Horizontal Decomposter Contraflow: Inovasi UKSW Mengolah Sampah Organik Sekaligus Menanamkan Kesadaran Lingkungan

Persoalan sampah rumah tangga, khususnya limbah makanan (food waste), menjadi salah satu tantangan lingkungan yang semakin mendesak. Berangkat dari kondisi tersebut, Dhave Dhanang Puspita, M.Si Kepala Program Studi Teknologi Pangan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) mengembangkan Horizontal Decomposter Contraflow (HDC) sebuah inovasi pengolahan sampah organik yang tidak hanya membantu mengurangi timbunan sampah, tetapi juga menjadi sarana edukasi lingkungan bagi masyarakat.

Inovasi ini bermula dari keprihatinan terhadap tingginya volume sampah makanan yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Menurut Dhanang, sebagian besar sampah rumah tangga berasal dari sisa makanan yang membutuhkan waktu cukup lama untuk terurai.

“Sekitar tahun 2023 mulai muncul permasalahan food waste. Hampir 70 persen volume sampah rumah tangga itu berasal dari makanan. Nah, sampah makanan ini akhirnya tertampung di Tempat Penampungan Sementara (TPS) lalu berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk terdekomposisi,” ujarnya.

Kondisi tersebut semakin diperparah dengan kapasitas TPA yang terbatas serta kebijakan pembatasan pembuangan sampah. Hal ini mendorong lahirnya gagasan untuk menciptakan alat pengolahan sampah yang lebih praktis dan mudah digunakan oleh masyarakat. Ide awal Horizontal Decomposter Contraflow berasal dari pembelajaran pengolahan limbah yang selama ini dipelajari di kelas dan laboratorium.

Bersama tiga mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan FIK UKSW, yaitu Agung Sendang Husin, Chelsea Valencia Efendi, dan Nathanael Marvel, tim ini melakukan pengembangan dalam berbagai prototipe, mulai dari penggunaan galon bekas hingga desain yang terus disempurnakan agar proses penguraian sampah berjalan lebih efektif. Keempatnya berperan aktif dalam seluruh tahapan pengembangan inovasi, mulai dari perancangan hingga analisis alat, yang kemudian mengantarkan mereka meraih Juara 2 pada ajang Lomba Kreativitas dan Inovasi (Krenova) Tahun 2026.

Agung berperan dalam merancang desain alat dekomposer, mulai dari konsep bentuk hingga sistem kerja yang diterapkan. Desain tersebut kemudian direalisasikan oleh Nathanael Marvel melalui proses konstruksi hingga menjadi produk fisik yang siap dipresentasikan. Sementara itu, Chelsea Valencia Efendi bertanggung jawab dalam melakukan analisis terhadap data pendukung inovasi, seperti kapasitas sampah rumah tangga yang dapat ditampung, hasil pengolahan, serta berbagai parameter lain yang berkaitan dengan efektivitas alat.

Salah satu tantangan yang ditemui adalah bagaimana memastikan sampah dapat tercampur secara merata selama proses dekomposisi. Untuk menjawab persoalan tersebut, inovator mengadopsi prinsip kerja mixer roti sebagai inspirasi sistem pengaduk pada alat.

“Kebetulan saya dari Program Studi Teknologi Pangan. Di laboratorium saya menemukan ide dari mixer roti. Kalau adonan bisa tercampur merata, kenapa sampah tidak? Akhirnya saya membuat sistem pengaduk yang bisa maju-mundur sehingga sampah lebih homogen. Yang bawah bisa ke atas, yang samping bisa masuk ke dalam,” jelasnya.

Horizontal Decomposter Contraflow UKSW

Melalui sistem pengaduk contraflow, sampah organik dapat tercampur lebih merata sehingga proses penguraian berlangsung lebih optimal. Inovasi ini juga menghasilkan berbagai produk turunan yang dapat dimanfaatkan kembali, seperti kompos, pupuk organik cair, dan eco-enzyme. Produk-produk tersebut digunakan untuk mendukung aktivitas berkebun dan kebutuhan rumah tangga sehari-hari.

Meski demikian, tujuan utama pengembangan Horizontal Decomposter Contraflow bukan sekadar mengolah sampah. Inovator menekankan pentingnya membangun kesadaran lingkungan sejak usia dini melalui pendidikan karakter.

Dampak inovasi tersebut juga dirasakan langsung oleh masyarakat. Salah satunya disampaikan oleh Fransiska Mayasari ibu rumah tanggaa yang telah memanfaatkan decomposter dalam aktivitas sehari-hari di rumah.

“Manfaat yang saya rasakan semenjak ada decomposter itu saya jadi lebih mudah memilih antara sampah organik dan non-organik. Kalau sisa makanan setelah masak langsung saya masukkan ke dekomposer, sedangkan plastik dan botol dikumpulkan terpisah,” ungkapnya.

Menurutnya, keberadaan decomposter membuat proses pengelolaan sampah rumah tangga menjadi lebih teratur. Sampah organik dapat diolah menjadi pupuk, sementara sampah non-organik yang dikumpulkan melalui program lingkungan setempat juga memiliki nilai ekonomi.

Ke depan, Horizontal Dekomposter Contraflow direncanakan untuk diterapkan dalam berbagai program pengabdian masyarakat, termasuk di wilayah Kabupaten Blora. Beberapa sekolah dan pelaku usaha rumahan juga mulai menunjukkan ketertarikan untuk mengadopsi inovasi ini sebagai solusi pengelolaan sampah yang edukatif dan berkelanjutan.

Melalui pendekatan yang menggabungkan teknologi, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat, Horizontal Decomposter Contraflow ini menghadirkan solusi yang tidak hanya membantu mengurangi timbulan sampah organik, tetapi juga menanamkan kesadaran lingkungan yang berkelanjutan.

Pengembangan inovasi ini sejalan dengan upaya mendukung Asta Cita ke-4, yaitu memperkuat pembangunan sumber daya manusia melalui pendidikan dan penguasaan ilmu pengetahuan serta teknologi. Selain itu, inovasi ini turut menjadi kontribusi nyata UKSW dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) ke-4 tentang pendidikan berkualitas, SDGs ke-11 tentang kota dan pemukiman yang berkelanjutan dan SDGs ke-12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.

Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak 1956 dengan 15 fakultas dan 65 program studi di jenjang D3 hingga S3, dengan 36 Prodi Unggul dan A. Terletak di Salatiga, UKSW dikenal dengan julukan Kampus Indonesia Mini, mencerminkan keragaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah. Selain itu, UKSW juga dikenal sebagai “Creative Minority” yang berperan sebagai agen perubahan dan inspirasi bagi masyarakat. (Chan_TimKomblik/foto:DivpromKomblik)

Bagikan:
Facebook
Share
WhatsApp