Center for the Study of Religion and Christian-Muslim Relations (CSR-CMR), Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), resmi membuka program Distinguished Speaker Series melalui public lecture bertajuk “The Challenges and Prospects for Christian-Muslim Studies in Higher Education”, Senin (10/8/2026). Menghadirkan Profesor Robert W. Hefner, President American Institute for Indonesian Studies & Professor of Anthropology and Global Affairs, Boston University, kegiatan ini menjadi langkah awal UKSW dalam memperluas pengembangan kajian Kristen-Muslim di lingkungan pendidikan tinggi.
Bertempat di Ruang Diplomasi, UKSW, kegiatan tersebut mempertemukan civitas academica dengan akademisi yang memiliki pengalaman panjang dalam kajian Islam, Kristen, politik, dan masyarakat Indonesia. Kehadiran Profesor Hefner sekaligus membuka ruang pertukaran pengetahuan dan perspektif mengenai tantangan serta prospek Christian-Muslim Studies di tengah masyarakat yang semakin plural.
Chairman CSR-CMR UKSW, Sumanto Al Qurtuby, M.Si., M.A., Ph.D., mengatakan pemilihan tema tersebut didasarkan pada masih terbatasnya pengembangan kajian Kristen-Muslim di lingkungan pendidikan tinggi. Menurutnya, kajian tersebut penting untuk dikembangkan tidak hanya di UKSW, tetapi juga dapat memberikan pengaruh lebih luas bagi perguruan tinggi lainnya.
“Tema ini belum banyak dikembangkan, tetapi sebenarnya penting. Harapannya, studi Kristen-Muslim ini tidak hanya berkembang di UKSW, tetapi juga dapat memberikan pengaruh di kawasan lain,” ujar Sumanto.
Ia menjelaskan, CSR-CMR tengah mendorong Christian-Muslim Studies menjadi bagian integral dari pengembangan akademik di UKSW. Kehadiran CSR CMR ini diharapkan dapat menjadi salah satu pionir dalam pengembangan bidang kajian tersebut sekaligus mendorong perguruan tinggi lain untuk mengembangkan kajian serupa.
“Memang belum banyak yang mengembangkan. Di Amerika Serikat saja baru ada sekitar dua atau tiga studi Kristen-Muslim di higher education,” jelasnya.
Membuka Ruang Pertukaran Akademik
Melalui Distinguished Speaker Series, CSR-CMR tidak hanya berfokus pada akademisi, tetapi juga membuka kesempatan untuk menghadirkan policy makers, peneliti, diplomat, aktivis, maupun tokoh dari berbagai profesi yang memiliki kontribusi dalam isu-isu terkait.
Sumanto menyampaikan bahwa program tersebut akan terus dilanjutkan dengan menghadirkan pembicara lain dan topik yang berbeda. Kegiatan selanjutnya juga dirancang untuk melibatkan mahasiswa dan dosen sehingga ruang pertukaran gagasan tidak berhenti pada satu kegiatan.
“Dalam bentuk public lecture, tetapi topiknya akan berbeda-beda. Mahasiswa dan dosen juga akan dilibatkan,” ungkapnya.
Dalam kuliah perdana tersebut, Profesor Hefner menyoroti pentingnya pengembangan kajian Islam dan Kristen di perguruan tinggi sebagai bagian dari upaya memahami masyarakat plural. Ia juga menilai pengalaman Indonesia dalam menghadapi keberagaman agama dapat menjadi pembelajaran bagi negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat.
Profesor Hefner memandang kajian Islam dan Kristen saat ini memiliki relevansi yang lebih luas, tidak hanya dalam bidang akademik, tetapi juga berkaitan dengan diplomasi, pemerintahan, dan hubungan internasional.

UKSW Buka Peluang Kolaborasi Internasional
Dukungan terhadap pengembangan program ini juga disampaikan oleh perwakilan UKSW, Yustinus Calvin Gai Mali, S.Pd., M.Hum., Ph.D., Direktur Direktorat Pembelajaran dan Pengajaran (DAR) yang menyambut kehadiran Profesor Hefner sebagai distinguished guest speaker. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen UKSW untuk menghadirkan ruang akademik yang memungkinkan berbagai pihak untuk belajar, berbagi perspektif, dan berdialog tanpa dibatasi latar belakang agama maupun budaya.
“Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen kampus sebagai ruang yang aman bagi setiap orang untuk datang, belajar, berbagi perspektif, dan didengar dalam diskusi akademik, terlepas dari latar belakang agama maupun budaya,” ujarnya.
Lebih lanjut, UKSW juga membuka peluang pengembangan kolaborasi dengan Profesor Hefner, institusi yang terkait dengannya, maupun Boston University. Dengan 15 fakultas yang dimiliki UKSW, peluang kerja sama dapat dikembangkan dalam berbagai bidang akademik yang relevan.
Selain menjadi pembicara perdana, Profesor Hefner juga merupakan salah satu anggota penasihat CSR-CMR UKSW. Keterlibatannya menjadi bagian dari penguatan jejaring akademik internasional yang dikembangkan.

Terbuka untuk Masyarakat
Public lecture ini tidak hanya diikuti oleh civitas academica UKSW, tetapi juga terbuka bagi peserta dari masyarakat umum. Salah satunya Abel Jatayu dari Telusur Kota, Salatiga, yang mengapresiasi kesempatan untuk mengikuti kegiatan tersebut.
Menurut Abel, kegiatan ini memberikan perspektif baru mengenai cara memahami persoalan masyarakat melalui sudut pandang seorang peneliti.
“Ini surprise banget, kami yang dari luar, bukan dari universitas bisa ikut masuk ke kuliah umum ini. Dan banyak insight yang kami dapatkan, salah satunya bagaimana memahami masyarakat dari sisi peneliti seperti Profesor Robert yang juga concern penelitiannya Islam, politik dan Indonesia,” ujar Abel.
Ia menilai wawasan yang diperoleh dapat membantu masyarakat mengurai persoalan yang muncul di lingkungan sosial sekaligus melihat peluang untuk ikut terlibat dalam menjawab persoalan tersebut.
Melalui pembukaan Distinguished Speaker Series, CSR-CMR UKSW menegaskan langkah awalnya dalam membangun ruang dialog dan pengembangan kajian Kristen-Muslim di pendidikan tinggi. Program ini selanjutnya akan menghadirkan berbagai tokoh dengan topik yang beragam, melibatkan civitas academica, serta membuka peluang kolaborasi lintas institusi untuk memperluas pengembangan Religious Studies di UKSW.
Kegiatan ini menjadi wujud komitmen UKSW dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG ke-4 tentang pendidikan berkualitas melalui pengembangan kajian Christian-Muslim Studies, pertukaran pengetahuan, serta pembelajaran lintas agama dan budaya di lingkungan pendidikan tinggi. Kegiatan ini juga selaras dengan SDG ke-16 tentang perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang tangguh, melalui penguatan dialog yang inklusif serta ruang akademik yang terbuka bagi berbagai latar belakang agama dan budaya.
Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak 1956 dengan 15 fakultas dan 64 program studi di jenjang D3 hingga S3, dengan 36 Prodi Unggul dan A. Terletak di Salatiga, UKSW dikenal dengan julukan Kampus Indonesia Mini, mencerminkan keragaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah. Selain itu, UKSW juga dikenal sebagai “Creative Minority” yang berperan sebagai agen perubahan dan inspirasi bagi masyarakat. (SEL_TimKomblik/foto:DivpromKomblik)