Harmoni dalam Keberagaman, UKSW dan SMM Yogyakarta Bertemu di Panggung Musik

Dari alunan musik klasik hingga aransemen komposisi musik yang lekat dengan identitas budaya, musik menjadi bahasa yang mempertemukan siswa dan mahasiswa dalam satu panggung. Suasana tersebut hadir di Balairung Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), belum lama ini,  ketika mahasiswa Program Studi Seni Musik UKSW berkolaborasi dengan siswa Sekolah Menengah Musik (SMM) Yogyakarta. Acara bertajuk Tour Concert 2026 Pertunjukan Kolaborasi dan SMM Yogyakarta (SMKN2 Kasihan Bantul) dan Program Studi (Prodi) Seni Musik UKSW ini sukses menyedot perhatian ratusan penonton.

Berlangsung selama dua jam, pertunjukan ini melibatkan 170 siswa SMM Yogyakarta dan 31 mahasiswa UKSW. Sebanyak 13 aransemen komposisi musik dibawakan dengan format pertunjukan yang beragam, mulai dari orkestra dan paduan suara hingga ansambel gitar. Kolaborasi tersebut menghadirkan pengalaman musikal sekaligus ruang belajar bersama bagi para peserta dari dua institusi pendidikan.

Aransemen komposisi music yang dibawakan mencakup La donna è mobile, karya yang dikenal dalam tradisi opera, serta komposisi lain seperti Die verkaufte Braut dan Il Trovatore. Pertunjukan juga menghadirkan lagu Indonesia, antara lain “Wanita”, “To Be One”, dan “Cinta Indonesia”.

Menjelang akhir konser, “Koyo Jogja Istimewa” menjadi aransemen komposisi musik penutup yang menghubungkan pertunjukan dengan identitas budaya Yogyakarta. Perpaduan karya klasik dan aransemen komposisi musik yang dekat dengan keseharian masyarakat menunjukkan bahwa musik orkestra dapat menjadi medium untuk mempertemukan tradisi musikal dengan beragam ekspresi. Melalui pendekatan tersebut, pertunjukan tidak hanya menampilkan keterampilan teknis para pemain, tetapi juga memperluas cara penonton menikmati musik.

Di balik penampilan yang tersaji, terdapat proses persiapan yang panjang. Para pemain tidak hanya dituntut menguasai bagian musik masing-masing, tetapi juga membangun keselarasan dalam sebuah pertunjukan bersama. Musik, dalam hal ini, menjadi ruang untuk mengembangkan keterampilan, kedisiplinan, dan kemampuan bekerja sama.

Merangkai Musik, Mempertemukan Pengalaman


Kepala Program Studi Seni Musik Dr. Rachel Mediana Untung, S.Sos., M.A., menyatakan bahwa pertunjukan ini menjadi kesempatan pertama untuk menerima kunjungan siswa SMM Yogyakarta dalam format konser kolaboratif di kampus.

“Sebelumnya, dosen kami juga beberapa kali diminta datang ke Yogyakarta untuk menjadi penguji kompetensi atau menguji siswa di sana. Namun, baru kali ini para siswa SMM datang langsung ke UKSW untuk mengikuti kegiatan seperti ini,” ungkapnya.

Rachel Mediana berharap melalui kolaborasi ini tidak hanya menjadi kesempatan bagi Prodi Seni Musik UKSW untuk menerima kunjungan siswa SMM, tetapi juga untuk memberdayakan potensi yang dimiliki oleh mahasiswa.

Gagasan kegiatan berawal dari komunikasi antar kedua institusi yang kemudian berkembang melalui proses perencanaan sejak akhir 2025 hingga pelaksanaannya pada Oktober 2026.

Persiapan pertunjukan melibatkan sekitar 31 mahasiswa Prodi Seni Musik UKSW yang menjalani latihan sejak awal semester melalui mata kuliah Topik Khusus. Sebelum terlibat, mahasiswa melalui proses kurasi berdasarkan kemampuan musikal, kemudian berlatih dengan pendampingan dosen. Mereka juga mendapat kesempatan mengembangkan karya dan aransemen musik yang ditampilkan dalam konser.

Dari pihak SMM Yogyakarta, pertunjukan ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) siswa kelas XII setelah menjalani pengalaman belajar di industri. Pimpinan Produksi dari SMM Yogyakarta, Utari Isfandini, menjelaskan bahwa konser di luar Yogyakarta menjadi kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan pengalaman pertunjukan sekaligus memperluas wawasan bermusik.

Kepala sekolah SMM Yogyakarta turut menyampaikan apresiasi atas sambutan dan dukungan UKSW. Menurutnya, kesempatan tampil bersama mahasiswa menjadi pengalaman berharga bagi para siswa yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Sebagian siswa bahkan baru mengenal instrumen yang mereka mainkan ketika mulai menempuh pendidikan di SMM Yogyakarta. Melalui proses belajar dan latihan, mereka kemudian berkembang hingga memperoleh kesempatan tampil dalam konser kolaboratif ini.

