Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) kembali melahirkan doktor melalui Fakultas Teologi dalam Yudisium Program Studi Doktor Sosiologi Agama, baru-baru ini di Ruang Probowinoto. Dr. Herman Tampubolon dinyatakan lulus Program Doktor Sosiologi Agama setelah berhasil mempertahankan disertasi berjudul “Dekolonisasi Pendidikan Kristen Batak: Falsafah Sala Mandasor Sega Luhutan pada Anak Sekolah Minggu di Huria Kristen Indonesia (HKI).” Menjadi Doktor Sosiologi Agama ke-46 dari Fakultas Teologi UKSW, Dr. Herman Tampubolon berhasil lulus dengan menyandang predikat Dengan Pujian.
Disertasi Pendeta HKI kelahiran 1987 ini mengangkat isu dekolonisasi pendidikan Kristen Batak dengan menempatkan pengetahuan lokal dan falsafah budaya sebagai bagian penting dalam pendidikan Kristen, khususnya bagi anak Sekolah Minggu di Huria Kristen Indonesia.
“Penelitian ini menggunakan pendekatan interdisipliner yang memadukan sosiologi agama dan pendidikan, studi dekolonial, serta antropologi budaya. Penelitian ini mengembangkan gagasan pendidikan Kristen yang lebih kontekstual dan berbasis indigenous knowledge atau pengetahuan lokal,” ungkapnya.
Salah satu gagasan penting yang ditawarkan adalah perlunya menempatkan anak Sekolah Minggu sebagai subjek pendidikan. Pendidikan Kristen tidak hanya dipahami sebagai proses menyampaikan doktrin dan pengetahuan keagamaan, tetapi juga sebagai proses humanisasi yang menghargai identitas, pengalaman, budaya, dan pengetahuan lokal anak.
Dengan demikian, dekolonisasi pendidikan Kristen tidak berarti menolak kekristenan, melainkan membongkar struktur dominasi yang meminggirkan pengetahuan lokal dan menghadirkan pendidikan Kristen yang mampu berdialog dengan konteks budaya masyarakat.
Penelitian ini secara khusus mengangkat falsafah Sala Mandasor Sega Luhutan sebagai bagian dari upaya mempertemukan kekristenan dengan budaya lokal Batak. Pendekatan tersebut menegaskan bahwa pendidikan Kristen dapat menjadi ruang untuk mengenal Kristus sekaligus menghargai kekayaan pengetahuan dan budaya masyarakat setempat.
Pendidikan Kristen Berbasis Pengetahuan Lokal
Dalam kajiannya, Dr. Herman Tampubolon melihat bahwa pendidikan Kristen di Tanah Batak memiliki sejarah panjang yang tidak dapat dilepaskan dari perjumpaan antara kekristenan, pendidikan, dan budaya lokal. Pada masa kolonial, sistem pendidikan Kristen juga tidak terlepas dari struktur dominasi yang berpotensi meminggirkan pengetahuan dan kebudayaan lokal.
Karena itu, dekolonisasi pendidikan Kristen dipandang penting untuk mengangkat kembali pengetahuan lokal sebagai sumber belajar yang sah. Dalam konteks pendidikan anak, Sekolah Minggu menjadi ruang strategis untuk menghadirkan pendidikan Kristen yang lebih kontekstual, dialogis, dan berakar pada budaya.

UKSW Dorong Disertasi yang Berdampak
Dekan Fakultas Teologi UKSW Profesor Pendeta Izak Y.M. Lattu, Ph.D., menyampaikan apresiasi atas pencapaian Dr. Herman Tampubolon. Ia menegaskan bahwa Fakultas Teologi UKSW terus melibatkan dosen dan profesor dari dalam maupun luar negeri dalam proses pengujian disertasi sebagai bagian dari upaya mengukur kualitas akademik sekaligus memperluas pertukaran gagasan.
“Dengan begitu kita bisa mengukur kualitas, tetapi juga mendistribusikan pemikiran bersama,” ungkapnya.
Sementara itu, Rektor UKSW Profesor Intiyas Utami menyampaikan bahwa UKSW akan selalu menjadi rumah kedua bagi para lulusannya. Ia juga menekankan bahwa pencapaian doktoral bukanlah akhir dari proses belajar.
“Setelah doktor, kesempatan belajar masih harus terus berlanjut,” pesannya.
Menurutnya, pencapaian sebagai doktor merupakan berkat sekaligus tanggung jawab untuk terus memberikan dampak. Ia berharap disertasi yang dihasilkan tidak berhenti di rak perpustakaan, tetapi mampu menginspirasi dan memberikan kontribusi bagi gereja, masyarakat, bangsa, dan dunia.
“Semoga ini menjadi langkah yang berdampak,” harapnya.
Dalam ujian disertasi tersebut, Profesor Pendeta Izak Y.M. Lattu, Ph.D., bertindak sebagai promotor, didampingi Ko-Promotor Pendeta Mariska Lauterboom, MATS., Ph.D. dan Dr. Pendeta Tony Tampake, M.Si.
Sementara itu, penguji dalam ujian disertasi ini adalah Dr. Pendeta Amran Simangunsong dari Protestant University of Rwanda dan Dr. Suwarto dari Fakultas Teologi UKSW yang juga menjabat sebagai Ketua Program Studi Doktor Sosiologi Agama. Turut menghadiri Yudisium DSA kali ini adalah Sekretaris Jenderal United Evangelical Mission (UEM) Pendeta Dr. Andar Gomos Pasaribu.
Pencapaian ini menegaskan komitmen UKSW dalam menghasilkan penelitian yang tidak hanya memiliki kualitas akademik, tetapi juga relevan dengan persoalan gereja, pendidikan, budaya, dan masyarakat. Melalui Yudisium ini, Program Doktor Sosiologi Agama Fakultas Teologi UKSW kembali meneguhkan perannya dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs ke-4 yaitu pendidikan berkualitas dan SDGs ke-17 yaitu kemitraan untuk mencapai tujuan. Hal ini juga sejalan dengan Asta Cita, terutama poin 8 merawat kehidupan sosial yang harmonis dan toleran melalui dialog lintas agama berbasis kearifan lokal.
Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak 1956 dengan 15 fakultas dan 65 program studi di jenjang D3 hingga S3 dengan 36 prodi terakreditasi Unggul dan A. Terletak di Salatiga, UKSW dikenal dengan julukan Kampus Indonesia Mini, mencerminkan keragaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah. Selain itu, UKSW juga dikenal sebagai “Creative Minority” yang berperan sebagai agen perubahan dan inspirasi bagi masyarakat. (Upk_TimKomblik/foto:Divpromkomblik)
