Hadirkan Program Smart Farming Anti Stunting, UKSW Atasi Stunting di Wilayah Salatiga

Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) terus memberikan kontribusi nyata dalam mengatasi isu nasional khususnya stunting di wilayah Salatiga, Jawa Tengah melalui program UKSW Berdampak. Komitmen ini ditegaskan dalam kegiatan Media Gathering bersama rekan media wilayah Salatiga dan Kabupaten Semarang, Kamis (09/04/2026) di Grha Nusantara.

Dalam kesempatan tersebut, Rektor UKSW Profesor Intiyas Utami menyampaikan bahwa di tahun 2026, UKSW menjalankan program utama dengan tema-tema humanistik yang berdampak bagi masyarakat. Ia menjelaskan bahwa program Smart Farming Anti Stunting ini dijalankan di dua wilayah yang berada di Salatiga yakni Pancuran dan Kalitaman.

“Sasaran utama program ini adalah anak-anak stunting di Pancuran dan Kalitaman. Semangat humanis akan bisa dirasakan, bisa dinikmati, dan bisa mengobati jika teknologi tersebut turun langsung kepada masyarakat untuk mengatasi permasalahan yang ada,” katanya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi (FISKOM) sekaligus penggagas Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) di UKSW Dr. Ir. Sri Suwartiningsih, M.Si., menyampaikan bahwa Smart Farming Anti Stunting adalah bagian dari rangkaian program penanganan stunting. Smart Farming Anti Stunting mulai dibangun pada akhir 2025 dan berlanjut hingga 2026 di empat lokasi, yaitu dua titik di Kalitaman dan dua titik di Pancuran.

Lebih jauh disampaikannya, program pengabdian kepada masyarakat tersebut merupakan kegiatan kolaboratif FISKOM, Fakultas Pertanian dan Bisnis (FPB), Fakultas Teknik Elektronika dan Komputer (FTEK).

Ditambahkannya, dalam praktik penyusunan menu makanan untuk anak stunting tidak sederhana sehingga program ini berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk bidang kesehatan, pertanian, psikologi, dan ekonomi. UKSW bermitra dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB), Dapur Sehat dari empat kecamatan di kota Salatiga, Kampung Pancuran, Kampung Kalitaman.

“Tahun lalu, kami menjadi orang tua asuh bagi dua puluh anak. Dari jumlah tersebut, enam belas anak berhasil keluar dari kondisi stunting, sementara empat lainnya belum berhasil karena mengalami sakit. Selama enam bulan, kami memberikan makanan bergizi serta pendampingan secara intensif,” jelasnya.

Lebih jauh dijelaskannya, pada tahun 2026, program ini kembali dilaksanakan dengan melibatkan 20 keluarga dengan anak stunting di Kota Salatiga sebagai anak asuh UKSW, dengan harapan mereka segera lolos dari stunting di tahun ini.

Smart Farming Anti Stunting UKSW
Smart Farming Anti Stunting UKSW

Menyediakan pangan bergizi

Ia menerangkan bahwa konsep Smart Farming Anti Stunting ini dilakukan dengan pendekatan komprehensif lintas sektor di antaranya pemenuhan gizi melalui Dapur Sehat, Warung Peduli Stunting, pengukuran tumbuh kembang anak, Keluarga Teladan dan Komunikatif, serta ketahanan pangan di sekitar rumah, gizi dari rumah, dan keberlanjutan.

“Kami belajar bahwa anak-anak, khususnya bayi dan anak usia dini tidak hanya membutuhkan nutrisi tetapi juga memperhatikan tekstur, struktur, warna, dan tampilan makanan. Oleh karena itu, pengembangan smart farming di wilayah Pancuran dan Kalitaman akan dioptimalkan untuk menyediakan pangan bergizi yang terjangkau bagi anak-anak stunting,” terangnya.

Dr. Ir. Sri Suwartiningsih mengatakan hasil panen dari smart farming digunakan oleh para kader kesehatan di dapur sehat, karena sayuran yang ditanam adalah sayuran organik seperti sawi, selada, daun bawang, seledri, pakcoy, dan kol. Selain itu, hasil panen dapat dijadikan pendapatan dari Warung Peduli Stunting (Warung Penting) milik dari tim dapur sehat, Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) setempat.

“Model pengatasan stunting dengan pendekatan partisipatif ini menjadi efektif karena langsung dengan aktor yang dekat dengan anak stunting di wilayahnya. Melalui upaya ini, UKSW dapat terus memberikan dampak nyata bagi masyarakat karena pada akhirnya, pendidikan tidak hanya tentang ilmu tetapi juga implementasi nyata dalam kehidupan terutama untuk masa depan anak-anak sebagai generasi penerus,” tuturnya.

Melalui implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, UKSW telah mengembangkan program Salatiga Anti Stunting dan Smart Farming Anti Stunting. Program ini turut mengantarkan UKSW meraih GENTING Award kategori Mitra Pentahelix Perguruan Tinggi dalam ajang “GENTING Collaboration Summit 2025”. Penghargaan tersebut merupakan bentuk pengakuan pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga.

Program ini menegaskan komitmen UKSW dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) yakni poin ke-2 yaitu tanpa kelaparan, poin ke-3 yaitu kehidupan sehat dan sejahtera, poin ke-12 konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta poin ke-17 yaitu kemitraan untuk mencapai tujuan. Selain itu, kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen UKSW terhadap program Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Diktisaintek) Berdampak yang selaras dengan Asta Cita ke-4 yaitu penguatan sumber daya manusia (pendidikan, sains, teknologi, kesehatan) dan poin ke-5 yaitu hilirisasi, inovasi, dan penguatan produktivitas ekonomi berbasis riset atau teknologi.

Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak 1956 dengan 15 fakultas dan 64 program studi di jenjang D3 hingga S3 dengan 36 prodi terakreditasi Unggul dan A. Terletak di Salatiga, UKSW dikenal dengan julukan Kampus Indonesia Mini, mencerminkan keragaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah. Selain itu, UKSW juga dikenal sebagai “Creative Minority” yang berperan sebagai agen perubahan dan inspirasi bagi masyarakat. Salam Satu Hati UKSW! (Wiw_TimKomblik/foto:Ron)

Bagikan:
Facebook
Share
WhatsApp