Program Studi Doktor Sosiologi Agama Fakultas Teologi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) kembali melahirkan dua doktor melalui yudisium ke-50 dan ke-51 yang berlangsung pada Jumat (23/10/2026), di Ruang Probowinoto. Kedua lulusan, Dr. Yekhonya F. T. Timbang dan Dr. Asri Efriani Sauru, menghadirkan penelitian yang mengangkat kearifan lokal masyarakat Toraja dan Pamona sebagai dasar pengembangan model pendampingan pastoral serta konseling keadilan sosial.
Melalui disertasinya yang berjudul “Tallu Batu Lalikan: Dekolonisasi Model Pendampingan Pastoral Toraja”, Dr. Yekhonya mengkaji kembali pendekatan pendampingan pastoral konvensional yang cenderung berfokus pada individu. Ia menawarkan pendekatan yang mempertimbangkan keterhubungan individu dengan keluarga, komunitas, adat, gereja, pemerintah, dan spiritualitas lokal sebagai bagian dari proses pemulihan kehidupan bersama.
Kebaruan penelitian ini terletak pada pengembangan konsep cura communitatis, yakni pendampingan yang berorientasi pada pemulihan komunitas. Melalui filosofi “Tallu Batu Lalikan”, Dr. Yekhonya menempatkan adat yang direpresentasikan melalui tongkonan, agama melalui gereja, dan pemerintah sebagai tiga unsur penting dalam kehidupan masyarakat Toraja. Ketiganya memiliki peran yang berbeda, tetapi perlu berjalan secara seimbang untuk menjaga martabat manusia dan memulihkan relasi sosial. Pendekatan ini juga menegaskan bahwa masyarakat Toraja bukan sekadar penerima pendampingan, melainkan subjek yang memiliki pengetahuan dan kapasitas untuk memahami serta memulihkan kehidupannya sendiri.

Sementara itu, Dr. Asri Efriani melalui disertasi berjudul “Porayamata: Model Konseling Keadilan Sosial untuk Rekonstruksi Identitas dalam Masyarakat Adat Pamona” menyoroti persoalan stigma dan pengakuan sosial terhadap Ana ngkadoe, yakni anak yang lahir di luar perkawinan yang diakui menurut adat setempat di Desa Pandayora, Kabupaten Poso. Persoalan tersebut dapat mempengaruhi kedudukan seseorang dalam hubungan kekerabatan, penerimaan sosial, hingga pembentukan identitas diri.
Penelitian Dr. Asri Efriani mengkaji praktik adat “Porayamata” sebagai proses pengakuan yang berpotensi mendukung rekonstruksi identitas dan pemulihan relasi sosial. Dari kajian tersebut, ia merumuskan model konseling keadilan sosial berbasis budaya yang memperhatikan proses negosiasi stigma, perubahan posisi sosial, pengakuan publik, legitimasi komunitas, serta penerimaan identitas baru. Pendekatan ini memperluas konseling yang tidak hanya berfokus pada pemulihan psikologis individu, tetapi juga pada hubungan keluarga dan komunitas. Di sisi lain, penelitian ini menekankan pentingnya perlindungan martabat manusia, persetujuan sukarela, kerahasiaan identitas sensitif, dan konsistensi penerimaan dalam kehidupan sehari-hari.
Kedua penelitian tersebut memperlihatkan bagaimana kearifan lokal dapat menjadi landasan untuk memahami dan merespon persoalan sosial secara kontekstual. Pendekatan yang dikembangkan tidak hanya menempatkan individu sebagai pusat perhatian, tetapi juga mempertimbangkan peran relasi sosial, struktur komunitas, serta nilai-nilai budaya dalam proses pemulihan dan penerimaan.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Kealumnian (WR KK) Profesor Yafet Yosafet Wilben Rissy, menyampaikan apresiasi kepada kedua lulusan, serta berharap hasil disertasi juga tidak berhenti sebagai karya akademik, tetapi terus dikembangkan melalui publikasi dan penerbitan buku agar dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas.
“Kami berharap, setelah mencapai puncak pada hari ini, perjuangan tidak berhenti. Saudara diharapkan terus menghasilkan karya-karya nyata yang memberikan dampak,” ujarnya.
Apresiasi serupa disampaikan oleh Dekan Fakultas Teologi sekaligus Ko-Promotor, Profesor Pendeta Izak Y.M. Lattu, Ph.D., yang menilai pentingnya penelitian dengan keterkaitan kuat antara kajian akademik dan persoalan nyata di tengah masyarakat.
Turut hadir dalam rangkaian yudisium yaitu Kaprodi Doktor Sosiologi Agama, Dr. Suwarto, M.Si., Ko-Promotor, Pendeta Dr. Tony Robert Christiam Tampake, M.Si., dan Ko- Promotor, Profesor J. T. Lobby Loekmono, Ph.D., serta Dr. Yari Dwikurnaningsih, M.Pd., sebagai penguji.
Melalui yudisium doktor ke-50 dan ke-51 ini, Program Studi Doktor Sosiologi Agama UKSW menegaskan kontribusi akademiknya dalam mengembangkan pendekatan yang berakar pada konteks budaya lokal. Kedua disertasi tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya penghormatan terhadap martabat manusia dan penguatan relasi sosial dalam menjawab berbagai persoalan di masyarakat.
Penelitian ini memperkuat komitmen UKSW dalam menghasilkan riset yang tidak hanya memperkaya khazanah akademik, tetapi juga memberikan rekomendasi kebijakan bagi pembangunan yang lebih inklusif. Kajian tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs ke-3 yaitu kehidupan sehat dan sejahtera, SDGs ke-4 yaitu pendidikan berkualitas, SDGs ke-10 yaitu berkurangnya kesenjangan, SDGs ke-16 yaitu perdamaian, keadilan dan kelembagaan yang tangguh, dan SDGs ke-17 yaitu kemitraan untuk mencapai tujuan. Penelitian ini juga mendukung komitmen UKSW dalam mendukung program Diktisaintek Berdampak yang selaras dengan Asta Cita ke-4 melalui penguatan sumber daya manusia, sains, teknologi, dan pendidikan.
Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak tahun 1956 dan memiliki 15 fakultas dengan 65 program studi mulai jenjang Diploma hingga Doktor, serta 36 program studi terakreditasi Unggul dan A. Berlokasi di Salatiga, UKSW dikenal sebagai Kampus Indonesia Mini karena keberagaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Melalui semangat Creative Minority, UKSW terus mendorong lahirnya lulusan yang mampu menjadi agen perubahan dan menghadirkan dampak positif bagi masyarakat. (Arl_TimKomblik/foto:Divpromkomblik)