“Kami diajak menari, tapi tidak diajak bicara.” Kalimat sederhana yang diucapkan seorang pemandu wisata lokal di Labuan Bajo menjadi titik awal lahirnya disertasi yang mengantarkan Dr. Rini Kartika Hudiono, S.Pd., M.A., meraih gelar Doktor Studi Pembangunan (DSP) dari Fakultas Interdisiplin Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW). Gelar tersebut diraih dalam Promosi dan Yudisium DSP yang berlangsung di Ruang Probowinoto UKSW, Senin (03/08/2026). Disertasi berhasil dipertahankan dengan predikat Dengan Pujian (Cum Laude) dan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 4,00.
Melalui disertasinya yang berjudul “Branding dalam Tata Kelola Destinasi: Dinamika Keterlibatan Masyarakat Lokal di Labuan Bajo”, Dr. Rini Kartika Hudiono mengungkap bahwa masyarakat lokal sering kali dilibatkan dalam pembangunan pariwisata hanya sebatas kehadiran simbolis tanpa memiliki ruang untuk memengaruhi pengambilan keputusan. Kondisi tersebut dikenal sebagai tokenisme, yakni bentuk partisipasi yang bersifat seremonial.
“Tokenisme dalam tata kelola branding Labuan Bajo tidak lahir dari keterbatasan masyarakat, melainkan dari rancangan kelembagaan yang tidak menyediakan ruang keputusan bagi mereka. Karena itu, perbaikannya bukan pada mutu kampanye, melainkan pada pembagian kuasa keputusan yang ditetapkan menurut ranah dan dijamin oleh lembaga yang permanen,” jelas Ketua Program Studi (Kaprodi) Program Studi Sarjana Terapan Destinasi Pariwisata (Despar) ini.

Penelitian ini tidak berfokus pada keberhasilan branding Labuan Bajo dalam menarik wisatawan, melainkan menelaah siapa yang menentukan identitas destinasi, bagaimana proses perumusannya berlangsung, serta sejauh mana pelaku pariwisata lokal dilibatkan dalam proses tersebut. Rekomendasi yang dihasilkan berupa usulan konseptual dan kebijakan yang disusun berdasarkan temuan empiris mengenai dinamika hubungan antaraktor dalam tata kelola destinasi.
Disertasi yang disusun dalam format kumpulan artikel ini menggunakan paradigma interpretatif konstruktivis dengan pendekatan studi kasus, etnografi, dan etnografi kritis. Penelitian dilakukan selama sembilan bulan pada 2023 dan berlanjut pada 2024 dengan melibatkan 30 pelaku pariwisata lokal, terdiri atas pengelola akomodasi, pemilik kapal, pemandu wisata, operator tur, pengelola guesthouse, serta perwakilan WWF Indonesia, Swisscontact, dan Dinas Pariwisata Manggarai Barat.
Salah satu temuan penting penelitian ini menunjukkan bahwa cara masyarakat memaknai sebuah branding destinasi tidak ditentukan oleh logika pasar semata, tetapi dibangun melalui tiga unsur utama, yakni kearifan lokal, identitas, dan pengalaman. Ketiga unsur tersebut menjadi dasar masyarakat menilai apakah identitas yang dibangun benar-benar mewakili mereka. Berdasarkan temuan tersebut, Dr. Rini Kartika Hudiono menawarkan pendekatan gabungan (combined approach) dalam tata kelola destinasi. Melalui pendekatan ini, pemerintah dan pemangku kepentingan eksternal tetap berperan dalam inisiasi, pembiayaan, dan koordinasi, namun masyarakat lokal dilibatkan sejak tahap perencanaan untuk bersama-sama menentukan identitas dan pelaksanaan branding destinasi.
