Dari Sapaan Hangat hingga Rasa Nyaman, Mahasiswa Baru Mulai Menemukan “Rumah” di UKSW

Siang itu, Balairung Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) dipenuhi wajah-wajah baru. Ada yang datang bersama teman, ada pula yang masih tampak canggung mencari alur antrean. Sebagian membawa rasa penasaran, sebagian lainnya mungkin masih menyimpan sedikit gugup setelah meninggalkan bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) dan memulai babak baru sebagai mahasiswa.

Senin (24/8), sejak pukul 13.30 WIB, ribuan mahasiswa baru UKSW berdatangan untuk mengambil starter pack Orientasi Mahasiswa Baru (OMB). Bagi mereka, kegiatan tersebut bukan sekadar mengambil perlengkapan untuk mengikuti rangkaian orientasi. Di tempat itu pula, sebagian dari mereka untuk pertama kalinya merasakan atmosfer kampus yang kelak menjadi bagian dari perjalanan mereka.

Tahun ini, starter pack OMB tidak hanya berisi perlengkapan yang akan digunakan selama rangkaian orientasi. Di dalamnya terdapat totebag, jas almamater, pin, dan topi yang akan menjadi bagian dari identitas baru mereka sebagai mahasiswa UKSW. Ada pula welcoming card dari Rektor UKSW yang menjadi sapaan personal bagi mahasiswa yang baru memulai perjalanan akademiknya.

Dari Sapaan Hangat hingga Rasa Nyaman, Mahasiswa Baru Mulai Menemukan “Rumah” di UKSW

Sapaan Rektor

Suasana semakin hangat ketika Rektor UKSW, Profesor Intiyas Utami, hadir di tengah antrean mahasiswa. Alih-alih sekadar menyaksikan jalannya kegiatan, Rektor Intiyas turun langsung menyapa dan berbincang dengan mahasiswa baru.

“Wah, luar biasa! Selamat datang di UKSW ya. Kalian sekarang sudah siap melangkah dan berproses menjadi bagian dari Creative Minority. Jangan lupa selalu bawa semangat ‘Satu Hati’ dalam setiap langkah kalian di kampus ini ya!” ujar Rektor Intiyas.

Sapaan tersebut kemudian berlanjut menjadi percakapan singkat dengan mahasiswa baru. “Halo, siapa namanya? Dari mana asalnya?” sapa Rektor Intiyas kepada salah seorang mahasiswa.

Pertanyaan sederhana itu membuka percakapan. Dengan antusias, mahasiswa baru menceritakan daerah asal mereka. Ada yang datang dari kota-kota di sekitar Salatiga, tetapi tidak sedikit pula yang menempuh perjalanan jauh dari berbagai penjuru Indonesia.

Bagi UKSW, perjumpaan semacam ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan kampus yang humanis. Kehadiran pimpinan universitas di tengah mahasiswa juga menjadi gambaran semangat “Satu Hati” dan pelayanan tanpa sekat yang terus dibangun di lingkungan UKSW.

Di tengah keberagaman tersebut, mahasiswa baru perlahan menemukan satu hal yang sama: rasa nyaman menjadi bagian dari sebuah komunitas baru.

First imppression mahasiswa baru

Yoga Pandu Pratama, mahasiswa baru Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) asal Ambarawa, mengaku terkesan dengan keberagaman yang langsung terasa sejak hari pertama. Ia bahkan tidak menyangka berbagai suku dan latar belakang dapat berpadu dengan begitu akrab di lingkungan kampus.

“First impression saya cukup takjub melihat berbagai suku dan ras dapat bersatu dan membangun solidaritas di sini. Dari segi akademik, kualitas Seni Musik di UKSW juga sudah terbukti unggul,” ungkap Yoga.

Kesan serupa dirasakan James Moses Okto Nusalao, mahasiswa Fakultas Teologi asal Kotamobagu, Sulawesi Utara. Suasana Kota Salatiga yang sejuk serta lingkungan kampus yang nyaman membuatnya merasa lebih mudah beradaptasi. Sementara itu, bagi Savika Palungan yang datang dari Timika, Papua Tengah, keramahan lingkungan kampus turut mengurangi rasa tegangnya. Perbedaan suasana dengan daerah asal justru menjadi pengalaman baru yang menyenangkan baginya.

