Tugas Talenta Unggul Mahasiswa FBS UKSW, Dari Kearifan Lokal Menuju Keberlanjutan 


Karya berdampak bagi lingkungan dan masyarakat terus dihasilkan oleh Program Studi (Prodi) Sastra Inggris Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), melalui Tugas Talenta Unggul (TTU) berbasis proyek dan seminar proposal mahasiswa. Karya berbasis proyek TTU dikemas secara apik dalam kegiatan Documentary Screening dengan mengusung tema “Local Wisdom for a Better Environment” di Kelas Tematik PU 703 gedung Perpustakaan O. Notohamidjojo, Rabu (11/03/2026).

Documentary Screening tidak hanya menjadi bagian dalam menyelesaikan tugas akademik, tetapi juga menggali berbagai nilai kearifan lokal dari daerah asal mahasiswa. Hasil video dokumenter mahasiswa juga diserahkan kepada komunitas atau narasumber yang terlibat dalam penelitian sehingga dapat menjadi media edukasi sekaligus dokumentasi budaya. 

Dengan penuh antusias, Putri Alya Sacika A pembuat karya berjudul “Color of the Earth” mengaku senang bisa mempresentasikan karyanya di hadapan para dosen, mahasiswa, dan tamu undangan. Putri menceritakan bahwa video dokumenternya membahas tentang proses ecoprint dan melihat apakah proses tersebut mendorong penerapan prinsip etika lingkungan. 

“Melalui dokumenter ini, saya ingin menyampaikan pesan agar masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan, terutama di bidang tekstil agar memperhatikan dampak lingkungan dari limbah produksi,” ungkapnya. 

Tidak hanya Putri, empat mahasiswa lainnya juga membuat video dokumenter dengan mengangkat topik keberlanjutan lingkungan dan pelestarian budaya lokal. Mereka adalah Daphne Mahagyda J dengan karya berjudul “Behind the Colors of Laweyan”, Casey Jefferson membuat video dokumenter “The Sejit Kongco Ceng Gwan Ceng Kun Celebration in Tegal”, Dwi Fajar Destiawan membuat karya “Sound of Belonging”, dan Wahyu Istnaini membuat karya “One Space, Different Ways: Ornamental Plant Trade in Kopeng”. 

Selain video dokumenter, sebanyak empat puluh mahasiswa lainnya juga mempresentasikan karyanya dalam kegiatan “Seminar Proposal” yang dikemas dalam pameran poster dan karya fiksi dilaksanakan pada Jumat (13/03/2026) di Rumah Noto. Menariknya, topik yang diangkat masing-masing mahasiswa dalam Seminar Proposal ini berfokus pada keberagaman kuliner dan makanan khas nusantara guna mendukung keberlanjutan lingkungan dan budaya. 

Mengangkat isu lingkungan

Ketua Program Studi (Kaprodi) Sastra Inggris Dr. Purwanti Kusumaningtyas, M. Hum., menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan agar mahasiswa dapat menggali dan mempelajari budaya lokal masing-masing. “Documentary Screening ini merupakan TTU perdana yang menampilkan karya video dokumenter mengangkat topik kearifan lokal, sedangkan Seminar Proposal menitikberatkan keberagaman makanan khas daerah mulai dari makanan khas Salatiga, adat Batak, hingga makanan yang biasanya digunakan dalam ritual adat,” katanya. 

Dekan FBS Drs. Agastya Rama Listya, M.S.M., Ph.D., mengungkapkan rasa bangganya karena mahasiswa mampu memberikan karya berdampak nyata kepada masyarakat. “Melalui proyek tersebut mahasiswa diajak untuk melihat karya dengan topik kearifan lokal dalam membantu menanggulangi berbagai persoalan, salah satunya isu lingkungan,” katanya. 

Menurutnya, karya-karya tersebut merupakan salah satu bentuk kontribusi mahasiswa FBS dalam mendukung keberlanjutan budaya dan lingkungan. Ia juga berharap ke depannya mahasiswa tidak berhenti pada proyek TTU, tetapi mampu mengedukasi pentingnya menjaga lingkungan.

“Selain video dokumenter, mahasiswa juga mempresentasikan karya mereka melalui poster dengan mensosialisasikan hasil penelitian sehingga masyarakat memperoleh wawasan dan pemahaman baru,” terangnya. 

Kegiatan ini menegaskan kiprah UKSW dalam mendukung pencapaian SDGs yakni poin ke-4 pendidikan berkualitas dan ke-13 penanganan perubahan iklim. Selain itu, capaian ini adalah wujud nyata komitmen UKSW terhadap program Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Diktisaintek) Berdampak yang selaras dengan Asta Cita 4 yaitu memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM), sains, teknologi, dan pendidikan.  

Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak 1956 dengan 15 fakultas dan 64 program studi di jenjang D3 hingga S3 dengan 38 prodi terakreditasi Unggul dan A. Terletak di Salatiga, UKSW dikenal dengan julukan Kampus Indonesia Mini, mencerminkan keragaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah. Selain itu, UKSW juga dikenal sebagai “Creative Minority” yang berperan sebagai agen perubahan dan inspirasi bagi masyarakat.  Salam Satu Hati UKSW! (Wiw_TimKomblik/foto:Komblik)

Bagikan:
Facebook
Share
WhatsApp