Langkah anggun para putri dan permaisuri kerajaan menghiasi panggung Balairung Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) dalam Festival Putri Keraton 2026, Sabtu (25/07/2026) malam. Menjadi bagian dari Festival Adat Budaya Nusantara VII, fashion show ini menghadirkan kekayaan wastra dari berbagai kerajaan dan kesultanan di Indonesia sekaligus mengajak masyarakat mengenal makna yang tersimpan di balik setiap busana adat.
Sebanyak 14 putri dan permaisuri tampil memperagakan busana kebesaran daerah masing-masing. GKP. Kusumoputri Warsitonagoro menampilkan Busana Pesiar Putri Mangkualaman, disusul GRA. Puti Ariendra Brilliant Wardhani Narendra bersama RM.SM. Akheindra Satria Dhaniswara Narendra yang membawakan Busana Sabukwala dan Cothan dari Praja Mangkualaman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dari Sulawesi Selatan, KRAy Hj. Andi Yulianti Makmur Patta Ne’nang Satrio Sasmito dari Kerajaan Gowa memperagakan Baju Bodo, sementara Ibunda Suri Ratu Laila Perdana Agung menghadirkan busana adat Kesultanan Kadriyah Pontianak.
Keindahan wastra Nusantara juga ditampilkan oleh I Gusti Ayu Oka Suryawardani dari Puri Agung Gelogor Denpasar, Bali, serta KRAy Puan Puti Hj. Israbetyetti Paramitha Wulandari dari Istana Silinduang Bulang Pagaruyung, Sumatera Barat. Dari Kerajaan Negeri Padang, Deli, Sumatra Utara, tampil RA. Yenny Fitrayani Nurdinsyah Ratu Ampuan Maharadja Bongsu bersama KRAy. Tengku Maliana Zufrine Tengku Puan Chandra Kirana.
Sementara itu, Kedatuan Suppa, Pinrang, Sulawesi Selatan, diwakili oleh Hj. Andi Simpursiah Summase dan Hj. Andi Bau Dala Uleng, sedangkan Kekaraengan Tanah Beru, Bulukumba, Sulawesi Selatan, menghadirkan Hj. Andi Pamenery Opu Tawa. Penampilan lainnya datang dari Raden Putri Gendis Kencana, Putri Ratu Raja Arimbi Nurtina dari Kesultanan Kanoman, Cirebon, Jawa Barat, serta KRAyT. Wa Ode Endang Hartini Puspa Kirana dari Kerajaan Kulisusu, Buton, Sulawesi Tenggara.

Beberapa busana menjadi sorotan karena filosofi yang diusung. Baju Bodo dari Kerajaan Gowa, misalnya, dikenal sebagai salah satu pakaian adat tertua di Asia dengan warna yang mencerminkan usia dan status sosial pemakainya. Sementara itu, Baju Milik khas Padang Magek dari Sumatera Barat menggambarkan falsafah Minangkabau melalui setiap elemennya, mulai dari tikuluak hingga salempang yang melambangkan tanggung jawab perempuan Minang. Busana adat Bali memukau lewat songket tenun tangan dan perhiasan karya perajin lokal, sedangkan busana Kesultanan Kanoman Cirebon menampilkan motif Mega Mendung dan Singa Barong sebagai simbol akulturasi budaya.
Tak sekadar menjadi ajang peragaan busana, Festival Putri Keraton Nusantara menjadi ruang untuk memperkenalkan sejarah, nilai, dan identitas budaya yang diwariskan lintas generasi. Sebagai penutup, Rektor UKSW Profesor Intiyas Utami bersama para tamu kehormatan menyerahkan buket bunga kepada perwakilan Putri Keraton Nusantara sebagai simbol apresiasi dan dukungan terhadap upaya pelestarian adat dan budaya Indonesia.
Perhelatan yang dihadiri ratusan raja, sultan, pemangku adat, tokoh budaya, pimpinan Masyarakat Adat Nusantara (MATRA), serta berbagai tamu undangan ini menjadi ruang perjumpaan budaya yang memperkuat semangat pelestarian warisan Nusantara sekaligus menegaskan identitas UKSW sebagai Kampus Indonesia Mini. Menutup rangkaian Festival Putri Keraton 2026, para hadirin disuguhkan persembahan Tari Naga yang memukau sebagai penampilan terakhir, sekaligus menjadi simbol harmoni dalam keberagaman budaya Indonesia.

Penyelenggaraan Festival Adat Budaya Nusantara VII di UKSW juga menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan berkelanjutan melalui pelestarian budaya dan penguatan pendidikan berbasis keberagaman. Upaya ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) ke-4 yaitu pendidikan berkualitas, khususnya dalam mendorong pendidikan yang menghargai keberagaman budaya, serta SDGs ke-16 yaitu perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang tangguh melalui penguatan dialog, kolaborasi, dan hubungan antarkomunitas.
Kegiatan ini juga sejalan dengan Asta Cita ke-3, yaitu memperkuat kehidupan sosial dan budaya serta memperkokoh kerukunan dalam keberagaman, dan Asta Cita ke-4 melalui penguatan pembangunan sumber daya manusia, pendidikan, sains, dan teknologi. Melalui pendidikan dan ruang perjumpaan budaya, keberagaman tidak hanya dirayakan, tetapi juga menjadi kekuatan untuk membangun masyarakat yang inklusif dan berkelanjutan. (Arl_TimKomblik/foto:DivpromKomblik)
