Sebanyak 903 fungsionaris Lembaga Kemahasiswaan Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) resmi dilantik oleh Rektor UKSW Profesor Intiyas Utami dalam upacara “Pelantikan Fungsionaris Lembaga Kemahasiswaan UKSW Periode 2026”, baru-baru ini.
Pelantikan yang berlangsung khidmat di Balairung Universitas ini ditandai dengan pemukulan gong dan pengalungan Kalung Senator oleh Rektor Intiyas kepada Ketua Umum Badan Perwakilan Mahasiswa Universitas (BPMU) Aristo Talin Coeputra, mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi (FTI) dan Ketua Umum Senat Mahasiswa Universitas (SMU) Kenneth Nathanael Timothy Punuh, mahasiswa Fakultas Teologi. Dilanjutkan dengan penyerahan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Akhir dan memorandum dari kepengurusan Lembaga Kemahasiswaan periode sebelumnya.
Dalam sambutannya, Rektor Intiyas mengungkapkan rasa bangganya bisa melantik kembali fungsionaris Lembaga Kemahasiswaan UKSW. “Terima kasih kepada Ketua Umum BPMU dan SMU periode lalu yang telah menunaikan tugasnya. Selamat kepada fungsionaris yang akan dilantik pada periode ini,” imbuhnya.
Rektor perempuan pertama UKSW tersebut, dalam perannya sebagai pimpinan universitas menitipkan pesan kepada 903 fungsionaris untuk merawat dan menjaga kampus tercinta. “Jagalah almamater kampus kita, sebagaimana yang terkandung dalam lirik Mars UKSW yaitu Hiduplah Garba Ilmiah Kita. Garba yang berarti kandungan atau rumah dimaknai sebagai tempat lahirnya kaum intelektual, ruang untuk bertumbuhnya iman, etika, dan pengetahuan yang saling berkaitan,” katanya.
Rektor Intiyas menegaskan bahwa proses pembelajaran di UKSW dijalani sebagai bentuk pengabdian kepada Sang Pencipta. Karena itu, ia mengajak para fungsionaris untuk tidak lelah mencintai UKSW, kampus yang kelak akan ditinggalkan namun telah memberikan ruang untuk berinteraksi, bertumbuh, dan dipupuk secara utuh menjadi insan creative minority.
“Pesan penting lainnya adalah jangan melupakan tanggung jawab studi kalian. Tingginya iman harus diiringi dengan penghayatan penuh tanggung jawab serta diimbangi tingginya ilmu pengetahuan,” imbuhnya.
Dengan dilantiknya Ketua Umum BPMU dan Ketua Umum SMU, keduanya resmi menjadi anggota Senat Akademik UKSW. Sejak berdirinya, UKSW adalah universitas pertama di Indonesia yang menempatkan pemimpin Lembaga Kemahasiswa sebagai bagian dari Senat Akademik Universitas.
Pembentukan kualitas lulusan
Dalam pidatonya, Ketua Umum SMU menyampaikan bahwa pelantikan ini adalah momentum reflektif untuk kembali menemukan posisi, peran, dan tanggung jawab moral lembaga kemahasiswaan dalam perjalanan UKSW. Di UKSW, lembaga kemahasiswaan tidak dipandang sebagai pelengkap, melainkan sebagai wahana strategis dalam pembentukan kualitas lulusan sebagai creative minority.
Bagi Kenneth, SMU bergerak sebagai lembaga eksekutif yang adaptif terhadap perubahan zaman dalam melihat isu-isu sosial sampai pada skala global, serta humanis dalam setiap kebijakan dan program kerja, dengan menempatkan mahasiswa sebagai subjek utama. Organisasi diarahkan untuk membentuk pemimpin yang melayani, berpedoman pada nilai-nilai satya wacana, serta mampu memberi dampak nyata bagi kampus dan masyarakat luas.
“Kepada seluruh fungsionaris yang dilantik, saya mengajak untuk memaknai amanah ini dengan kesadaran penuh bahwa kita memilih menjadi bagian dalam lembaga kemahasiswaan berarti memilih jalan pengabdian, pembentukan diri, dan tanggung jawab bersama,” imbuhnya.
