Pemberdayaan masyarakat menjadi salah satu wujud nyata komitmen Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) dalam menerjemahkan ilmu pengetahuan menjadi manfaat bagi masyarakat. Melalui integrasi penelitian, pengajaran, dan pengabdian kepada masyarakat, UKSW mengembangkan berbagai program yang bertumpu pada potensi lokal, menjawab kebutuhan komunitas, serta mendorong kemandirian ekonomi dan peningkatan kualitas hidup. Kiprah tersebut diperkenalkan dalam Seminar Nasional Forum Perguruan Tinggi dalam Pemberdayaan Masyarakat bertema “Sinergi Implementasi Tridharma dalam Pemberdayaan Masyarakat yang Inklusif, Berdampak, dan Berkelanjutan” di Balairung UKSW, Salatiga, Kamis (15/10/2026).
Kegiatan ini menjadi momentum bagi UKSW untuk memperkenalkan berbagai praktik pemberdayaan yang menghubungkan hasil penelitian dengan kebutuhan masyarakat. Program-program tersebut mencakup pengembangan ekonomi lokal, peningkatan kualitas hidup, serta penguatan pengetahuan dan literasi masyarakat.
Melalui stan program pemberdayaan UKSW yang dikunjungi Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Republik Indonesia, Dr. (HC). Drs. H. Abdul Muhaimin Iskandar, M.Si., dalam Seminar Nasional Forum Perguruan Tinggi dalam Pemberdayaan Masyarakat, UKSW menyajikan perjalanan berbagai program yang menunjukkan komitmen universitas untuk hadir di tengah masyarakat dan memberi dampak.
Salah satu program yang diperkenalkan ialah pengembangan kain tenun dan ikat di Sumba Timur, Sumba Tengah, dan Sumba Barat Daya. Melibatkan masyarakat di sekitar 20 desa, program ini memadukan penelitian dengan pendampingan petani dan penenun. Peneliti UKSW mengeksplorasi bahan alami untuk pewarnaan, mengembangkan teknik menenun, serta mencari alternatif bahan pembuatan benang. Hasil penelitian tersebut diterapkan untuk mendukung peningkatan kualitas produk tenun sekaligus memperluas akses pemasaran melalui berbagai pameran.

UKSW juga memperkenalkan produk herbal hasil penelitian yang memanfaatkan bahan-bahan lokal yang belum digunakan secara optimal dan berpotensi menjadi limbah. Bahan tersebut diolah menjadi produk makanan dan minuman yang diharapkan dapat memberikan nilai tambah ekonomi. Sejumlah produk telah diperkenalkan kepada perusahaan, sementara beberapa di antaranya tengah menjalani proses perizinan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sebagai bagian dari persiapan menuju produksi massal.
Profesor Hindriyanto Dwi Purnomo, Ph.D., menjelaskan bahwa program pemberdayaan masyarakat UKSW mencakup tiga bidang utama, yaitu pemberdayaan ekonomi, peningkatan kualitas hidup, serta peningkatan pengetahuan dan literasi. Ketiganya menjadi landasan dalam mengembangkan program yang memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
“Secara umum, ke depan kami ingin membuat kegiatan pemberdayaan masyarakat menjadi lebih masif dan terintegrasi dengan penelitian serta pengajaran,” jelasnya.
Menurutnya, salah satu fokus pengembangan ke depan ialah hilirisasi hasil penelitian agar inovasi yang dihasilkan perguruan tinggi dapat dimanfaatkan secara nyata oleh masyarakat dan memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi. Kolaborasi dengan kementerian, pemerintah, perguruan tinggi lain, dan dunia usaha diharapkan turut memperluas jangkauan serta keberlanjutan program pemberdayaan.
Mandaya Award Tegaskan Kiprah Pemberdayaan UKSW
Komitmen UKSW dalam pemberdayaan masyarakat juga tercermin melalui capaian Terbaik 1 Nasional Mandaya Award 2025 kategori Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Penghargaan dari Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Republik Indonesia tersebut diberikan atas capaian praktik baik pemberdayaan masyarakat yang inspiratif dan berdampak bagi komunitas serta lingkungan sosial dan ekologis di sekitarnya.
Capaian tersebut didukung berbagai program lintas disiplin, di antaranya Program Salatiga Anti Stunting (SAS), yang mengintegrasikan edukasi keluarga dan masyarakat dalam upaya meningkatkan kualitas hidup, serta Desa Wisata Perdamaian yang mengembangkan potensi sosial dan budaya untuk mendorong wisata edukatif berbasis kerukunan. Kedua program tersebut memperlihatkan bagaimana kolaborasi antarfakultas dan kemitraan dengan masyarakat dapat menghubungkan pengetahuan akademik dengan kebutuhan di lapangan.

