UKSW Hadirkan BK Connect 2026, Dukung Guru BK Wujudkan Layanan Konseling Berkualitas

Di tengah semakin kompleksnya peran Guru Bimbingan dan Konseling (BK), menjaga keseimbangan hidup menjadi salah satu kunci untuk menghadirkan layanan konseling yang berkualitas bagi peserta didik. Menjawab kebutuhan tersebut, Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) mengadakan kegiatan capacity building bertajuk “BK Connect 2026”  dengan tema Balance Life di Tengah Tekanan Akademik dan Digital, pada Jumat-Sabtu (03-04/07/2026) di Hotel D’Emmerick, Salatiga. Kegiatan ini menjadi ruang bagi Guru BK dari berbagai SMA dan SMK untuk belajar bersama, berbagi praktik baik, sekaligus memperkuat kolaborasi dengan UKSW.

BK Connect 2026 dibuka oleh Kepala Divisi Promosi dan Komunikasi Publik (DIVPROM) UKSW, Esti Maria Margi Astuti, S.Sos. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai wadah bagi Guru BK untuk saling bertukar pengalaman dan informasi, sekaligus mempererat hubungan antara UKSW dengan sekolah-sekolah mitra. Melalui kolaborasi yang terus dibangun, UKSW berharap dapat mendukung Guru BK dalam mendampingi siswa merencanakan pendidikan tinggi sekaligus memperkuat jejaring yang telah terjalin.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Rektor UKSW Profesor Intiyas Utami serta Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Kealumnian (WR KK) Profesor Yafet Yosafet Wilben Rissy. Pada kesempatan tersebut, keduanya memperkenalkan berbagai perkembangan terbaru UKSW, mulai dari penguatan kerja sama, inovasi, hingga fasilitas yang terus ditingkatkan. Sesi ini memberikan gambaran yang lebih komprehensif kepada para Guru BK mengenai perkembangan UKSW sehingga informasi yang diterima dapat diteruskan kepada siswa di sekolah masing-masing.

Salah satu sesi utama dalam BK Connect 2026 menghadirkan workshop bertajuk “Guru BK yang Seimbang, Hadir, dan Berdampak: Mewujudkan Keseimbangan Hidup untuk Meningkatkan Layanan Konseling Berkualitas” yang dibawakan oleh Eko Suseno Hendro Riyadi Matruty, S.E., M.M. Melalui konsep Triple Success, peserta diajak memahami pentingnya membangun keseimbangan antara aspek spiritual, finansial, dan sosial yang didukung oleh kebiasaan positif dalam kehidupan sehari-hari, seperti menjaga relasi dengan keluarga dan teman, memperkuat iman, menjaga kesehatan, menyalurkan hobi, membangun hubungan sosial, hingga menghadirkan sukacita dalam kehidupan.

Menurutnya, topik balanced life menjadi semakin relevan mengingat tantangan yang dihadapi Guru BK saat ini semakin beragam. Selain menjalankan peran utama dalam mendampingi siswa, mereka juga dihadapkan pada berbagai tuntutan administratif yang dapat memengaruhi kondisi psikologis mereka.

“Tekanan pekerjaan mereka cukup tinggi. Dari sisi administrasi mereka harus melaksanakan berbagai kegiatan administratif, kemudian mereka juga harus bertemu dengan anak didik yang membutuhkan pendampingan. Hal-hal itu membuat mereka relatif merasa tertekan. Karena itu mereka perlu mengelola hidup secara lebih seimbang dan proporsional,” ungkap Eko Suseno yang juga Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UKSW.

Ia menambahkan bahwa Guru BK yang mampu menjaga keseimbangan hidup akan memiliki kesehatan mental yang lebih baik sehingga dapat memberikan layanan konseling secara optimal kepada peserta didik.

“Kalau seseorang memiliki work-life balance, kesehatan mentalnya akan lebih baik. Ketika kesehatan mental mereka baik, mereka juga akan mampu memberikan layanan terbaik bagi setiap anak didik yang mereka dampingi,” tambahnya.

Materi tersebut mendapat apresiasi dari para peserta. Istiqlalia Irawati, S.Psi , Guru BK SMK Negeri 1 Tengaran, Kabupaten Semarang, mengaku konsep balanced life menjadi pembelajaran yang paling membekas selama mengikuti BK Connect 2026.

“Yang sangat berkesan dari pembelajaran selama mengikuti BK Connect ini adalah tentang balanced life. Hidup itu harus ada keseimbangan antara hubungan kita dengan Tuhan, kehidupan sosial, dan finansial. Kita tidak harus berorientasi mengejar materi, tetapi mengejar keseimbangan. Ketika hidup seimbang, hasil akan mengikuti,” ungkap Ira.

Senada dengan itu, Ketua Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling (MGBK) SMA Jawa Tengah sekaligus Guru BK SMA Negeri 1 Blora, Nurcahyo Adi Prasetyo S.Pd, Kons, menilai pendekatan penyampaian materi yang interaktif membuat peserta lebih mudah merefleksikan pengalaman mereka sebagai pendidik.

“Yang paling berkesan bagi saya adalah cara penyampaian materi yang tidak terlalu textbook, tetapi justru menyentuh sisi humanisme kami. Hal-hal yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan sehari-hari menjadi lebih kami sadari. Harapannya, kegiatan seperti ini terus berlanjut, bahkan ke depan siswa juga bisa diajak berkunjung ke UKSW agar mereka memiliki gambaran langsung tentang lingkungan kampus sebelum melanjutkan studi,” ujarnya.

Melalui BK Connect 2026, UKSW berharap kolaborasi yang terjalin bersama Guru Bimbingan dan Konseling dapat terus berkembang sebagai upaya bersama dalam mendampingi generasi muda mempersiapkan masa depan pendidikan mereka. Selain menjadi ruang berbagi pengetahuan dan praktik baik, kegiatan ini diharapkan semakin memperkuat sinergi antara UKSW dan sekolah dalam menghadirkan layanan pendidikan yang berdampak serta mendukung pengembangan karakter peserta didik. Kegiatan ini juga sejalan dengan komitmen UKSW dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-3 yaitu kehidupan sehat dan sejahtera, tujuan ke-4 yaitu pendidikan berkualitas, serta tujuan ke-17 kemitraan untuk mencapai tujuan.

Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak 1956 dengan 15 fakultas dan 65 program studi di jenjang D3 hingga S3, dengan 36 Prodi Unggul dan A. Terletak di Salatiga, UKSW dikenal dengan julukan Kampus Indonesia Mini, mencerminkan keragaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah. Selain itu, UKSW juga dikenal sebagai “Creative Minority” yang berperan sebagai agen perubahan dan inspirasi bagi masyarakat. (Chan_TimKomblik/foto:Divpromkomblik)

Bagikan:
Facebook
Share
WhatsApp