Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) memperkuat kemitraan dengan United Board for Christian Higher Education in Asia (UBCHEA) melalui pertemuan pimpinan kedua institusi di Perpustakaan O.Notohamidjojo UKSW, Sabtu (12/09/2026). Pertemuan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat relasi yang telah terjalin sekaligus membuka peluang pengembangan program kolaborasi baru di bidang artificial intelligence (AI), social entrepreneurship, kepemimpinan, keberlanjutan, dan jejaring perguruan tinggi di Asia.
Rektor UKSW Profesor Intiyas Utami hadir menerima langsung kunjungan delegasi UBCHEA ke kampus Indonesia Mini. Hadir dalam kunjungan tersebut President of UBCHEA, Dr. Pareena G. Lawrence, bersama Program Director of Faculty Development Dr. Hope Antone, Senior Consultant Dr. Marcia France, serta Consultant and Program Officer for Partnerships and Alumni Network Dr. Anita Tiphagne. Sementara itu, dari UKSW hadir mendampingi Rektor adalah Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Kewirausahaan Profesor Eko Sediyono, Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Kealumnian Profesor Yafet Yosafet Wilben Rissy, Direktur Direktorat Kerja Sama Dr. Dian Toar Y. Getroidester Sumakul, S.Pd., M.A., Direktur Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Profesor Hindriyanto Dwi Purnomo, serta Kepala Campus Ministry Pendeta Dr. Ferry Nahusona.
Rektor Intiyas menyatakan kemitraan UKSW dengan UBCHEA telah memberikan manfaat bagi pengembangan sumber daya akademik, mahasiswa, serta perluasan wawasan global civitas academica.
“Kemitraan antara UKSW dan UBCHEA selama bertahun-tahun telah memberikan dampak yang berarti, melalui penguatan kapasitas tenaga akademik, memperkaya pengalaman mahasiswa, serta perluasan wawasan global,” ujar Rektor Intiyas.
Lebih lanjut, Rektor Intiyas menegaskan bahwa perubahan lanskap global membuat pengembangan kepemimpinan, inovasi pembelajaran, pengembangan kapasitas dosen, serta jejaring kolaborasi semakin penting. Karena itu, UKSW terbuka untuk mengeksplorasi berbagai inisiatif bersama, termasuk pengembangan kapasitas, penelitian interdisipliner, lokakarya kepemimpinan, dan perluasan jejaring kemitraan.
Sementara itu, Dr. Pareena menegaskan bahwa kunjungan langsung ke institusi mitra merupakan bagian penting untuk kembali membangun hubungan dan memahami tantangan serta peluang yang dihadapi masing-masing institusi.
“Kunjungan ini menjadi kesempatan bagi kami untuk berdialog secara langsung guna memahami lebih jauh berbagai tantangan dan peluang yang dihadapi UKSW, sekaligus berbagi mengenai UBCHEA dan arah pengembangannya ke depan,” ungkapnya.
Menurutnya, hubungan tersebut bukan sekadar mengenai program, tetapi juga tentang bagaimana UBCHEA dan institusi anggotanya dapat saling mendukung dalam menjalankan misi pendidikan tinggi Kristen di Asia.
Kehadiran Presiden UBCHEA, Dr. Pareena G. Lawrence, bersama jajaran delegasi menjadi kesempatan bagi UKSW untuk mendiskusikan berbagai potensi kolaborasi yang dapat dikembangkan ke depan. Pertemuan tersebut juga memperluas peluang UKSW untuk terhubung dengan jejaring lebih dari 250 institusi anggota UBCHEA di berbagai negara Asia.

Kolaborasi Strategis Lainnya
Dalam pertemuan tersebut, UKSW dan UBCHEA membahas sejumlah peluang kolaborasi strategis. Salah satunya terkait artificial intelligence (AI), mencakup literasi AI, integrasi AI dalam pembelajaran dan kurikulum, penggunaan AI secara etis, serta tata kelola AI di perguruan tinggi. UKSW sendiri memiliki Program Studi Magister AI dan tengah mengembangkan infrastruktur AI serta AI academic integrity melalui AI Guidelines bagi mahasiswa dan dosen. Pengembangan kolaborasi dengan UBCHEA diharapkan dapat memperkuat ekosistem AI UKSW yang tidak hanya berorientasi pada teknologi, tetapi juga memperhatikan aspek etika, integritas akademik, dan tata kelola.
Peluang lainnya mencakup social entrepreneurship atau kewirausahaan sosial. UBCHEA tengah mengembangkan program yang mendorong perguruan tinggi mengintegrasikan kewirausahaan sosial melalui mata kuliah, pusat atau cell kewirausahaan sosial, kegiatan co-curricular, maupun klub mahasiswa.
Aspek sustainability dan Sustainable Development Goals (SDGs) juga menjadi perhatian. UBCHEA memperkenalkan inisiatif Campus Sustainability and Net Zero Grant serta peluang kemitraan kampus dan komunitas untuk merespons isu lingkungan dan perubahan iklim melalui riset, pembelajaran, dan pengabdian kepada masyarakat.
Perluas Jejaring Perguruan Tinggi Asia
Melalui jejaring UBCHEA, UKSW berpeluang mengembangkan kolaborasi perguruan tinggi di Asia melalui classroom sharing, penelitian dan publikasi bersama, pertukaran mahasiswa, mentoring partnership, serta penguatan kapasitas dalam riset, inovasi, internasionalisasi, dan community engagement.
Dalam bidang kepemimpinan, UKSW juga berpeluang mengikuti Women’s Leadership Institute di Chiang Mai, Thailand, pada Juni 2027. Berbagai peluang tersebut memperkuat kemitraan UKSW dan UBCHEA untuk mengembangkan kolaborasi yang berdampak bagi civitas academica dan masyarakat.
Kegiatan ini mempertegas UKSW dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) khususnya SDGs ke-4 yaitu pendidikan berkualitas, SDGs ke-5 yaitu kesetaraan gender, dan SDGs ke-17 yaitu kemitraan untuk mencapai tujuan.
Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak 1956 dengan 15 fakultas dan 65 program studi di jenjang D3 hingga S3, dengan 34 Prodi Unggul dan A. Terletak di Salatiga, UKSW dikenal dengan julukan Kampus Indonesia Mini, mencerminkan keragaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah. Selain itu, UKSW juga dikenal sebagai “Creative Minority” yang berperan sebagai agen perubahan dan inspirasi bagi masyarakat. (Sel/Upk_TimNews/foto:Divpromkomblik)