Program Studi Profesi Ners Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) bekerja sama dengan Asosiasi Institusi Pendidikan Ners Indonesia (AIPNI) Regional VII Jawa Tengah menyelenggarakan Pelatihan Penguji Objective Structured Clinical Examination (OSCE) Standar Nasional. Kegiatan yang berlangsung selama lima hari ini diikuti oleh 31 peserta yang berasal dari berbagai perguruan tinggi dan rumah sakit, dengan tujuan membekali para dosen dan pembimbing klinik agar memiliki kompetensi sebagai penguji OSCE sesuai standar nasional.
Ketua Program Studi Profesi Ners FIK UKSW, Ns Venti Agustina,S.Kep.,MAN, menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari upaya mempersiapkan institusi pendidikan keperawatan menghadapi penerapan OSCE sebagai salah satu bentuk evaluasi kompetensi mahasiswa secara nasional.
“Kami bekerja sama dengan AIPNI Regional VII Jawa Tengah menyelenggarakan pelatihan penguji OSCE standar nasional. Nantinya seluruh peserta yang memenuhi persyaratan akan mendapatkan sertifikat nasional sebagai penguji OSCE,” jelasnya.
Pelatihan dilaksanakan melalui kombinasi pembelajaran daring, penugasan mandiri, dan sesi luring yang berfokus pada teori, praktik, hingga simulasi penyelenggaraan OSCE di Laboratorium OSCE UKSW. Menurutnya, tidak semua institusi pendidikan dapat menyelenggarakan pelatihan serupa karena salah satu syarat utama adalah memiliki laboratorium OSCE yang memenuhi standar.
“Yang bisa mengadakan in-house training adalah institusi yang sudah memiliki Laboratorium OSCE. Tidak semua institusi bisa menyelenggarakannya,” ungkap Venti.
Ke-31 peserta pelatihan terdiri atas 14 dosen dari UKSW serta peserta dari berbagai rumah sakit dan perguruan tinggi, seperti RS Roemani Muhammadiyah Semarang, RSUP Dr. Kariadi Semarang, RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang, Universitas Aisyiyah Surakarta, STIKES Estu Utomo, dan Universitas Kurnia Jaya Persada Palopo dari Sulawesi Selatan. Para peserta merupakan dosen, tenaga pendidik, maupun clinical instructor yang terlibat dalam pendidikan profesi ners.

Selain mengikuti seluruh rangkaian pelatihan selama lima hari, peserta juga diwajibkan mengikuti simulasi penyelenggaraan OSCE. Dalam simulasi tersebut, setiap peserta akan menjalankan peran yang berbeda, seperti ketua OSCE maupun penguji, dan dinilai langsung oleh tim AIPNI berdasarkan standar nasional.
“Peserta harus mengikuti pelatihan secara penuh. Saat simulasi nanti mereka akan dinilai, mulai dari cara melakukan penilaian sampai proses review soal. Semua sudah memiliki standar yang ditentukan oleh tim AIPNI,” tambahnya.
Pelatihan ini juga menjadi langkah strategis bagi UKSW dalam meningkatkan kesiapan pelaksanaan OSCE di lingkungan kampus. Venti berharap seluruh dosen Program Studi Keperawatan dapat memperoleh sertifikasi nasional sehingga mampu menjadi penguji, baik di lingkungan UKSW maupun di institusi lain.
Salah satu peserta dari UKSW, Ns.Desi, S.Kep.,MSN.,Sp.Kep.J, yang merupakan dosen Keperawatan Jiwa, mengaku pelatihan tersebut memberikan pemahaman baru mengenai penyelenggaraan ujian praktik yang terstandar.
“Ternyata ujian praktik di keperawatan tidak bisa asal memberikan soal. Mulai dari penyusunan soal, pemberian nilai, sampai standar pasien simulasi semuanya memiliki standar. Pelatihan ini sangat membantu kami memahami perbedaan antara praktik yang selama ini dilakukan dengan standar yang ideal,” tuturnya.
Menurut Desi, sesi luring menjadi bagian yang paling berkesan karena peserta dapat berdiskusi secara langsung dengan narasumber sekaligus mempraktikkan materi yang telah dipelajari secara daring. Ia berharap hasil pelatihan dapat diterapkan secara optimal di UKSW melalui dukungan institusi, sehingga penyelenggaraan OSCE sesuai standar nasional dapat meningkatkan kualitas lulusan Program Profesi Ners.
Pandangan serupa disampaikan oleh Dr. Indah Nursanti,M.Kep.,Sp.Kep.K, dosen Universitas Kurnia Jaya Persada Palopo. Menurutnya, pelatihan ini menjadi bekal penting bagi institusinya dalam mempersiapkan pelaksanaan OSCE sesuai standar nasional.
“Pelatihan ini membuka mata kami mengenai standar penyelenggaraan OSCE. Setelah kembali ke kampus, kami akan mengevaluasi sistem yang sudah ada, menyesuaikannya dengan standar yang kami pelajari di sini, kemudian melakukan trial agar mahasiswa kami siap mengikuti OSCE nasional,” ungkapnya.
Kehadiran pelatihan ini diharapkan tidak hanya memperkuat kompetensi para penguji OSCE, tetapi juga mendorong peningkatan mutu pendidikan profesi ners di berbagai institusi. Komitmen tersebut selaras dengan Asta Cita ke-4 dalam membangun sumber daya manusia yang unggul melalui pendidikan dan penguasaan ilmu pengetahuan, sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) ke-3 tentang kehidupan sehat dan sejahtera serta SDGs ke-4 tentang pendidikan berkualitas.
Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak 1956 dengan 15 fakultas dan 65 program studi di jenjang D3 hingga S3, dengan 36 Prodi Unggul dan A. Terletak di Salatiga, UKSW dikenal dengan julukan Kampus Indonesia Mini, mencerminkan keragaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah. Selain itu, UKSW juga dikenal sebagai “Creative Minority” yang berperan sebagai agen perubahan dan inspirasi bagi masyarakat. (Chan_TimKomblik/foto:divpromkomblik)