“Salatiga udaranya adem, berbeda dengan Papua yang cenderung panas. Kampus UKSW sangat indah, rindang karena banyak pepohonan, gedungnya bagus, dan kakak-kakaknya ramah,” cerita Savika.

Cerita-cerita kecil tersebut menjadi potret awal dari wajah UKSW sebagai “Kampus Indonesia Mini”, tempat mahasiswa dari berbagai latar belakang bertemu, belajar, dan bertumbuh bersama.

Dari Sapaan Hangat hingga Rasa Nyaman, Mahasiswa Baru Mulai Menemukan “Rumah” di UKSW

Di tengah suasana tersebut, Rektor Intiyas juga menyemangati mahasiswa baru untuk mulai mengenali potensi diri dan berani mengambil ruang sebagai bagian dari Creative Minority. UKSW, menurutnya, tidak hanya menjadi tempat untuk memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga rumah kedua yang diharapkan mampu membentuk pribadi yang berkarakter, matang secara spiritual, serta memiliki keunggulan kompetitif di tingkat nasional maupun global.

Semangat untuk menjadikan keberagaman sebagai kekuatan juga menjadi pesan utama OMB UKSW 2026. Ketua Panitia OMB UKSW 2026, Alfred Jansen Sutrisno, S.T., M.Si., M.Agr., mengatakan bahwa pelayanan sejak pengambilan starter pack sengaja dirancang untuk memberikan pengalaman awal yang hangat bagi mahasiswa baru.

Mengangkat tema “Bersama dalam Keberagaman, Unggul dalam Prestasi”, OMB UKSW 2026 menjadi ruang awal bagi mahasiswa untuk mengenal lingkungan akademik sekaligus menemukan komunitas yang dapat mendukung perjalanan mereka di perguruan tinggi.

“Keberagaman dari Sabang sampai Merauke di UKSW adalah aset keunggulan utama kita. Kami ingin memastikan seluruh mahasiswa baru dapat langsung mengenali iklim akademik dan merasa nyaman di rumah baru mereka. Pesan saya, jangan pernah merasa berkecil hati atau menganggap diri sebagai mahasiswa kelas dua, karena UKSW menyediakan ruang seluas-luasnya untuk kalian mengukir prestasi sesuai passion masing-masing,” ungkap Alfred.

Perjalanan sebagai mahasiswa pun segera dimulai. Pengambilan starter pack menjadi salah satu pintu pertama menuju rangkaian OMB UKSW 2026 yang akan dibuka secara resmi oleh Rektor UKSW pada Rabu (26/8/2026) di Balairung UKSW.

Rangkaian OMB

Rangkaian OMB UKSW 2026 akan diisi dengan berbagai agenda, mulai dari pengenalan akademik, Faculty Day, Campus Tour, kegiatan pengabdian masyarakat, hingga Welcoming Service. Rangkaian tersebut kemudian akan dilanjutkan dengan Welcoming Party pada September mendatang.

Lebih dari sekadar rangkaian pengenalan kampus, OMB diharapkan menjadi ruang bagi mahasiswa baru untuk mulai mengenal lingkungan, membangun pertemanan lintas daerah, dan menemukan keberanian untuk bertumbuh bersama.

Semangat tersebut juga sejalan dengan komitmen UKSW dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs ke-4 tentang pendidikan berkualitas melalui lingkungan pendidikan yang inklusif dan menghargai keberagaman. Nilai ini juga sejalan dengan Asta Cita, khususnya penguatan sumber daya manusia yang unggul, berkarakter, dan mampu berkontribusi bagi masyarakat.

Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak 1956 dengan 15 fakultas dan 64 program studi di jenjang D3 hingga S3, dengan 36 program studi terakreditasi Unggul dan A. Terletak di Salatiga, UKSW dikenal dengan julukan Kampus Indonesia Mini, mencerminkan keragaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah. Selain itu, UKSW juga dikenal sebagai “Creative Minority” yang berperan sebagai agen perubahan dan inspirasi bagi masyarakat. (Aly/Upk_TimKomblik/foto:DivpromKomblik)

Bagikan:
Facebook
Share
WhatsApp
PHP Code Snippets Powered By : XYZScripts.com