Harmoni dalam Keberagaman, UKSW dan SMM Yogyakarta Bertemu di Panggung Musik

Keberagaman Musik

Salah satu hal yang menonjol dalam pertunjukan malam itu adalah keberagaman repertoar. Meskipun memiliki dasar pendidikan musik klasik, SMM Yogyakarta menghadirkan karya dari beragam genre, mulai dari musik klasik dan semi klasik hingga pop dan dangdut yang dikemas dalam format orkestra.

Utari menjelaskan bahwa pemilihan lagu mempertimbangkan kemampuan para siswa sekaligus pengalaman yang ingin disampaikan kepada penonton.

“Kami ingin tetap menyajikan musik klasik, tetapi dengan cara yang tidak membosankan. Tantangannya adalah bagaimana menyajikan berbagai genre musik kepada masyarakat agar semuanya tetap bisa dinikmati,” ungkap Utari.

Belajar Bersama di Balik Panggung

Bagi Cheryl Alycia Ruhulessin, siswa kelas XII SMM Yogyakarta yang terlibat dalam konser, proses menuju panggung menjadi bagian penting dari pengalaman kolaborasi. Ia mulai berlatih sejak awal Agustus, kemudian menjalani latihan yang semakin intensif menjelang pelaksanaan konser. Selain berlatih bersama rekan-rekan SMM Yogyakarta, ia juga berkesempatan berlatih bersama mahasiswa UKSW sehari sebelum keberangkatan ke Salatiga.

Cheryl menilai setiap lagu memiliki tantangan tersendiri, terutama dalam memainkan instrumen. Meski demikian, berlatih bersama dan bertemu dengan mahasiswa UKSW menjadi pengalaman menyenangkan yang memperkaya proses belajarnya.

Pengalaman serupa dirasakan Jesnia Madalena Gomes Ximenes, mahasiswa Seni Musik UKSW asal Timor Leste. Ia mengaku telah mempersiapkan diri selama sekitar satu setengah bulan untuk penampilan tersebut. Kolaborasi dengan SMM Yogyakarta juga menjadi pengalaman pertamanya tampil bernyanyi di hadapan banyak orang dengan iringan orkestra.

Harmoni dalam Keberagaman, UKSW dan SMM Yogyakarta Bertemu di Panggung Musik

“Kolaborasi dengan SMM Jogja itu menjadi pengalaman pertama saya sendiri. Jadi saya merasa senang dan gugup juga karena pertama kali nyanyi di depan banyak orang, diiringi dengan orkestra itu menjadi momen yang sangat spesial bagi saya,” ungkap Jesnia.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kolaborasi seni tidak berhenti pada hasil akhir di atas panggung. Ada proses saling mengenal, menyesuaikan permainan, dan belajar memahami orang lain yang berlangsung di balik pertunjukan. Bagi siswa dan mahasiswa, pengalaman tersebut menjadi bagian dari pembelajaran yang tidak hanya mengasah kemampuan bermusik, tetapi juga membangun relasi.

Apresiasi serupa hadir dari penonton yang menikmati keberagaman karya dalam konser tersebut. Sharon Tidore penonton asal Jayapura mengungkapkan bahwa La donna è mobile menjadi karya yang paling berkesan karena mengingatkannya pada awal ketertarikan terhadap musik klasik. Ia juga mengapresiasi lagu “Wanita” karya Ismail Marzuki, yang menurutnya memperlihatkan daya tarik komposisi musik Indonesia.

Bagi UKSW dan SMM Yogyakarta, kolaborasi ini sekaligus membuka peluang untuk mempererat hubungan antara pendidikan musik tingkat menengah dan perguruan tinggi. Pada akhirnya, harmoni yang tercipta di Balairung UKSW malam itu tidak hanya berasal dari perpaduan suara dan instrumen. Harmoni juga tumbuh melalui proses belajar, kerja sama, dan perjumpaan antar peserta yang datang dengan pengalaman berbeda. Melalui musik, siswa dan mahasiswa menemukan ruang untuk berkembang bersama sekaligus membangun hubungan yang melampaui batas institusi pendidikan.

Upaya ini turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs ke-4 yaitu pendidikan berkualitas melalui pengembangan pendidikan dan kompetensi di bidang seni serta SDGs ke-17 yaitu kemitraan untuk mencapai tujuan melalui kolaborasi antar instansi.

Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak 1956 dengan 15 fakultas dan 65 program studi di jenjang D3 hingga S3, dengan 36 Prodi Unggul dan A. Terletak di Salatiga, UKSW dikenal dengan julukan Kampus Indonesia Mini, mencerminkan keragaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah. Selain itu, UKSW juga dikenal sebagai “Creative Minority” yang berperan sebagai agen perubahan dan inspirasi bagi masyarakat. (Sel_TimKomblik/foto:DivpromKomblik)

Bagikan:
Facebook
Share
WhatsApp
PHP Code Snippets Powered By : XYZScripts.com