa kuliah nggak?’ Kalimat itu adalah hal pertama yang sangat saya ingat. Hari ini saya merasa sangat bangga karena anak saya berhasil membawa saya hadir di sini untuk menyaksikan wisudanya,” tutur Yuanita.

Ia juga menyampaikan rasa syukur atas dukungan yang diberikan UKSW kepada keluarganya.

“Saya bersyukur kepada UKSW yang telah memberikan beasiswa setiap semester kepada anak saya. Puji Tuhan, adiknya juga mendapatkan beasiswa KIP dan saat ini sedang melanjutkan kuliah di Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi (FISKOM). Selain itu, saya juga bersyukur karena dua minggu setelah menyelesaikan studi pada bulan Maret, anak saya sudah mendapatkan pekerjaan di Jakarta,” tambahnya.

Menutup sesi tersebut, Rektor UKSW Profesor Intiyas Utami, kembali mengajak para winisuda untuk memberikan penghormatan kepada para ibu yang telah mendampingi perjalanan mereka hingga berhasil meraih gelar sarjana.

“Inilah ibu-ibu yang tidak lelah berdoa untuk kalian. Waktu telah menghantarkan kalian dari masa kecil hingga berada di titik ini. Di pundak kalian ada nama baik keluarga dan nama baik UKSW. Kami menitipkan kepada kalian semua untuk menjaga nama baik keluarga,” pesan Rektor UKSW.

Tak lama berselang, keharuan kembali memenuhi Balairung ketika Kepala Campus Ministry UKSW Pendeta Dr. Ferry Nahusona, M.Si. mengajak para winisuda dan keluarga menyanyikan lagu Di Doa Ibuku Namaku Disebut.

Dari Tanimbar hingga Salatiga, Kisah 15 Ibu Warnai Wisuda UKSW dengan Haru dan Air Mata

Wisuda Periode III Tahun 2026 menjadi wujud nyata UKSW terhadap program Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Diktisaintek) Berdampak yang selaras dengan Asta Cita 4 memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM), sains, teknologi, dan pendidikan. Selain itu, agenda ini juga merupakan kontribusi nyata UKSW dalam mencapai Sustainable Development Goals (SDGs) ke-4 pendidikan berkualitas.

Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak 1956 dengan 15 fakultas dan 65 program studi di jenjang D3 hingga S3 dengan 36 prodi terakreditasi Unggul dan A. Terletak di Salatiga, UKSW dikenal dengan julukan Kampus Indonesia Mini, mencerminkan keragaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah. Selain itu, UKSW juga dikenal sebagai “Creative Minority” yang berperan sebagai agen perubahan dan inspirasi bagi masyarakat.  Salam Satu Hati UKSW! (Arl_TimKomblik/foto:DivpromKomblik)

Bagikan:
Facebook
Share
WhatsApp
PHP Code Snippets Powered By : XYZScripts.com