Voice of Satya Wacana Christian University (SWCU) kembali menorehkan prestasi dalam ajang kompetisi paduan suara tingkat internasional. Dalam Penabur International Choir Festival (PICF) 2026, Voice of SWCU berhasil meraih Juara 1 Category Music of Religion, Juara 3 Category Gospel & Spiritual, serta Conductor Award yang diberikan kepada konduktor Voice of SWCU, Eriyani Tenga Lunga.
PICF 2026 diselenggarakan oleh BPK PENABUR Jakarta pada 8 hingga 12 September 2026 di PENABUR Intercultural School Hall, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Ajang ini diikuti oleh 152 tim paduan suara yang berasal dari 17 provinsi di Indonesia, yaitu Sumatra Selatan, Lampung, Bengkulu, Riau, DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Papua, dan Papua Barat Daya.
Dalam kompetisi tersebut, Voice of SWCU menurunkan 49 anggota paduan suara dan satu konduktor. Keikutsertaan ini menjadi pengalaman baru bagi Voice of SWCU karena sebelumnya belum pernah mengikuti PICF yang diselenggarakan setiap dua tahun sekali.
Pembina Voice of SWCU, Juanita Theresia Adimurti, M.Pd., menyatakan bahwa pada Category Music of Religion, Voice of SWCU membawakan Nunc Dimittis karya Paweł Łukaszewski dan Seven Line Supplication to Guru Rinpoche karya Harry Einhorn. Sementara itu, pada Category Gospel & Spiritual, Voice of SWCU menampilkan Look What Dey Doin’ to Jesus karya Richard Jackson dan Ezekiel Saw The Wheel karya Moses Hogan.
Ketua Voice of SWCU 2026, Melani Regina Rampo, mengungkapkan rasa syukur atas capaian yang diraih. Menurutnya, prestasi tersebut tidak hanya tentang kemenangan, tetapi juga menjadi hasil dari proses panjang, kerja keras, dan kebersamaan seluruh anggota.
“Kami sangat sangat bersyukur untuk prestasi yang telah kami capai. Prestasi ini bukan hanya tentang kemenangan, tetapi tentang proses, kerja keras, dan kebersamaan seluruh anggota Voice,” ujar Melani
Lebih dari sekadar mengandalkan teknik vokal, Voice of SWCU membawa konsep penampilan yang menekankan penyampaian pesan dan emosi melalui harmoni suara maupun penampilan di atas panggung. Setiap lagu yang dibawakan memiliki pesan yang berbeda, mulai dari pengharapan, keteguhan iman, kekuatan spiritual, hingga doa.
Untuk mempersiapkan diri menghadapi kompetisi, Voice of SWCU menjalani latihan selama kurang lebih empat bulan. Latihan dilakukan secara rutin dengan fokus pada penguatan teknik vokal sekaligus penampilan panggung. Selain aspek musikal, proses latihan juga diarahkan untuk membangun kekompakan dan chemistry antar anggotanya agar dapat tampil sebagai satu tim yang solid.
Proses tersebut tidak selalu berjalan mudah. Padatnya latihan, rasa lelah, serta tantangan dalam membangun kekompakan menjadi bagian dari perjalanan Voice of SWCU menuju kompetisi. Namun, berbagai tantangan tersebut justru menjadi ruang bagi para anggota untuk belajar saling memahami dan mendukung satu sama lain.

Dukungan Kampus dan Alumni
Keberhasilan Voice of SWCU dalam PICF 2026 tidak terlepas dari dukungan Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW). Juanita menyampaikan bahwa dukungan diberikan dalam berbagai bentuk, mulai dari penyediaan sarana dan prasarana untuk latihan, pendanaan, hingga dukungan dari pimpinan UKSW.
“Dukungan kampus sangat luar biasa, dari sarana prasarana proses kami berlatih, pendanaan, support pimpinan UKSW yang selalu ada untuk Voice of SWCU,” tutur Juanita.
Selain dukungan dari kampus, perjalanan Voice of SWCU di Jakarta juga mendapat dukungan dari jejaring alumni. Salah satu kisah yang berkesan adalah dukungan alumni UKSW yang kini berkarya di BPK Penabur Jakarta serta alumni Voice of SWCU yang berada di Jakarta. Para alumni turut membantu dengan menyediakan tempat latihan, termasuk meminjamkan ruangan Gereja Toraja untuk digunakan selama persiapan kompetisi.
Bagi Voice of SWCU, dukungan tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan mereka selama mengikuti PICF 2026. Kebersamaan antara anggota, kampus, dan alumni menunjukkan bahwa perjalanan sebuah prestasi tidak hanya dibangun melalui latihan, tetapi juga melalui dukungan komunitas yang terus terhubung.
Ke depan, Voice of SWCU tidak berhenti pada capaian di PICF 2026. Juanita mengatakan bahwa Voice of SWCU akan terus berproses untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas paduan suara, baik dari sisi teknik vokal, bonding antar anggotanya, maupun kemampuan organisasi. Seluruh rangkaian kegiatan tersebut tentunya mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 4 yakni Quality Education (Pendidikan Berkualitas) dan SDGs 17 yakni Partnerships for the Goals (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan)
Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak 1956 dengan 15 fakultas dan 65 program studi di jenjang D3 hingga S3, dengan 36 Prodi Unggul dan A. Terletak di Salatiga, UKSW dikenal dengan julukan Kampus Indonesia Mini, mencerminkan keragaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah. Selain itu, UKSW juga dikenal sebagai “Creative Minority” yang berperan sebagai agen perubahan dan inspirasi bagi masyarakat. (Sel_TimKomblik/foto:Istimewa)