Selain memberikan kontribusi konseptual terhadap kajian pembangunan dan tata kelola pariwisata, penelitian ini juga menghadirkan kontribusi empiris melalui rekonstruksi lima fase perkembangan branding Labuan Bajo, menghadirkan perspektif pelaku lokal yang selama ini jarang menjadi sumber utama penelitian, serta menawarkan prosedur yang lebih terbuka dalam mengidentifikasi representasi masyarakat lokal.
Lebih lanjut disampaikannya bahwa kasus Labuan Bajo menunjukkan bahwa ketika kearifan lokal, identitas, dan pengalaman masyarakat diabaikan, sebuah brand dapat memperoleh pengakuan pasar dan dukungan negara, tetapi tidak memperoleh keabsahan sosial di tingkat lokal.
“Karena itu menempatkan masyarakat lokat sebagai pihak yang ikut membentuk branding bukan pilihan etis semata, melainkan syarat keberlanjutan destinasi,” pungkasnya.

Dalam pidato usai sidang promosi, Dr. Rini Kartika Hudiono mengungkapkan bahwa perjalanan menempuh pendidikan doktor bukan hanya perjalanan akademik, tetapi juga perjalanan iman.
“Menempuh pendidikan doktor ternyata bukan semata perjalanan akademik, tetapi juga perjalanan iman. Saya belajar bahwa kepercayaan tidak dapat diminta, melainkan dibangun secara bertahap melalui kehadiran yang berulang dan kesediaan untuk mendengarkan,” tutur Dr Rini Kartika Hudiono yang juga menjadi anggota Majelis Akreditasi Lembaga Akreditasi Mandiri Pariwisata.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Promotor Dr. Aldi Herindra Lasso, S.Pd., M.M.Par., Ph.D. dan Profesor Dr. Gatot Sasongko, S.E., M.S., serta Ko-promotor Dr. Titi Susilowati Prabawa, S.Pd., M.A., Ph.D., yang mendampingi proses penelitian hingga penyelesaian disertasi. Juga kepada penguji yaitu Profesor Albert Kriestian Novi Adhi Nugraha, S.E., M.M., Ph.D., Profesor Daniel Daud Kameo, S.E., M.A., Ph.D., dan Profesor Dr. Diena Mutiara Lemy, A.Par., M.M., CHE. Promosi dan Yudisium DSP turut dihadiri Asesor BAN-PT sekaligus Ketua Instrumen LAMWISATA, Drs. Jacob Ganef Pah, M.T., dan Komunitas Pendidikan Tinggi Pariwisata.
Dekan FID UKSW Aldi Herindra Lasso, S.Pd., M.M.Par., Ph.D., dalam sambutannya tak lupa menyampaikan selamat atas raihan salah satu dosen di fakultas yang dipimpinnya.
“Hari ini adalah bukti bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan dan musim baru telah datang, musim di mana Bu Rini dapat memberi dampak lebih lagi ke depan. Selamat untuk pencapaian ini,” kata Dekan FID.
Penelitian ini memperkuat komitmen UKSW dalam menghasilkan riset yang tidak hanya memperkaya khazanah akademik, tetapi juga memberikan rekomendasi kebijakan bagi pembangunan yang lebih inklusif. Kajian tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG ke-11 yaitu kota dan pemukiman berkelanjutan, SDGs ke-8 yaitu pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, SDGs ke-16 yaitu perdamaian, keadilan, kelembagaan yang tangguh. Penelitian ini juga mendukung Asta Cita ke-6, yaitu membangun dari desa dan dari bawah untuk pemerataan ekonomi dan penguatan masyarakat sebagai subjek pembangunan.
Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak tahun 1956 dan memiliki 15 fakultas dengan 65 program studi mulai jenjang Diploma hingga Doktor, serta 36 program studi terakreditasi Unggul dan A. Berlokasi di Salatiga, UKSW dikenal sebagai Kampus Indonesia Mini karena keberagaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Melalui semangat Creative Minority, UKSW terus mendorong lahirnya lulusan yang mampu menjadi agen perubahan dan menghadirkan dampak positif bagi masyarakat.