Dalam era digital yang melaju tanpa batas, kemampuan berpikir kritis dan etis menjadi kunci menghadapi gelombang kecerdasan buatan. Menyadari hal itu, Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi (FISKOM) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) bersama Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) menghadirkan ruang pembelajaran reflektif bertajuk “AI Ready ASEAN”, Jumat (10/10/2025).
Bertempat di Ruang E126 UKSW, kegiatan yang diikuti sedikitnya 120 mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi ini menghadirkan empat narasumber. Mereka yakni Dosen FISKOM sekaligus Koordinator Wilayah Mafindo Salatiga Budhi Widi Astuti, S.I.Kom., M.A. dan Dosen FISKOM sekaligus Trainer Mafindo Rendy Hermanto Abraham, S.I.Kom., M.I.Kom., serta Trainer Mafindo Vandiani Lidia dan Andika Renda Pribadi.
Jangan Jadi Generasi FOMO
Dalam sambutan pembuka, Budhi Widi Astuti mengajak peserta untuk menatap realitas digital dengan sikap kritis. “Kegiatan ini luar biasa karena mengingatkan kita agar tidak sekadar ikut-ikutan menggunakan AI (Artificial Intelligence-red) tanpa memahami esensinya. Jangan sampai kita menjadi generasi yang fomo (Fear of Missing Out-red) dan kehilangan daya berpikir,” tegasnya. Menurutnya, kecerdasan buatan seharusnya menjadi kawan cerdas yang memperluas daya cipta manusia, bukan menjadikannya pasif dan malas berpikir.
Nada reflektif senada disampaikan Wakil Dekan FISKOM, Sampoerno, S.Pd., M.Si., yang menegaskan bahwa AI, betapapun canggihnya, takkan mampu menggantikan keunikan manusia. “AI tidak punya rasa, sementara manusia diciptakan Imago Dei, segambar dengan Tuhan. Selama AI tidak memiliki perasaan, manusia akan tetap unggul,” tuturnya. Ia juga mengingatkan tentang etika dan bahaya penipuan digital hasil olahan AI, menegaskan pentingnya menggunakan teknologi ini untuk mendatangkan manfaat, bukan manipulasi.
Dari Dasar hingga Etika
Dalam sesi “AI Fundamental” (Dasar AI), trainer Andika Renda Pribadi menekankan pentingnya generasi muda memahami kecerdasan artifisial (KA) bukan hanya sebagai tren, tetapi sebagai bekal menghadapi masa depan. “Pakai ChatGPT atau Gemini itu awal yang bagus. Tapi kalau kamu nggak ngerti, kamu bisa jadi terlalu bergantung tanpa tahu risikonya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, banyak pekerjaan masa depan yang menuntut literasi KA, kreativitas, dan inovasi, karena teknologi ini telah menyatu dalam berbagai bidang seperti seni, musik, hingga desain. Lebih dari itu, menurutnya, pemahaman KA juga melatih kemampuan pemecahan masalah yang dibutuhkan untuk menjawab tantangan global masa kini.

Dalam sesi “AI Usage & Implementation”, Budhi Widi Astuti menguraikan bagaimana kecerdasan artifisial dapat menjadi mitra produktif generasi muda dalam belajar, riset, hingga pengembangan karier. Ia menekankan pentingnya prompt engineering, seni merangkai instruksi cerdas untuk memaksimalkan respons AI. “Prompt yang terstruktur baik menghasilkan keluaran yang efektif. Guru, dosen, atau pelatih dapat memanfaatkannya untuk merancang materi ajar, kuis, hingga penilaian dengan efisien,” ujarnya.
Sementara itu, dalam materi “AI Ethic, Privacy & Security”, Rendy Hermanto Abraham memaparkan bagaimana AI dapat dimanfaatkan untuk melawan hoaks dan misinformasi. Ia menjelaskan mekanisme kerja AI dalam verifikasi fakta melalui pemrosesan bahasa alami, pembelajaran mesin, hingga analisis citra digital secara real-time.
“Literasi AI harus diiringi kemampuan berpikir kritis yang mengevaluasi sumber, mengenali bias, dan memahami motif di balik konten yang dihasilkan AI,” ujarnya, seraya menekankan pentingnya etika dan tanggung jawab digital di era disrupsi informasi.
Menjadi Pengguna AI yang Bijak
Bagi mahasiswa peserta, seminar ini menjadi pengalaman pembelajaran yang memantik kesadaran baru. Nikolaus Satria Adi Dewanata, salah satu peserta, mengaku terinspirasi untuk menggunakan AI dengan bijak. “AI bukan lebih pintar dari manusia. Kita harus tetap berpikir dan mengambil esensi dari apa yang dihasilkan AI,” ujarnya.
Sementara itu, Triseplyn Lam Sari Zendrato menilai kegiatan ini membuka cakrawala baru tentang pentingnya etika dan privasi dalam penggunaan AI. “Saya menjadi lebih paham bahwa AI bisa membantu pembelajaran, tapi harus disertai tanggung jawab menjaga data pribadi dan nilai moral,” ungkapnya.
Melalui kolaborasi antara FISKOM UKSW dan Mafindo, kegiatan ini menegaskan komitmen UKSW yang sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 pendidikan berkualitas, SDG 9 industri, inovasi, dan infrastruktur yang menekankan pentingnya inovasi teknologi beretika untuk kemajuan masyarakat. Selain itu, kegiatan ini juga mendukung Asta Cita ke-5, yakni pembangunan manusia unggul yang berdaya saing global, serta Asta Cita ke-7, yaitu transformasi digital untuk pemerintahan dan masyarakat yang inklusif dan beretika.
Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak 1956 dengan 15 fakultas dan 65 program studi di jenjang D3 hingga S3, dengan 34 Prodi Unggul dan A. Terletak di Salatiga, UKSW dikenal dengan julukan Kampus Indonesia Mini, mencerminkan keragaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah. Selain itu, UKSW juga dikenal sebagai “Creative Minority” yang berperan sebagai agen perubahan dan inspirasi bagi masyarakat. Salam Satu Hati UKSW! (Ish_TimKomblik/foto:Ish)
