UKSW Resmi Luncurkan CSR-CMR, Tegaskan Kampus Kristen sebagai Ruang Dialog dan Perdamaian Antar Agama

Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) resmi meluncurkan Center of Excellence–Center for the Study of Religion and Christian-Muslim Relations (CSR-CMR) dalam rangkaian International Seminar and Inauguration of CSR-CMR and INSPIRE 2026, Kamis (16/04/2026), di ruang F114 UKSW.

Peluncuran CSR-CMR ini ditandai dengan penandatanganan Implementation Agreement antara Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Kementerian Agama Republik Indonesia (RI) dan CSR-CMR, serta pemotongan tumpeng sebagai simbol dimulainya kerja bersama membangun harmoni lintas agama. Momen ini sekaligus menandai peluncuran International Symposium on Peace, Integrity, and Responsiveness of Ecotheology (INSPIRE 2026) yang akan digelar di Jakarta pada 8–10 September 2026 mendatang, yang diselenggarakan melalui kerja sama antara PKUB Kementerian Agama RI dan CSR-CMR.

Kepala CSR-CMR, Dr. Sumanto Al Qurtuby, menegaskan bahwa pendirian pusat ini lahir dari kesadaran bahwa hubungan antar agama tidak selalu berjalan seharmonis yang dibayangkan. “Indonesia punya banyak agama, tetapi relasinya tidak selalu baik-baik saja. Ada ketegangan, ada konflik, ada prasangka. Karena itu center ini dibentuk untuk meminimalisir konflik dan membangun kehidupan antarumat beragama yang lebih toleran, saling menghormati, dan mampu merawat pluralitas,” ujarnya.

Ia menambahkan, justru karena UKSW adalah universitas Kristen, maka kampus ini memiliki tanggung jawab moral dan historis untuk menjadi jembatan dialog. Menurutnya, identitas Kristen UKSW tidak dibangun untuk menutup diri, melainkan menghadirkan kasih, keadilan, dan keterbukaan bagi semua. Ia juga menjelaskan bahwa lembaga ini telah menjalin kolaborasi riset dan akademik lainnya dengan berbagai institusi ternama di dalam dan di luar negeri, seperti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kementerian Agama RI, Prince Alwaleed Bin Talal Muslim-Christian Understanding (Georgetown University, USA), dan Oxford Center for Muslim-Christian Studies (Inggris).

CSR-CMR UKSW dialog antar agama
CSR-CMR UKSW dialog antar agama

Merawat Harmoni

Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Kealumnian (WR KK) UKSW Profesor Yafet Yosafet Wilben Rissy dalam sambutannya menegaskan bahwa pendirian CSR-CMR ini merupakan panggilan UKSW sebagai universitas Kristen untuk membela keadilan dan perdamaian.

“Hari ini, kita memulai sebuah era baru, yaitu era di mana UKSW berkomitmen tidak hanya memperjuangkan keadilan dan perdamaian bagi seluruh masyarakat Indonesia, tetapi juga berkontribusi bagi terciptanya hubungan global yang adil, damai, dan harmonis antara umat Kristen dan Muslim,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala PKUB Kementerian Agama RI, H. Muhammad Adib Abdushomad, Ph.D., menyebut kolaborasi ini penting karena kerukunan tidak dapat dibangun sendirian. “Dialog dan silaturahmi adalah kunci. Karena itu sinergi antara pemerintah, kampus, dan masyarakat harus terus diperkuat,” katanya.

Ia menambahkan bahwa penandatanganan IA hari ini sekaligus menandai dimulainya rangkaian INSPIRE 2026 yang akan membuka Call for Papers bagi para akademisi dan peneliti. “Nantinya kami juga akan menggelar agenda Road to Inspire, juga pemutaran film-film bertema kerukunan dalam bahasa Inggris dan Arab yang diharapkan dapat digelar di berbagai universitas,” tambahnya.

CSR-CMR UKSW dialog antar agama
CSR-CMR UKSW dialog antar agama

Dialog Menembus Batas

Selain seremoni peluncuran, kegiatan ini juga menghadirkan seminar internasional dengan berbagai narasumber. Salah satu narasumber, Rektor UKSW Periode 1983–1993 Profesor Dr. (HC) Willi Toisuta, Ph.D., sekaligus Chairman of the Advisory Board CSR-CMR, menegaskan bahwa sejak awal UKSW dibangun sebagai kampus terbuka bagi semua golongan, agama, dan budaya. “Pusat ini tidak boleh hanya bersifat akademik semata, tetapi juga harus menyentuh kebutuhan kemanusiaan, perkembangan kecerdasan buatan, peradaban, serta secara konsisten melanjutkan apa yang dibutuhkan oleh bangsa,” tandasnya.

Sementara itu, Profesor Fatimah Husein, Ph.D., dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga menyoroti kompleksitas relasi Muslim-Kristen yang tidak hanya berkaitan dengan aspek teologis, tetapi juga dipengaruhi faktor sosial, politik, dan pengalaman keseharian masyarakat. “Kami berharap Pusat Studi Agama dan Relasi Kristen-Muslim yang baru ini dapat memberikan kontribusi signifikan dalam meningkatkan pemahaman, dialog, dan keterlibatan antar umat beragama, khususnya antara umat Muslim dan Kristen,” pungkasnya.

Di sisi lain, Head of Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS) Yogyakarta Dr. Samsul Ma’arif menekankan pentingnya studi agama yang bersifat transformatif dan berpihak pada keadilan sosial. Menurutnya, kajian agama perlu dikembangkan melalui kolaborasi lintas disiplin, keterlibatan komunitas, serta sinergi dengan pembuat kebijakan dan masyarakat sipil.
Sedangkan Director of Oxford Center for Muslim-Christian Studies, Dr. Richard McCallum menyampaikan apresiasinya atas sambutan hangat UKSW serta mengucapkan selamat atas berdirinya CSR-CMR. Ia menegaskan bahwa pusat studi seperti CSR-CMR harus menjadi lebih dari sekadar ruang akademik, tetapi juga berfungsi sebagai komunitas pembelajaran yang mampu menjembatani dialog lintas agama. “Pemahaman antarumat beragama tidak bisa dibangun secara instan, tetapi melalui kesediaan untuk saling mendengar, berdialog secara terbuka, dan menghargai perbedaan,” tandasnya.

Dengan lahirnya CSR-CMR, UKSW turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs ke-4 Pendidikan Berkualitas, SDGs ke-16 Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh, serta SDGs ke-17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Sejalan dengan Asta Cita Presiden poin ke-3, kegiatan ini menjadi wujud nyata kontribusi UKSW dalam memperkuat kerukunan, toleransi, serta pembangunan sumber daya manusia Indonesia.

Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak 1956 dengan 15 fakultas dan 64 program studi di jenjang D3 hingga S3 dengan 36 prodi terakreditasi Unggul dan A. Terletak di Salatiga, UKSW dikenal dengan julukan Kampus Indonesia Mini, mencerminkan keragaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah. Selain itu, UKSW juga dikenal sebagai “Creative Minority” yang berperan sebagai agen perubahan dan inspirasi bagi masyarakat. Salam Satu Hati UKSW! (Ish_TimKomblik/foto:Ish)

Bagikan:
Facebook
Share
WhatsApp