Wekacala Garda Lingkungan UKSW Gelar Pendidikan Dasar Perdana, Cetak Angkatan Pelopor Pecinta Alam

Menjadi yang pertama selalu membutuhkan keberanian. Semangat itulah yang ditunjukkan sembilan mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) saat mengikuti Upacara Pendidikan Dasar Wekacala Garda Lingkungan UKSW 2026 sebagai Angkatan Pelopor organisasi pecinta alam kampus.

Diadakan di samping Rumah Noto UKSW, Jumat (31/07/2026), Ketua Satuan Tugas Pembentukan Wekacala Garda Lingkungan UKSW sekaligus Pembina Upacara, Dr. Purwanti Kusumaningtyas, M.Hum., secara resmi membuka pendidikan dasar. Prosesi penancapan kapak dilanjutkan dengan penyematan tanda siswa kepada para peserta menjadi simbol dimulainya proses pendidikan dasar Wekacala.
Dr. Purwanti Kusumaningtyas menjelaskan bahwa pendidikan dasar merupakan tahapan awal yang wajib diikuti mahasiswa sebelum resmi menjadi anggota Wekacala. Setelah dinyatakan lulus, mereka akan melanjutkan ke pendidikan lanjutan dengan materi yang lebih mendalam.

“Wekacala bukan hanya mengajarkan keterampilan bertualang di alam bebas. Kami membangun disiplin, kesetiakawanan, jiwa korsa, serta kepedulian terhadap sesama dan lingkungan. Harapannya, setiap anggota mampu memberi manfaat bagi UKSW, masyarakat, bahkan Indonesia,” ungkapnya.

Sebelum diterjunkan ke lapangan, para peserta telah dibekali berbagai materi dasar, mulai dari persiapan perjalanan, manajemen perbekalan, teknik trekking, keselamatan perjalanan, pengenalan peralatan, kesehatan lapangan, navigasi darat, membaca peta, hingga latihan baris-berbaris untuk membangun kekompakan dan kedisiplinan. Dalam penyelenggaraan pendidikan dasar ini, Wekacala Garda Lingkungan UKSW juga menggandeng Yayasan Wanadri sebagai mitra yang memiliki pengalaman panjang dalam pendidikan dan kegiatan alam bebas.

Sebagai angkatan pertama, sembilan peserta ini menyandang predikat Angkatan Pelopor. Purwanti mengakui membangun organisasi baru bukanlah proses yang mudah. Namun, antusiasme mahasiswa menjadi harapan besar bagi perkembangan Wekacala Garda Lingkungan UKSW ke depan.

“Puji Tuhan, ada sembilan mahasiswa yang bersedia menjadi angkatan pelopor. Harapan kami bukan sekadar memiliki anggota yang banyak, tetapi melahirkan insan-insan yang berdampak. Setiap perjalanan seharusnya menghasilkan karya, baik berupa video, tulisan, maupun buku yang dapat menginspirasi masyarakat untuk semakin mencintai alam,” tuturnya.

Semangat itu juga dirasakan para peserta. Shande, mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan, mengaku tertarik bergabung karena ingin mencoba pengalaman baru sekaligus belajar mengenal dan menjaga alam.

“Saya ingin mencoba hal baru, lebih mengenal alam, dan belajar bagaimana menjaganya,” ujarnya.

Sementara itu, Elisabeth Hana Felicia, mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi, menyadari bahwa mencintai alam tidak cukup hanya dengan menikmatinya.
“Selama ini saya mendaki gunung lalu pulang. Di Wekacala saya belajar bahwa yang lebih penting adalah bagaimana kita ikut melestarikan alam,” katanya.

Hal serupa disampaikan Emi Toding Rongkok, mahasiswa Fakultas Psikologi asal Sulawesi Selatan. Berawal dari kegemarannya mendaki gunung, ia memutuskan mengikuti pendidikan dasar setelah mengetahui kegiatan ini dapat dikonversi menjadi Satuan Kredit Semester (SKS).

“Selama mengikuti pendidikan dasar, saya merasa dilatih menjadi lebih sigap dan lebih siap menghadapi berbagai situasi,” ungkapnya.

Pendidikan Dasar Wekacala Garda Lingkungan UKSW 2026 berlangsung hingga 6 Agustus 2026 di Lapangan Medini, Dusun Medini, Desa Ngesrep Balong, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal. Kegiatan penutupan terbuka bagi civitas academica maupun masyarakat yang ingin menyaksikannya.

Upaya ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs ke-13 yaitu penanganan perubahan iklim, SDGs ke-15 yaitu menjaga ekosistem daratan, SDGs ke-4 yaitu pendidikan berkualitas, dan SDGs ke-17 yaitu kemitraan untuk mencapai tujuan. Kegiatan ini juga mendukung Asta Cita Presiden Republik Indonesia, terutama Asta Cita ke-4 memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM), sains, teknologi, dan pendidikan.

Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak 1956 dengan 15 fakultas dan 64 program studi di jenjang D3 hingga S3 dengan 36 prodi terakreditasi Unggul dan A. Terletak di Salatiga, UKSW dikenal dengan julukan Kampus Indonesia Mini, mencerminkan keragaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah. Selain itu, UKSW juga dikenal sebagai “Creative Minority” yang berperan sebagai agen perubahan dan inspirasi bagi masyarakat. Salam Satu Hati UKSW! (Upk_TimKomblik/foto:Upk)

Bagikan:
Facebook
Share
WhatsApp
PHP Code Snippets Powered By : XYZScripts.com