Dua tahun setelah meraih Juara 2, Vokal Grup Lentera Kasih Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) kembali ke panggung Pekan Seni Mahasiswa Nasional (PEKSIMINAS) dengan hasil berbeda. Kelompok vokal yang beranggotakan mahasiswa lintas fakultas tersebut berhasil meraih Juara 1 Tangkai Lomba Vokal Grup pada PEKSIMINAS 2026 yang berlangsung belum lama ini, di Universitas Jember, Jawa Timur.
Kemenangan tersebut tidak hanya ditentukan oleh apa yang terjadi di atas panggung. Di balik penampilan yang harmonis, ada proses panjang untuk menyelaraskan waktu, karakter, kemampuan, dan ego masing-masing anggota hingga tumbuh menjadi satu tim.
Pada kompetisi kali ini, Lentera Kasih membawakan dua lagu, yaitu “Pemuda” yang diaransemen oleh Kefas Satriya Permana dan “Kicir-Kicir” yang diaransemen oleh Bagus Gangsar Wibisono. Penampilan tersebut tidak hanya mengandalkan kekuatan vokal, tetapi juga diperkaya koreografi yang memukau, menghadirkan harmoni suara dan gerak di atas panggung.
Pencapaian ini menjadi kebahagiaan tersendiri untuk anggota Lentera Kasih, Jeremiah Axel Worabai salah satunya. “Rasanya tentu sangat senang. Sebab, dua tahun lalu kami meraih juara dua, tetapi tahun ini Tuhan memberikan hadiah dan berkat yang luar biasa bagi Lentera Kasih sehingga kami bisa mendapatkan juara satu,” ungkapnya.
Di balik penampilan yang terlihat harmonis di atas panggung, terdapat proses panjang yang harus dilalui bersama. Semua anggota menjalani latihan intensif di tengah kesibukan perkuliahan. Tidak hanya fokus pada vokal dan koreografi, latihan juga menjadi proses belajar mengendalikan emosi, meredam ego agar dapat tampil maksimal sebagai sebuah tim.
Bagi Lentera Kasih, justru proses itulah yang menjadi salah satu bagian paling berkesan dalam perjalanan menuju kompetisi. Waktu latihan menjadi kesempatan untuk berkumpul, berbagi cerita, membangun bonding, hingga mengenal satu sama lain dengan lebih dekat.
“Ketika waktu latihan tiba, kami dapat berkumpul bersama, membangun ikatan dan kedekatan antar individu yang pada akhirnya menciptakan sebuah tim yang hebat,” kata Jeremiah Axel Warobai, anggota Lentera Kasih lainnya.

Kebersamaan tersebut juga menjadi bagian penting dari konsep penampilan Lentera Kasih. Setiap individu diberikan ruang untuk tampil melalui koreografi dan vokal yang seimbang. Perpaduan tersebut dirancang untuk menjaga harmoni suara sekaligus menghadirkan visual yang indah ketika ditampilkan di atas panggung.
Perjalanan menuju panggung nasional tentu tidak selalu berjalan mulus. Salah satu momen yang hingga kini menjadi cerita tersendiri terjadi hanya sekitar 30 menit sebelum Lentera Kasih tampil. Salah satu anggota menyadari bahwa nomor undian yang harus dikaitkan pada pakaian peserta tertinggal di penginapan.
Suasana yang sebelumnya dipenuhi persiapan penampilan seketika berubah menjadi menegangkan. Beberapa tim harus bergegas kembali ke penginapan untuk mengambil nomor undian yang tertinggal dan membawanya kembali ke lokasi perlombaan. Meskipun sempat membuat panik, kejadian tersebut akhirnya menjadi cerita kecil yang justru akan selalu diingat oleh anggota Lentera Kasih.
Lentera Kasih sendiri terdiri atas 10 penyanyi dan dua pemusik yang berasal dari beberapa fakultas di UKSW, yaitu Fakultas Teologi, Fakultas Bahasa dan Seni, serta Fakultas Teknologi Informasi. Para penyanyi terbagi dalam tiga sopran, dua alto, dua tenor, dan tiga bass.
Melalui prestasi Lentera Kasih di PEKSIMINAS 2026, UKSW kembali menunjukkan bahwa kampus bukan hanya menjadi ruang untuk memperoleh pengetahuan, tetapi juga menjadi tempat bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi, mengekspresikan kreativitas, serta belajar berkolaborasi melalui berbagai bidang, termasuk seni dan budaya.
Pencapaian ini turut menunjukkan kontribusi UKSW dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui pengembangan potensi mahasiswa dan kolaborasi lintas fakultas. Melalui kolaborasi mahasiswa dari berbagai latar belakang untuk mencapai tujuan bersama. Pencapaian tersebut sejalan dengan Asta Cita Presiden Republik Indonesia, khususnya Asta Cita ke-4 yang menekankan pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas, berdaya saing, dan mampu berkontribusi bagi kemajuan bangsa.
Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak 1956 dengan 15 fakultas dan 65 program studi di jenjang D3 hingga S3, dengan 36 Prodi Unggul dan A. Terletak di Salatiga, UKSW dikenal dengan julukan Kampus Indonesia Mini, mencerminkan keragaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah. Selain itu, UKSW juga dikenal sebagai “Creative Minority” yang berperan sebagai agen perubahan dan inspirasi bagi masyarakat. (Chan_TimKomblik/foto:Istimewa)
