Karya Kain Tenun Berikan Harapan, UKSW Lahirkan Inovasi yang Menyembuhkan 

Kain tenun karya inovasi Universita Kristen Satya Wacana (UKSW) berhasil menarik perhatian perhatian Staf Khusus Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Dr. Ismail Hasani, S.H., M.H., dalam acara “Teras Rektor” yang merupakan bagian dari rangkaian kegiatan tahunan “Gelar Inovasi Harmoni Nusantara (GIHN) 2025” di Balairung Universitas, Selasa (07/10/2025). 

Menurutnya, karya dari UKSW ini menggambarkan program Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Diktisaintek) Berdampak. “Saya merinding saat dikalungi kain tenun ini. Kain ini mewakili tiga aspek besar dalam program Diktisaintek Berdampak, mulai dari economic impact, social impact, dan incremental impact. Luar biasanya, karya ini memanfaatkan limbah, dikerjakan oleh para penyintas kekerasan, serta memberikan dampak ekonomi nyata. Karya ini sungguh menggambarkan esensi riset berdampak,” katanya. 

Inovasi riset berdampak ini merupakan karya batik dan tenun dari Parahita Craft UKSW. Karya yang memadukan nilai seni, riset, dan pemberdayaan ini sekaligus menjadi gerakan sosial pemulihan bagi anak korban kekerasan seksual, menegaskan makna tenun sebagai simbol kekuatan, harapan, dan kehidupan yang berkelanjutan.

Rektor UKSW Profesor Intiyas Utami juga memberikan apresiasi produk inovasi sustainable fashion in a circular economy hasil riset yang diprakarsai Dr. Ir Arianti Ina R. Hunga, M.Si. Selain mengenakan busana kain tenun tersebut, Rektor Intiyas juga memberikan selendang kain tenun kepada para rektor dan pimpinan dari universitas ternama di Indonesia sebagai bentuk penghargaan dan kebanggaan atas karya riset.

“Karya yang dihasilkan ini merupakan hasil riset yang berdampak. Perpaduan harmoni budaya tenun Sumba dengan pewarna alami ini merupakan hasil hilirisasi riset yang didukung oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi,” katanya. 

kain tenun inovasi UKSW
kain tenun inovasi UKSW

Sarana Pemulihan

Dalam kesempatan ini, Dr. Ir Arianti Ina R. Hunga juga menceritakan riset yang dilakukan di Pusat Unggulan Batik dan Tenun Indonesia UKSW ini merupakan penelitian yang mengawal seluruh proses kreatif komunitas perempuan pengrajin batik dan tenun hingga tahap hilirisasi. Baginya, pesan yang ingin disampaikan bukan sekadar membeli produk, tetapi juga membagikan cerita bermakna yang berakar pada kearifan lokal untuk memulihkan korban kekerasan seksual. 

“Kain tenun ini bukan sekadar produk, melainkan memiliki pesan kuat bahwa riset dan inovasi dapat menjadi sarana pemulihan, pemberdayaan, dan penggerak ekonomi yang berkelanjutan. Tentunya ini sejalan dengan semangat UKSW sebagai kampus yang terus memberi dampak,” tuturnya. 

Konsep produk yang dikembangkan adalah ready to wear, di mana satu produk dapat digunakan hingga empat kali dalam berbagai gaya. Berbagai produk yang dihasilkan yaitu pakaian, outer, ikat pinggang, anting, hingga gelang. 

“Semua aksesori tersebut bisa dibuat dari bahan limbah, seperti sisa benang. Inilah konsep ekonomi sirkular yang kami terapkan, mengubah sisa menjadi sesuatu yang bernilai, sekaligus membawa makna dari setiap serat yang digunakan,” bebernya.

Dr. Ir Arianti Ina berharap generasi muda juga turut mengkampanyekan gerakan ini serta mengambil bagian dalam isu-isu penting seperti keadilan lingkungan, pelestarian budaya, dan upaya menghentikan kekerasan. 

Tak hanya itu, UKSW melalui Parahita Craft juga menunjukan perannya sebagai kampus yang berdampak dikancang internasional melalui partisipasinya dalam ajang pameran kerajinan terbesar di Asia Tenggara “The Jakarta International Handicraft Trade Fair (INACRAFT) 2025”, belum lama ini. Dalam acara yang diprakarsai oleh Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) bersama Mediatama Event tersebut, Parahita Craft sukses memamerkan berbagai produk hasil kolaborasi riset, inovasi, dan pemberdayaan masyarakat. 

Kegiatan ini merupakan salah satu kontribusi nyata UKSW untuk mendukung program Diktisaintek Berdampak yang selaras dengan Asta Cita 4 memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM), sains, teknologi, dan pendidikan. Acara ini juga menegaskan kiprah UKSW dalam mendukung pencapaian SDGs, ke-4 pendidikan berkualitas, ke-5 kesetaraan gender, ke-8 pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, serta ke-17 kemitraan untuk mencapai tujuan. 

Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak 1956 dengan 15 fakultas dan 65 program studi di jenjang D3 hingga S3, dengan 34 Prodi Unggul dan A. Terletak di Salatiga, UKSW dikenal dengan julukan Kampus Indonesia Mini, mencerminkan keragaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah. Selain itu, UKSW juga dikenal sebagai “Creative Minority” yang berperan sebagai agen perubahan dan inspirasi bagi masyarakat.Salam Satu Hati UKSW! (Wiw_TimKomblik/foto:Hes,Des)

Bagikan:
Facebook
Share
WhatsApp