Konsistensi dan Kolaborasi untuk Dampak yang Berkelanjutan
Komitmen tersebut sejalan dengan penjelasan Rektor UKSW Profesor Intiyas Utami mengenai upaya universitas menerjemahkan mandat Tridharma ke dalam program yang menjawab kebutuhan masyarakat. Rektor menekankan bahwa dampak tidak selalu harus dimulai dari program berskala besar. Konsistensi dan ketekunan dalam menjalankan program, disertai kolaborasi lintas disiplin, menjadi bagian penting dalam membangun perubahan yang berkelanjutan.
“Hal kecil bisa memberikan dampak, yang penting konsisten dan persisten,” tegasnya.
Untuk mendukung pendekatan tersebut, UKSW membentuk empat konsorsium fakultas yang mengintegrasikan kontribusi berbagai bidang keilmuan dalam program pemberdayaan. UKSW juga memanfaatkan living laboratory sebagai ruang penerapan pengabdian kepada masyarakat sehingga keilmuan dari berbagai fakultas dapat diimplementasikan sesuai kebutuhan di lapangan.
Keberpihakan kepada masyarakat, termasuk di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), menjadi salah satu prinsip yang disampaikan Rektor. Salah satu bentuk kontribusi UKSW ialah pendampingan terhadap 20 anak dalam upaya penanganan stunting. Rektor menyoroti potensi kontribusi kolektif apabila perguruan tinggi lain turut melakukan pendampingan serupa sesuai kapasitas masing-masing.
Praktik pemberdayaan lainnya diwujudkan melalui pendampingan desa untuk mengembangkan desa wisata yang mengangkat identitas lima agama sebagai ikon desa. Pendekatan tersebut turut membuka ruang kajian antaragama di tengah masyarakat. UKSW juga menyampaikan peluang kolaborasi untuk mendampingi desa miskin di Blora sebagai bagian dari upaya memperluas jangkauan pemberdayaan.
Berbagai praktik tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat dapat dimulai dari lingkungan terdekat dengan mengoptimalkan potensi lokal dan membangun kolaborasi. Integrasi lintas fakultas diharapkan membantu mengurangi sekat keilmuan dan birokrasi sehingga program dapat berjalan lebih terpadu dan berkesinambungan.
Memperkuat Sinergi Perguruan Tinggi dan Pemerintah
Penyelenggaraan seminar nasional di UKSW menjadi ruang konsolidasi bagi perguruan tinggi dan pemerintah untuk menyelaraskan pelaksanaan Tridharma dengan kebijakan nasional, kebutuhan daerah, serta potensi masyarakat. Forum ini juga mendorong pertukaran praktik baik dan penguatan jejaring kolaborasi dalam mendukung pemberdayaan masyarakat, khususnya di desa-desa prioritas pengentasan kemiskinan.
Bagi UKSW, kesempatan menjadi tuan rumah sekaligus membuka ruang untuk memperkenalkan program yang telah dijalankan dan membangun kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan. Pengalaman meraih Mandaya Award 2025 dan berbagi praktik baik dalam Sosialisasi Mandaya Awards 2026 semakin memperkuat kesempatan UKSW untuk berkontribusi dalam pengembangan ekosistem pemberdayaan masyarakat melalui kolaborasi lintas sektor.
Melalui integrasi penelitian, pengajaran, dan pengabdian kepada masyarakat, UKSW terus mendorong pemberdayaan yang inklusif, berdampak, dan berkelanjutan. Komitmen ini menjadi bagian dari upaya universitas menghadirkan ilmu pengetahuan dan inovasi yang tidak hanya berkembang di lingkungan akademik, tetapi juga memberi manfaat bagi masyarakat luas.
Kegiatan ini memperkuat komitmen UKSW mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs ke-1 yaitu tanpa kemiskinan, SDGs ke-4 yaitu pendidikan berkualitas, SDGs ke-10 yaitu berkurangnya kesenjangan dan SDGs ke-17 yaitu kemitraan untuk mencapai tujuan melalui kolaborasi antar instansi. Hal ini juga sejalan dengan ASTA CITA 4 yaitu penguatan pembangunan sumber daya manusia, pendidikan, sains, teknologi, dan kesehatan. Relevan dengan pengembangan kapasitas kader melalui beasiswa. Selain itu juga selaras dengan ASTA CITA 6 membangun dari desa dan dari bawah untuk pemerataan ekonomi serta pemberantasan kemiskinan. Ini merupakan keterkaitan paling langsung dengan pemberdayaan masyarakat desa dan agenda pengentasan kemiskinan.
Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak 1956 dengan 15 fakultas dan 65 program studi di jenjang D3 hingga S3, dengan 36 Prodi Unggul dan A. Terletak di Salatiga, UKSW dikenal dengan julukan Kampus Indonesia Mini, mencerminkan keragaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah. Selain itu, UKSW juga dikenal sebagai “Creative Minority” yang berperan sebagai agen perubahan dan inspirasi bagi masyarakat. (Arl_TimKomblik/foto:divpromkomblik)