Sebagai Ketua Umum SMU, Kenneth memiliki visi ke depan sebagai pedoman kepemimpinannya yaitu mewujudkan senat mahasiswa universitas sebagai lembaga eksekutif yang adaptif dan humanis berlandaskan nilai-nilai satya wacana.
Sementara itu, Ketua Umum BPMU, Aristo Talin Coeputra menyampaikan bahwa sistem yang hebat bukanlah yang komponen paling mahal, melainkan sistem yang terintegrasi dengan baik. Oleh karena itu, di periode ini, BPMU hadir dengan semangat baru dan visi besar yang terangkum dalam satu kalimat sederhana yaitu “Mewujudkan BPMU sebagai Rumah Aspirasi Nyata”.
“Rumah adalah tempat di mana perbedaan bukan menjadi alasan untuk bertengkar, tapi untuk saling melengkapi. Saya ingin BPMU periode ini menjadi rumah yang ramah bagi seluruh mahasiswa UKSW, tanpa memandang fakultas, angkatan, atau latar belakang,” ujarnya.
Menurutnya, rumah yang kokoh dibangun dengan keringat dan kerja keras, oleh karena itu, filosofi ‘Rumah’ di terjemahkan dalam tiga langkah konkret yaitu sinergi tanpa sekat, membangun profesionalisme sistem, dan memberikan solusi berdampak bagi semua aspirasi mahasiswa UKSW.
“Rekan-rekan pengurus yang baru dilantik, tugas berat sudah menanti di depan mata. Jangan tanyakan apa yang UKSW berikan padamu, tapi buktikan apa yang bisa kita beri untuk almamater tercinta. Mari kita bekerja dengan hati, melayani dengan aksi dan jadikan periode ini sebagai bukti mahasiswa UKSW adalah Creative Minority yang membawa perubahan nyata,” beber Aristo.
Pelantikan BPMF dan SMF
Dalam kesempatan ini, dilakukan juga pelantikan fungsionaris Lembaga Kemahasiswaan UKSW pada tingkat fakultas. Hal ini ditandai dengan pengalungan stola oleh Ketua Umum SMU kepada Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas (BPMF) dan Ketua Senat Mahasiswa Fakultas (SMF) dari 15 fakultas.
Prosesi pelantikan ditutup dengan pembacaan janji jabatan, mukadimah serta ziarah dan tabur bunga di makam pendiri UKSW yaitu Rektor Pertama UKSW Dr. (H.C.) Oeripan Notohamidjojo, S.H., dan Pendeta Basoeki Probowinoto, serta tokoh berjasa lainnya.
Acara pelantikan ini juga turut dihadiri oleh Wakil Rektor Bidang Pengajaran, Akademik, dan Kemahasiswaan (WR PAK), Profesor Ferdy Semuel Rondonuwu, Wakil Rektor Bidang Keuangan, Infrastruktur, dan Perencanaan (WR KIP), Priyo Hari Adi, Ph.D., serta pimpinan fakultas.
Pelantikan Lembaga Kemahasiswaan Universitas ini menegaskan kiprah UKSW dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) yakni ke-4 pendidikan berkualitas. Selain itu, kegiatan ini adalah wujud nyata komitmen UKSW terhadap program Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Diktisaintek) Berdampak yang selaras dengan Asta Cita 4 yaitu memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM), sains, teknologi, dan pendidikan.
Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak 1956 dengan 15 fakultas dan 64 program studi di jenjang D3 hingga S3 dengan 37 prodi terakreditasi Unggul dan A. Terletak di Salatiga, UKSW dikenal dengan julukan Kampus Indonesia Mini, mencerminkan keragaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah. Selain itu, UKSW juga dikenal sebagai “Creative Minority” yang berperan sebagai agen perubahan dan inspirasi bagi masyarakat. Salam Satu Hati UKSW! (Wiw_Tim Komblik/Foto: Komblik).