Sebagai universitas yang terus melangkah menuju world class university, Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) kembali menerima visiting professor dari luar negeri melalui program Erasmus+, Selasa hingga Kamis (22 hingga 30/04/2026) mendatang. Ia adalah dosen senior ahli dalam bidang linguistik korpus, teori lexical priming, dan bahasa Inggris lisan dari University of Eastern Finland Dr. Michael Pace-Sigge.
Koordinator program visiting professor sekaligus Direktur Direktorat Kerja Sama (DIKER) UKSW, Dr. Dian Toar Y. Getroidester Sumakul, S.Pd, M.A., mengatakan bahwa program ini merupakan bagian dari kerja sama dengan Erasmus+, yang didanai oleh Uni Eropa. Program ini juga menjadi bagian yang sangat penting dalam strategi internasionalisasi universitas.
“Awalnya kami, mengajukan proposal ke Erasmus+ kemudian disetujui, sehingga kegiatan ini dapat terlaksana. Visiting professor kali ini dilaksanakan di Fakultas Bahasa dan Seni karena dosen yang datang merupakan seorang ahli linguistik,” katanya.
Dr. Dian Toar menerangkan program ini akan berlangsung selama 10 hari. Dijelaskannya, selama di UKSW Dr. Michael Pace-Sigge akan memberikan public lecture serta mengajar di kelas-kelas Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) membawakan topik yang sesuai dengan silabus masing-masing mata kuliah.
“Kegiatan lainnya yang dilakukan adalah melaksanakan dua kali studium generale yang diharapkan dapat memperkaya wawasan, tidak hanya bagi mahasiswa tetapi juga dosen di lingkungan FBS,” imbuhnya.

Studium generale
Rangkaian visiting professor diawali dengan penyelenggaraan studium generale bertajuk “How Energent Grammar Point Towards Quantum Linguistics: The Example of Get” yang dipaparkan oleh Dr. Michael Pace-Sigge, Rabu (22/04/2026) di ruang kelas tematik Perpustakaan O. Notohamidjojo PU 703. Acara ini diikuti oleh dosen dan mahasiswa FBS sebagai peserta.
Dalam kesempatan ini, ahli linguistik korpus tersebut mengawali paparannya dengan memberikan gambaran umum materi terdiri dari pendahuluan, latar belakang topik, berbagai temuan tentang general corpora (GET), specialist corpora (GOT), dan outhor-specific corpora.
Dr. Michael Pace-Sigge menjelaskan konsep penting seperti idiom principle dan open choice yang menggambarkan bagaimana bahasa tersusun dengan baik melalui pola tetap maupun pilihan bebas dalam struktur gramatikal.
“Pembahasan ini berfokus pada satu kata kerja yaitu lema dari kata kerja get dan got. Sebagai seorang ahli linguistik korpus, inilah yang akan menjadi fokus pembahasan saya, di mana kita akan bergerak dari hal yang sangat umum menuju hal yang semakin spesifik. Pendekatan ini penting untuk memahami bagaimana quantum linguistics dapat dikembangkan ke depannya,” jelasnya.
Lebih jauh disampaikannya, mekanika kuantum dan linguistik tampak tidak berhubungan, yang satu berada di ranah sains, sementara yang lain di bidang humaniora. Namun keduanya sebenarnya memiliki kesamaan penting yaitu sama-sama berkaitan dengan bagaimana informasi tersusun dan mengalir dalam suatu sistem.
Saat dijumpai seusai studium generale, salah satu mahasiswa Maria Nichole Christine Latuny dari Program Studi Sastra Inggris mengaku mendapatkan wawasan baru tentang konsep quantum linguistics. “Ini pertama kalinya saya mengikuti english class langsung dari dosen luar negeri, sangat menarik. Saya mendapatkan pengetahuan baru dan mendalam tentang quantum linguistics. Hal ini menarik karena saya semester ini mengambil kelas structure of language yang membahas tentang linguistik,” katanya.
Studium generale kedua dengan topik “Lexical Priming & Artificial Intelligence” akan digelar pada Selasa (28/04/2026) di ruang ABX 103.
Studium generale ini menegaskan komitmen UKSW dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) yakni poin ke-4 yaitu pendidikan berkualitas dan poin ke-17 yaitu kemitraan untuk mencapai tujuan. Selain itu, kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen UKSW terhadap program Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Diktisaintek) Berdampak yang selaras dengan Asta Cita ke-4 yaitu penguatan sumber daya manusia (pendidikan, sains, teknologi, kesehatan).
Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak 1956 dengan 15 fakultas dan 64 program studi di jenjang D3 hingga S3 dengan 36 prodi terakreditasi Unggul dan A. Terletak di Salatiga, UKSW dikenal dengan julukan Kampus Indonesia Mini, mencerminkan keragaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah. Selain itu, UKSW juga dikenal sebagai “Creative Minority” yang berperan sebagai agen perubahan dan inspirasi bagi masyarakat. Salam Satu Hati UKSW!