Peringatan Hari Pattimura ke-209 yang diselenggarakan pada Sabtu (1/08/2026) di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) menjadi momentum untuk mengenalkan kembali sosok dan nilai perjuangan Kapitan Pattimura kepada masyarakat, sekaligus memperkuat identitas budaya Maluku di tanah rantau. Kegiatan ini mempertemukan masyarakat Maluku dengan masyarakat Kota Salatiga dalam semangat persaudaraan, keberagaman, dan persatuan Indonesia.
Peringatan Hari Pattimura ke-209 mengangkat tema “Tahuri Babunyi, Obor Manyala Tinggi, Parang Pattimura Manari voor Bangun NKRI”. Tema tersebut menjadi ajakan untuk membangkitkan kesadaran, semangat perjuangan, serta keberanian generasi muda dalam berkontribusi bagi bangsa. Tahuri dimaknai sebagai panggilan kesadaran, obor sebagai simbol semangat perjuangan yang terus menyala, sementara parang Pattimura yang “manari” menggambarkan keberanian dan kreativitas dalam berkarya melalui seni, budaya, musik, serta keberagaman.
Rangkaian kegiatan diawali di Korem 073/Makutarama dengan pembukaan, kemudian dilanjutkan dengan pawai karnaval menuju UKSW yang diiringi Tari Pinaesaan hingga Gereja Katolik Paulus Miki. Perjalanan dilanjutkan dengan pertunjukan drama yang merepresentasikan perjuangan Pattimura menuju Kodim hingga berakhir di Dinas Kebudayaan. Selanjutnya, karnaval diteruskan dengan penampilan tari-tarian etnis mulai dari pertigaan titik nol Salatiga hingga depan Gedung FEB UKSW. Rangkaian kemudian dilanjutkan dengan pertunjukan Maku-Maku dan Cakalele menuju area Balairung UKSW.
Setibanya di lingkungan UKSW, peserta disambut dengan Tari Lenso sebelum memasuki rangkaian prosesi obor. Prosesi diawali dengan penyerahan obor dari Ketua HIPMMA (Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Maluku) kepada Ketua DPRD Maluku, kemudian dilanjutkan oleh pembawa obor lain kepada Kepala Badan Penghubung Maluku, Wakil Wali Kota Ambon, Ketua DPRD Kota Salatiga, dan Rektor UKSW. Penyerahan obor tersebut menjadi simbol estafet semangat perjuangan Pattimura dari satu generasi dan elemen masyarakat kepada generasi berikutnya.
Prosesi obor kemudian menjadi simbol utama dari semangat perjuangan Pattimura yang terus menyala dan diwariskan kepada generasi penerus. Rangkaian ini sekaligus menegaskan bahwa nilai keberanian, persatuan, dan kecintaan terhadap tanah air tidak berhenti pada sejarah, tetapi terus diwujudkan melalui kebersamaan masyarakat Maluku dan masyarakat Salatiga.

Dalam sambutannya, Rektor UKSW, Profesor Intiyas Utami menekankan bahwa keberagaman merupakan bagian penting dari identitas UKSW sebagai kampus yang terbuka bagi masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia. Kehadiran keluarga besar Maluku dalam peringatan Hari Pattimura menjadi salah satu bentuk nyata ruang perjumpaan budaya yang dibangun di lingkungan kampus.
Menurutnya, UKSW memiliki mahasiswa dan civitas academica yang berasal dari berbagai wilayah Indonesia. Keberagaman tersebut menjadi kekuatan sekaligus ruang bagi mahasiswa untuk mengekspresikan identitas, budaya, dan potensinya.
“Mahasiswa membutuhkan ruang untuk berekspresi, baik melalui kegiatan akademik maupun kegiatan seni dan budaya. Dari ruang-ruang tersebut, mahasiswa diharapkan mampu menjadi pribadi yang kompetitif sekaligus agen perubahan,” kata Rektor Intiyas.
Ia juga menekankan bahwa seni dan budaya memiliki peran penting dalam membangun kehidupan yang harmonis di tengah keberagaman. Melalui kegiatan budaya, masyarakat dapat saling mengenal, berdialog, serta memperkuat hubungan antarkelompok.
