Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) bekerja sama dengan Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) menggelar Seminar Nasional bertema “Memperkuat Basis Gerakan Mahasiswa Kristen yang Berdampak dan Kontributif dalam Pengembangan SDM Indonesia” di Auditorium Fakultas Teknologi Informasi (FTI) UKSW, pada Sabtu (07/02/2026). Acara ini menjadi wadah diskusi strategis bagi mahasiswa Kristen untuk merumuskan solusi konkret dalam membangun sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas.
Seminar dipandu moderator Simon Batmomolin, Sekretaris Fungsi Ekonomi Kreatif Pengurus Pusat GMKI, menghadirkan tiga narasumber yaitu Profesor Intiyas Utami, Rektor UKSW; Profesor Peter Verhezen, Profesor Geopolitik dan Sejarah Filsafat Global, University of Antwerp Belgia, serta Johan Hadiyanto, M.Si., Kepala Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia Bappeda Jawa Tengah, yang mewakili Profesor Dr. Fauzan, M.Pd., Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Ratusan peserta dari berbagai daerah hadir secara langsung dan daring, mencerminkan komitmen gerakan mahasiswa Kristen untuk berkontribusi secara nasional.
Kuncinya adalah Komunikasi
Pemaparan Rektor UKSW Profesor Intiyas Utami menggarisbawahi integrasi iman dan nasionalisme oikumenis, di mana mahasiswa Kristen bertanggung jawab menyuarakan keadilan sosial berbasis Pancasila seperti inklusivitas, kejujuran, dan kerendahan hati.
Ia menyerukan gerakan mahasiswa yang solid, intelektual, dan etis spiritual, menghindari perpecahan demi kontribusi bagi gereja, bangsa, serta masyarakat. Sesi tanya jawab membahas intoleransi, di mana UKSW berbagi strategi seperti Skema Pembinaan Pembelajaran Mahasiswa (SPPM) sejak 2022, yang mengintegrasikan pengembangan profesional-humanistik melalui dialog lintas keyakinan dan fasilitasi kegiatan keagamaan tanpa sekat.
Rektor Intiyas juga menegaskan bahwa UKSW juga menjamin ruang partisipasi terbuka melalui lembaga perwakilan mahasiswa hingga akses langsung ke pimpinan, mendorong kritik elegan berbasis data sambil terlibat pada isu pendidikan, kesehatan mental, dan kesejahteraan anak.
“Bolehkah mereka bertemu dengan rektor? Boleh. Bahkan kemarin terkait isu tertentu, teman-teman sudah bertemu saya dan berdiskusi langsung,” ujar Rektor Intiyas saat menjawab pertanyaan peserta.
Pendekatan ini menjadikan UKSW teladan dalam membentuk pemimpin Kristen yang berdampak, selaras dengan misi GMKI memperkuat basis gerakan mahasiswa untuk SDM Indonesia maju.
“Tidak semua kampus memberikan ruang seperti ini. Tetapi filosofi di kampus UKSW adalah bahwa mahasiswa Imago Dei, serupa dan segambar dengan Allah, sehingga menyampaikan aspirasi bisa dikomunikasikan,” imbuh Rektor Intyas.
Peran UKSW dalam membentuk pemimpin muda
UKSW menonjol sebagai tuan rumah yang secara aktif menumbuhkan jiwa kepemimpinan di kalangan mahasiswa sejak dini, sejalan dengan identitasnya sebagai universitas Kristen yang berbasis nilai-nilai iman dan kebangsaan. Rektor Intiyas menekankan bahwa kampus ini didukung 18 sinode gereja dari berbagai wilayah Indonesia, seperti Nias, Toraja, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Timur (NTT), Maluku, dan Papua, menciptakan lingkungan keberagaman yang menjadi ciri khas UKSW sejak berdiri. Moto “Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan” dari Amsal 1: 7 menjadi landasan, diwarisi dari pendiri Dr. Oeripan Notohamidjojo, S.H., yang juga rektor pertama UKSW, yang terinspirasi pengalaman pendidikannya di sekolah Kristen.
Konsep “creative minority” menjadi kunci utama UKSW dalam membentuk mahasiswa sebagai agen perubahan, diadaptasi dari riset Arnold Toynbee dalam A Study of History. Rektor Intiyas menjelaskan, kelompok minoritas kreatif ini adalah individu unggul yang adaptif, resilien, dan inovatif, mampu mengubah situasi pasif menjadi aktif serta melahirkan pemimpin berkualitas. Selaras dengan Visi UKSW sebagai Universitas Scientiarum, Universitas Magistrorum et Scholarium, universitas yang menjalankan fungsi radar dalam membaca permasalahan di masyarakat dan menjadi tempat pembinaan pemimpin termasuk yang dikerjasamakan dengan GMKI.
UKSW menjadi penyelenggara pendidikan tinggi Kristen berdaya saing tinggi dalam ilmu dan teknologi, mendukung gereja bersekutu, bersaksi, serta melayani di masyarakat Indonesia majemuk untuk mencerdaskan bangsa dan membangun manusia seutuhnya.
Melalui seminar nasional ini, UKSW bukan hanya meneguhkan diri sebagai kampus multikultural dan kreatif, tetapi juga mewujudkan nilai-nilai Asta Cita ke-4 yaitu memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM), sains, teknologi, dan pendidikan. Selain itu, agenda ini juga merupakan kontribusi nyata UKSW dalam mencapai Sustainable Development Goals (SDGs) ke-4 pendidikan berkualitas dan ke-9 industri, inovasi, dan infrastruktur.
Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak 1956 dengan 15 fakultas dan 64 program studi di jenjang D3 hingga S3, dengan 37 Prodi Unggul dan A. Terletak di Salatiga, UKSW dikenal dengan julukan Kampus Indonesia Mini, mencerminkan keragaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah. Selain itu, UKSW juga dikenal sebagai “Creative Minority” yang berperan sebagai agen perubahan dan inspirasi bagi masyarakat. (Aur_Tim Komblik/Foto:DivpromKomblik).