Angkat Model Polmas Multikultural Kepulauan, Perwira Polri Dr. Makudali Kamahati Lattu Resmi Raih Gelar Doktor Studi Pembangunan UKSW

Perwira Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), Dr. Makudali Kamahati Lattu, S.I.K., M.A., resmi meraih gelar Doktor dari Program Studi Doktor Studi Pembangunan Fakultas Interdisiplin (FID) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW). Gelar tersebut diraih usai berhasil mempertahankan disertasinya dalam prosesi yudisium dengan predikat Sangat Memuaskan, Rabu (14/10.2026) di Ruang Probowinoto.

Dalam studi doktoralnya, Dr. Max Lattu mempertahankan disertasi berjudul “Implementasi Kebijakan Perpolisian Masyarakat dalam Perspektif Manajemen Publik sebagai Manifestasi Good Governance pada Polres Kepulauan (Studi pada Polres Kepulauan Sitaro, Polda Sulawesi Utara)”.

Di bawah bimbingan Promotor Profesor Dr. Gatot Sasongko, S.E., M.S., dan Ko-Promotor Dr. Royke R. Siahainenia, M.Si., serta diuji oleh Yesaya Sandang, S.H., HUM.AN.GEO., Ph.D., dan Profesor Daniel D. Kameo, S.E., M.A., Ph.D., Dr. Max Lattu menghadirkan gagasan inovatif mengenai transformasi kepolisian berbasis kearifan lokal.

Gagas Model Polmas Multikultural Ala Sitaro

Disertasi ini berakar dari pemahaman bahwa keamanan dan ketertiban masyarakat merupakan prasyarat penting terwujudnya pembangunan dan harmonisasi sosial. Menjawab tantangan geografis wilayah kepulauan yang terfragmentasi, seperti Polres Kepulauan Sitaro yang mencakup 42 pulau, Dr. Max Lattu menawarkan gagasan Model Perpolisian Masyarakat (Polmas) Multikultural.

Riset ini mengintegrasikan tiga landasan perspektif: New Public Management (efisiensi dan peningkatan kualitas pelayanan publik), Good Governance (kemitraan antara kepolisian, pemda, tokoh agama, dan masyarakat), serta penyesuaian konteks geografis-budaya lokal.

Melalui model ini, masyarakat tidak lagi ditempatkan sekadar sebagai penerima pelayanan, tetapi sebagai mitra strategis pemeliharaan keamanan.

Ko-Promotor Dr. Royke R. Siahainenia menegaskan bahwa riset ini menemukan titik temu antara polisi, masyarakat, dan tokoh lokal untuk merumuskan ulang peran operasional kepolisian. Sementara itu, Promotor Profesor Dr. Gatot Sasongko mengapresiasi keberhasilan Dr. Max Lattu merumuskan model Polmas multikultural khas Sitaro yang adaptif dan inklusif.

Angkat Model Polmas Multikultural Kepulauan, Perwira Polri Dr. Makudali Kamahati Lattu Resmi Raih Gelar Doktor Studi Pembangunan UKSW

Prosesi Yudisium yang Khidmat dan Humanis

Suasana haru dan khidmat mewarnai prosesi yudisium saat promovendus dipanggil memasuki ruangan, dilanjutkan dengan pembacaan SK Yudisium, pemindahan kuncir, serta penyematan selendang doktor. Turut hadir mendampingi di samping Dr. Max Lattu, pihak keluarga yang diwakili oleh Irjen. Pol. (Purn.) Drs. Bambang Waskito.

Dalam pesan akademisnya, Profesor Dr. Gatot Sasongko memberikan nasihat mendalam bagi promovendus. “Jangan jadi pohon pisang yang setelah sekali berbuah lalu layu. Jadilah seperti pohon keras yang terus menghasilkan buah lebat dan bermakna bagi masa depan. Gelar ini bukan akhir, melainkan awal sumbang gagas bagi Polri dan masyarakat luas,” tutur Profesor Gatot.

Mewakili keluarga, Irjen. Pol. (Purn.) Drs. Bambang Waskito menyambut bangga capaian tersebut. Menurutnya, Polmas merupakan core business kepolisian untuk menyelesaikan akar permasalahan di tingkat masyarakat secara preventif. Beliau juga berpesan agar insan kepolisian tidak pernah berhenti menuntut ilmu demi meningkatkan kepercayaan publik.

Kontribusi bagi Pembangunan dan Kelembagaan

Wakil Dekan FID UKSW, Titi Susilowati Prabawa, S.Pd., M.A., Ph.D., menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas kelulusan Dr. Max Lattu. “Isu keamanan sangat strategis dan relevan agar pembangunan dapat berjalan dengan baik. Kami berharap Dr. Max Lattu dapat  membawa temuan riset ini untuk memperkuat positioning di institusi Polri serta terus mengabdi bagi kemajuan bangsa, negara, dan masyarakat global,” ungkapnya.

Capaian ini kian menegaskan komitmen UKSW dalam mencetak Creative Minority yang kepakarannya berdampak nyata bagi masyarakat, sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs ke-16 yaitu perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang tangguh dan SDGs ke-17 yaitu kemitraan untuk mencapai tujuan.

Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak tahun 1956 dan memiliki 15 fakultas dengan 65 program studi mulai jenjang Diploma hingga Doktor, serta 36 program studi terakreditasi Unggul dan A. Berlokasi di Salatiga, UKSW dikenal sebagai Kampus Indonesia Mini karena keberagaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Melalui semangat Creative Minority, UKSW terus mendorong lahirnya lulusan yang mampu menjadi agen perubahan dan menghadirkan dampak positif bagi masyarakat. (Aly/Upk_TimKomblik/foto:divpromkomblik)

Angkat Model Polmas Multikultural Kepulauan, Perwira Polri Dr. Makudali Kamahati Lattu Resmi Raih Gelar Doktor Studi Pembangunan UKSW

Bagikan:
Facebook
Share
WhatsApp
PHP Code Snippets Powered By : XYZScripts.com