“Kalau kita melihat warna-warni UKSW yang begitu luar biasa, kami dikenal sebagai kampus Indonesia Mini. Keberagaman ini juga menjadi salah satu kekuatan UKSW,” tegasnya.
Semangat Perjuangan untuk Generasi Muda
Semangat tersebut sejalan dengan tujuan peringatan Hari Pattimura 209, yakni memperkenalkan sosok Pattimura sebagai bagian dari sejarah perjuangan nasional, sekaligus juga menanamkan nilai perjuangannya kepada generasi muda dan masyarakat Maluku di perantauan.
Wakil Wali kota Ambon, Ely Toisutta, dalam sambutannya menyampaikan bahwa peringatan Hari Pattimura bukan sekadar momentum untuk mengenang sejarah. Menurutnya, semangat perjuangan Pattimura perlu diterjemahkan ke dalam kehidupan masyarakat masa kini.
“Semangat Pattimura harus diterjemahkan menjadi semangat membangun, bukan sekadar semangat untuk melawan. Semangat Pattimura adalah semangat bekerja, bukan saling menjatuhkan. Semangat Pattimura adalah semangat menjaga Indonesia sebagai rumah bersama bagi seluruh anak bangsa,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua DPRD Maluku, Benhur George Watubun, menyoroti pentingnya persatuan bagi masyarakat Maluku yang berada di tanah rantau. Ia mengajak masyarakat Maluku untuk menjaga persaudaraan dan memberikan kontribusi positif bagi daerah tempat mereka tinggal.
Menurutnya, Kota Salatiga menjadi salah satu contoh ruang kehidupan yang mampu mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang. Kehidupan masyarakat yang menjunjung toleransi menjadi bagian penting dalam menjaga persatuan di tengah keberagaman.

“Karena Beta Maluku”
Makna peringatan tersebut juga dirasakan langsung oleh para pengunjung. Yoga Arivo Samallo, mahasiswa Program Studi Sosiologi, mengungkapkan bahwa kegiatan ini menjadi pengingat bagi masyarakat Maluku mengenai sosok Pattimura sebagai salah satu tokoh kebanggaan daerah.
“Kesannya sangat bermakna bagi katong anak-anak Maluku. Ini sebagai pengingat salah satu tokoh kebanggaan Maluku akan semangat dan perjuangan untuk tanah air Maluku,” ungkapnya.
Bagi masyarakat Maluku yang lahir dan besar di luar Maluku, peringatan ini juga menjadi ruang untuk tetap terhubung dengan identitas dan akar budaya mereka. Yoga yang lahir dan besar di Jawa mengungkapkan bahwa identitas Maluku tetap menjadi bagian dari dirinya.
“Kalau dari beta (saya-red), acara Pattimura sangat bagus, terutama bagi katong yang merantau di tanah orang. Tapi katong masih bisa merayakan. Walaupun beta lahir dan besar di Jawa, darah dan fam Maluku yang dibawa ini sampai akhir hayat. Karena apa? Karena Beta Maluku,” ujarnya.
Selain mengenang perjuangan Pattimura, kegiatan ini juga menjadi sarana memperkenalkan kebudayaan Maluku kepada masyarakat melalui seni, musik, dan tarian tradisional. Perpaduan budaya Maluku dengan keberagaman etnis lainnya menjadi gambaran bahwa identitas budaya dapat terus hidup sekaligus berjalan berdampingan dalam bingkai persatuan Indonesia.
Kegiatan ini membuktikan komitmen UKSW untuk mewujudkan Sustainable Development Goals (SDGs) ke-11 yaitu mempromosikan dan menjaga warisan budaya dunia dan warisan alam dunia, SDGs ke-4 yaitu pendidikan berkualitas. Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak 1956 dengan 15 fakultas dan 64 program studi di jenjang D3 hingga S3, dengan 36 Prodi Unggul dan A. Terletak di Salatiga, UKSW dikenal dengan julukan Kampus Indonesia Mini, mencerminkan keragaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah. Selain itu, UKSW juga dikenal sebagai “Creative Minority” yang berperan sebagai agen perubahan dan inspirasi bagi masyarakat. (Sel/Arl_TimKomblik/foto:Divpromkomblik)