3 Inovasi FTEK dan FSM UKSW Raih 4 Penghargaan di KIWIE 2026 Korea Selatan

Tiga inovasi hasil kolaborasi mahasiswa Fakultas Teknik Elektro & Komputer (FTEK) dan Fakultas Sains & Matematika (FSM) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) berhasil meraih empat penghargaan internasional dalam Korea International Women’s Invention Exposition (KIWIE) 2026. Berlangsung di Coex The Platz, Seoul, Korea Selatan,baru-baru ini, tim Robotic Research Center (R2C) UKSW membawa pulang tiga Silver Medal dan satu Taiwan Invention Association Special Award melalui inovasi TERRA-AGRI, RECELL-AI, dan ACCLIMATE.

Capaian tersebut diraih di tengah persaingan 591 karya dari 21 negara. Ketiga inovasi menawarkan solusi berbasis Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), dan teknologi berkelanjutan untuk menjawab persoalan nyata, mulai dari ketidaktepatan penggunaan pupuk dalam pertanian, penyortiran baterai bekas, hingga tingginya risiko kematian bibit saat beradaptasi dari lingkungan laboratorium ke lingkungan alami.

TERRA-AGRI meraih Silver Medal melalui teknologi smart farming yang dikembangkan untuk membantu petani mengambil keputusan berdasarkan kondisi tanah, bukan sekadar metode trial-and-error. Sistem yang terdiri atas Agri-Wand dan Terra Core ini mampu mengukur delapan parameter tanah dan lokasi melalui GPS, kemudian mengolahnya menggunakan Edge AI untuk memberikan rekomendasi jenis tanaman dan takaran pupuk. Dengan demikian, penggunaan pupuk dapat disesuaikan dengan kebutuhan tanah dan tanaman sehingga lebih efisien. Teknologi ini juga dapat beroperasi tanpa koneksi internet.

Silver Medal kedua diraih RECELL-AI, mesin otomatis untuk menyortir dan mengklasifikasikan baterai lithium 18650. Menggunakan Computer Vision YOLOv8n dan XGBoost, sistem ini mampu mengklasifikasikan kondisi baterai dengan akurasi 87,3 persen dan waktu pemrosesan sekitar 21 detik per baterai. Hasil klasifikasi juga dilengkapi Digital Battery Passport dalam format PDF (Portable Document Format).

Sementara itu, ACCLIMATE memperoleh Silver Medal melalui sistem rak portabel pintar yang membantu proses adaptasi bibit kultur jaringan dari lingkungan in-vitro ke ex-vitro. Sistem ini memantau suhu, kelembapan, dan pencahayaan serta memanfaatkan computer vision untuk mendeteksi stres tanaman. Teknologi tersebut ditujukan untuk meningkatkan kelangsungan hidup tanaman bernilai tinggi, seperti anggrek, tanaman obat, dan kurma.

Selain tiga Silver Medal, R2C UKSW juga menerima Taiwan Invention Association Special Award sebagai penghargaan khusus atas potensi dampak dan penerapan teknologi terbarukan dari karya yang dikembangkan. Dengan demikian, tiga inovasi hasil kolaborasi FTEK dan FSM tersebut berhasil membawa pulang empat penghargaan dalam satu ajang internasional.

“Tim R2C sangat bangga dan bersyukur atas pencapaian tiga Silver Medal serta Taiwan Invention Association Special Award di ajang KIWIE 2026 melalui inovasi TERRA-AGRI, RECELL-AI, dan ACCLIMATE. Kemenangan ini menjadi pembuktian bahwa teknologi karya mahasiswa Indonesia mampu diakui dan bersaing di kancah global,” ungkap Tim R2C.

Tim R2C juga menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang telah mendukung perjalanan mereka. “Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dosen pendamping, pihak kampus, sponsor, teman-teman, dan seluruh pihak yang telah memberikan doa serta dukungan penuh. R2C JUARA!” lanjutnya.

Delegasi R2C UKSW didampingi Ir. Maria Enggar Santika, M.T., dari FTEK. Tim mahasiswa terdiri atas Carollus Tirta Putra Agni, Arfan Faris Pramatya, Faradila Octavia Nabila, dan Sheren Austrin Pararta dari FTEK, serta Putra Kaysha Qodir dari FSM.

Raihan tersebut menjadi bukti kolaborasi lintas fakultas dalam mengembangkan inovasi yang mampu bersaing di tingkat internasional sekaligus menawarkan solusi bagi kebutuhan masyarakat dan industri. Keberhasilan ini diharapkan menjadi pijakan bagi R2C UKSW untuk terus mengembangkan riset dan inovasi agar dapat diterapkan secara lebih luas.

Pengembangan inovasi tersebut juga sejalan dengan upaya UKSW mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang pendidikan berkualitas, ke-9 yaitu Industri, Inovasi dan Infrastruktur, dan SDG 17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan. Capaian ini sekaligus memperkuat komitmen UKSW dalam mendukung program Diktisaintek Berdampak yang selaras dengan Asta Cita ke-4 melalui penguatan sumber daya manusia, sains, teknologi, dan pendidikan.

Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak 1956 dengan 15 fakultas dan 65 program studi di jenjang D3 hingga S3 dengan 36 prodi terakreditasi Unggul dan A. Terletak di Salatiga, UKSW dikenal dengan julukan Kampus Indonesia Mini, mencerminkan keragaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah. Selain itu, UKSW juga dikenal sebagai “Creative Minority” yang berperan sebagai agen perubahan dan inspirasi bagi masyarakat. Salam Satu Hati UKSW! (Arl_TimKomblik/foto:Istimewa)

3 Inovasi FTEK dan FSM UKSW Raih 4 Penghargaan di KIWIE 2026 Korea Selatan

Bagikan:
Facebook
Share
WhatsApp
PHP Code Snippets Powered By : XYZScripts.com