UKSW Perkuat Pengembangan SDM Raja Ampat melalui Pendidikan dan Kemitraan Berdampak

Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) menerima mahasiswa baru asal Kabupaten Raja Ampat melalui kerja sama pendidikan dengan Pemerintah Kabupaten Raja Ampat. Sebanyak 89 mahasiswa secara resmi diserahkan oleh Nixon Miosido, S.Pd., Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Raja Ampat kepada UKSW dalam sebuah acara yang dihadiri Rektor UKSW Profesor Intiyas Utami, serta Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Kealumnian (WR KK) Profesor Yafet Yosafet Wilben Rissy.

Dalam sambutannya, Rektor UKSW menyampaikan selamat datang kepada para mahasiswa Raja Ampat sebagai bagian dari keluarga besar Kampus Indonesia Mini, UKSW. Menurutnya, keberagaman mahasiswa dari berbagai daerah menjadi kekuatan UKSW untuk membentuk generasi creative minority, yakni pribadi yang unggul, berdampak, dan mampu menjadi pemimpin di bidangnya masing-masing. 

“Teman-teman di sini akan belajar bersama dan disebut sebagai creative minority, manusia-manusia berdampak, manusia-manusia unggul, pemimpin yang bisa membuat perubahan di bidang masing-masing,” ungkapnya.

Rektor Intiyas juga menegaskan bahwa UKSW memiliki mandat dari para pendiri untuk turut membina dan membantu daerah-daerah di kawasan Indonesia Timur. Salah satunya diwujudkan dengan kemitraan UKSW dan Pemerintah Kabupaten Raja Ampat yang diarahkan pada penguatan sistem pendidikan di daerah. UKSW bersama Raja Ampat tengah mengembangkan sistem smart school sebagai proyek percontohan yang diharapkan dapat menjadi model untuk dikembangkan di kabupaten lain di Papua.

Dari sisi pengembangan kapasitas mahasiswa, kerja sama UKSW dengan Pemerintah Kabupaten Raja Ampat tidak hanya berfokus pada penerimaan mahasiswa secara administratif saja. Berdasarkan data Direktorat Penjaringan Beasiswa dan CSR (DPB) UKSW yang disampaikan melalui Direktur DPB Maya Rahadian Septiningtyas, S.Pd., M.A., terdapat 93 putra-putri Raja Ampat yang menempuh pendidikan di UKSW pada 2026. Jumlah tersebut terdiri atas 85 mahasiswa baru hasil penjaringan kerja sama tahun 2026 dan delapan mahasiswa yang sebelumnya mengikuti Pre-University Course (PCU) sejak 2025 sebagai persiapan masuk Fakultas Kedokteran.

UKSW Perkuat Pengembangan SDM Raja Ampat melalui Pendidikan dan Kemitraan Berdampak

Para mahasiswa tersebut tersebar di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Fakultas Teknologi Informasi (FTI), Fakultas Hukum (FH), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi (FISKOM), Fakultas Psikologi (FPsi), Fakultas Kedokteran (FK), dan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK). Selain itu, sebanyak 11 mahasiswa tercatat menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran. Fokus pada bidang kesehatan ini sejalan dengan upaya Pemerintah Kabupaten Raja Ampat dalam memperkuat sumber daya manusia untuk mendukung kebutuhan daerah.

Melalui program Beasiswa Utusan Daerah Kabupaten Raja Ampat, mahasiswa memperoleh beasiswa penuh. UKSW turut memberikan pendampingan akademik dan non akademik melalui pelatihan soft skill, komputer, bahasa Inggris, serta pendampingan pribadi. Monitoring dan evaluasi akademik dilakukan setiap akhir semester untuk memantau kehadiran, perkembangan studi, dan performa akademik mahasiswa.

Pendampingan tersebut telah dimulai melalui program PCU pada 2025–2026. Program ini menjadi bagian dari persiapan calon mahasiswa asal Raja Ampat untuk mengikuti seleksi Fakultas Kedokteran. Dari sembilan calon mahasiswa yang mendapatkan pendampingan intensif melalui PCU, tujuh diantaranya dinyatakan lolos seleksi Fakultas Kedokteran dan kini resmi menjadi mahasiswa Kedokteran UKSW.

UKSW Perkuat Pengembangan SDM Raja Ampat melalui Pendidikan dan Kemitraan Berdampak

Komitmen untuk kembali berkontribusi bagi daerah juga menjadi harapan para mahasiswa. Intidar Alqadry, mahasiswa Fakultas Kedokteran asal Raja Ampat, berharap dapat menyelesaikan studi dengan baik dan kembali melayani masyarakat, terutama mereka yang masih memiliki keterbatasan dalam mengakses fasilitas kesehatan.

Harapan serupa disampaikan Caecilia Dulcemarie Kristin Moe, mahasiswa Fakultas Kedokteran asal Raja Ampat. Setelah menyelesaikan pendidikan, ia bercita-cita membangun klinik dengan biaya yang terjangkau bagi masyarakat yang membutuhkan. “Ketika kembali ke daerah asal, saya ingin membangun sebuah klinik,” ungkapnya.

Dalam skema kerja sama ini, Pemerintah Kabupaten Raja Ampat menitipkan para mahasiswa agar memanfaatkan kesempatan pendidikan dengan sebaik-baiknya. Mahasiswa non-Kedokteran ditargetkan mencapai IPK minimal 2,75, sedangkan mahasiswa Kedokteran minimal 3,00. Masa studi juga ditargetkan selesai dalam empat tahun bagi mahasiswa non-Kedokteran dan maksimal lima tahun bagi mahasiswa Kedokteran.

Melalui kemitraan tersebut, UKSW berharap kebermanfaatan kerja sama tidak berhenti pada penerimaan mahasiswa dan pemberian beasiswa, tetapi berkembang menjadi kolaborasi yang memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas pendidikan, kesiapan generasi muda, dan pengembangan sumber daya manusia Kabupaten Raja Ampat.

Upaya tersebut sejalan dengan kontribusi UKSW terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs ke-4 yaitu pendidikan berkualitas dan SDGs ke-17 yaitu kemitraan untuk mencapai tujuan. Inisiatif ini juga mendukung Diktisaintek Berdampak, khususnya Asta Cita 4 melalui penguatan sumber daya manusia, sains, teknologi, dan pendidikan.

Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak 1956 dengan 15 fakultas dan 65 program studi di jenjang D3 hingga S3 dengan 36 prodi terakreditasi Unggul dan A. Terletak di Salatiga, UKSW dikenal dengan julukan Kampus Indonesia Mini, mencerminkan keragaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah. Selain itu, UKSW juga dikenal sebagai “Creative Minority” yang berperan sebagai agen perubahan dan inspirasi bagi masyarakat. Salam Satu Hati UKSW! (Arl_TimKomblik/foto:Divpromkomblik)

Bagikan:
Facebook
Share
WhatsApp
PHP Code Snippets Powered By : XYZScripts.com