Sebanyak 15 mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) mengikuti East Asia Student Encounter (EASE) 2026 yang diselenggarakan di Kwansei Gakuin University (KGU), Jepang, selama 18 hari hingga 18 Agustus mendatang. Mengusung tema Manifest the Dream: Our Journey Toward Peace in a Divided World, para mahasiswa didampingi Leader Dr. Dian Toar Sumakul, M.A., dan Co-Leader Maryanah. Sebelum keberangkatan, rombongan dilepas oleh Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Kealumnian (WR KK) UKSW Profesor Yafet Yosafet Wilben Rissy, pada Kamis (30/07/2026).
Profesor Yafet Rissy berpesan agar para peserta memanfaatkan kesempatan ini sebagai ruang belajar sekaligus membangun persahabatan internasional.
“Jepang memiliki banyak hal yang dapat kita pelajari. Yang terpenting adalah percaya pada diri sendiri, memberikan yang terbaik, dan membawa nama baik UKSW,” pesannya.
Penyelenggaraan EASE 2026 menjadi istimewa karena sekaligus memperingati 50th Years Commemorative of EASE menjelang 50 tahun penyelenggaraannya. Peringatan tersebut akan berlangsung pada Sabtu (08/08/2026) melalui simposium bertema perdamaian dengan keynote speaker Koko Kondo, penyintas bom atom Hiroshima sekaligus pegiat perdamaian dunia. Kegiatan ini akan dilanjutkan dengan diskusi panel bersama Profesor Willi Toisuta, Profesor Petrus Ari Santoso, dan Profesor Yasuko Shimizu, serta penampilan Culture Sharing dari peserta EASE 2026.
Co-Leader EASE 2026, Maryanah, S.Pd., menjelaskan bahwa tema tahun ini dipilih bersama KGU dan pimpinan EASE karena terinspirasi dari EASE Anthem.
“Bagian Manifest the Dream menggambarkan harapan dan masa depan, sedangkan Our Journey mengajak UKSW dan KGU merefleksikan hampir lima dekade perjalanan EASE. Menjelang usia ke-50, kami ingin kembali menegaskan visi utama program, yaitu membangun perdamaian dunia melalui persahabatan,” jelasnya.
Menurut Maryanah, EASE tidak hanya menjadi wadah pertukaran budaya, tetapi juga membangun karakter mahasiswa melalui jejaring internasional, pemahaman lintas budaya, toleransi, kerja sama tim, kepemimpinan, serta pengalaman belajar di KGU. Melalui program ini, mahasiswa diharapkan semakin memiliki kesadaran untuk menjaga perdamaian dunia melalui persahabatan. Selama berada di Jepang, delegasi UKSW akan memperkenalkan budaya Indonesia melalui sesi Food Sharing dengan menyajikan Soto Lamongan, bakwan sayur, perkedel, kue cubit, dan es gula asam. Pada sesi Culture Sharing, mereka juga akan menampilkan fashion show busana adat Nusantara, fragmen Pelog karya Jaya Suprana, lagu Pemuda, Tari Tabola Bale, serta Tari Gemu Fa Mi Re (Maumere).
EASE tidak sekadar menjadi program pertukaran budaya antara Indonesia dan Jepang. Selama hampir lima dekade, program ini telah berkembang menjadi keluarga besar lintas institusi dan negara yang mengusung misi perdamaian dunia. Hingga kini, EASE telah melahirkan lebih dari 1.000 alumni yang berkarya di berbagai bidang dan negara, sekaligus menjadi jejaring persahabatan yang terus memperkuat kolaborasi lintas budaya.
Adapun 15 mahasiswa UKSW yang mengikuti EASE 2026 berasal dari berbagai fakultas, yaitu Feyti Cheli Kodoatie dan Sharlen Gavriella Mait dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi (FISKOM); Jocelyn Tjiam Pamular Tjiamudjojo, Angelika Lovelyn Susanto, Agape Enggaringtyas Ananta, Varrelina Chrisanty Setiawan, dan Daniella Keiko Nugroho dari Fakultas Bahasa dan Seni (FBS); Matthew Mahatmaheswara Sudargo dan Christopher Dionisius Utomo dari Fakultas Teknik Elektronika dan Komputer (FTEK); Rafael Paulus Ardhito Sihaloho, I Made Rai Occulia Ebenezer Putra Hartawan, Jerry Setiawan, Dionysius Juan Chandra, dan Karenza Sharon Aribawana dari Fakultas Teknologi Informasi (FTI); serta Kenneth Punuh dari Fakultas Teologi.
Program ini turut mendukung Asta Cita poin 4 tentang pengembangan sumber daya manusia dan poin 7 mengenai penguatan jejaring, kolaborasi, serta kontribusi bagi masyarakat. Selain itu, EASE 2026 juga berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) ke-4 yaitu Pendidikan Berkualitas, ke-9 yaitu Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, ke-16 yaitu Perdamaian, Keadilan dan Kelembagaan yang Tangguh, serta ke-17 yaitu Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak 1956 dengan 15 fakultas dan 65 program studi dari jenjang D3 hingga S3, serta memiliki 36 program studi terakreditasi Unggul dan A. Berlokasi di Salatiga, UKSW dikenal sebagai Kampus Indonesia Mini yang merepresentasikan keberagaman mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia, sekaligus mengusung semangat Creative Minority sebagai agen perubahan dan inspirasi bagi masyarakat.(Arl_TimKomblik/foto:Itn)
