Empat mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) memperluas wawasan akademik dan kompetensi global melalui KEIO University Summer Immersion Program (KEIO SIP) 2026 yang diselenggarakan di KEIO University, Jepang, pada 21–30 Juni 2026. Program internasional ini menjadi bagian dari komitmen UKSW dalam mewujudkan UKSW Berdampak melalui penguatan internasionalisasi, kolaborasi akademik, dan pertukaran budaya di tingkat global.
Keempat mahasiswa tersebut ialah Abimanyu Pangestu dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB), Setta Inogi dan Mikhael Providensia Deandev Lelet dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi (FISKOM), serta Sipriana Wantik dari Fakultas Biologi. Mereka bergabung bersama delegasi mahasiswa dari Universitas Indonesia dan Universitas Hasanuddin dalam berbagai kegiatan akademik dan pertukaran budaya bersama mahasiswa internasional di KEIO University.
Selama program berlangsung, para peserta mengikuti Kenkyukai, seminar berbasis riset yang mengedepankan diskusi aktif antara dosen dan mahasiswa. Mereka juga menyusun mini riset serta melakukan pengumpulan data secara langsung sebagai bagian dari proses pembelajaran. Melalui pengalaman tersebut, mahasiswa memperoleh pemahaman mengenai pendekatan pembelajaran berbasis riset, berpikir kritis, dan kolaborasi yang menjadi ciri pendidikan tinggi di Jepang.
Tak hanya memperkaya pengalaman akademik, mahasiswa UKSW juga berperan sebagai duta budaya melalui kegiatan Indonesian Night. Dalam kesempatan tersebut, mereka memperkenalkan bahasa, permainan tradisional, serta keberagaman budaya Indonesia kepada peserta internasional. Interaksi ini menjadi ruang diplomasi budaya yang mempererat pemahaman lintas negara sekaligus memperkenalkan identitas Indonesia kepada komunitas global.

Bagi Setta Inogi, mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional FISKOM yang juga aktif dalam Senat Mahasiswa Universitas (SMU), program ini menjadi pengalaman berharga untuk membangun jejaring internasional sekaligus mengembangkan kemampuan komunikasi lintas budaya. Menurutnya, interaksi langsung dengan mahasiswa dari berbagai negara memberikan ruang untuk saling bertukar ide, perspektif, dan budaya.
“Kita bisa mengenalkan budaya kita langsung ke mahasiswa internasional, jadi mereka bukan cuma melihat, tapi benar-benar tahu seperti apa Indonesia,” ujarnya.
Ia juga mengaku tertantang mengikuti berbagai proyek kolaboratif selama program berlangsung. Pengalaman tersebut tidak hanya memperluas wawasannya, tetapi juga semakin memantapkan cita-citanya untuk melanjutkan studi di Jepang pada jenjang berikutnya.
Pengalaman berbeda dirasakan Sipriana Wantik yang terkesan dengan budaya belajar di KEIO University. Menurutnya, proses pembelajaran di KEIO University lebih menekankan diskusi aktif sehingga mahasiswa didorong untuk menyampaikan pendapat dan bekerja sama dalam memecahkan permasalahan. Selain itu, budaya disiplin dan kepedulian terhadap kebersihan masyarakat Jepang menjadi pembelajaran yang berkesan baginya.
“Saya menjadi lebih percaya diri untuk berbicara dan berkontribusi di lingkungan baru,” ungkap Sipriana.
Ia menambahkan, masyarakat Jepang juga menunjukkan penghargaan yang tinggi terhadap budaya Indonesia. Hal tersebut terlihat dari antusiasme mahasiswa KEIO yang mempelajari bahasa Indonesia dan mengikuti berbagai kegiatan pengenalan budaya selama program berlangsung.
Melalui KEIO Summer Immersion Program 2026, mahasiswa UKSW tidak hanya memperoleh pengalaman belajar di lingkungan akademik internasional, tetapi juga mengembangkan kemampuan komunikasi lintas budaya, kepemimpinan, dan kolaborasi global.
Kegiatan ini menjadi representasi nyata komitmen UKSW dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs ke-4 yaitu pendidikan berkualitas dan SDGs ke-17 yaitu kemitraan untuk mencapai tujuan. Capaian ini juga sejalan dengan Asta Cita poin ke-4 yaitu dalam penguatan sumber daya manusia, sains, teknologi, dan pendidikan, serta poin ke-6 yaitu dalam membangun tata kelola ekonomi dan kelembagaan yang produktif, inovatif, dan berkelanjutan.
Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak 1956 dengan 15 fakultas dan 65 program studi di jenjang D3 hingga S3 dengan 36 prodi terakreditasi Unggul dan A. Terletak di Salatiga, UKSW dikenal dengan julukan Kampus Indonesia Mini, mencerminkan keragaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah. Selain itu, UKSW juga dikenal sebagai “Creative Minority” yang berperan sebagai agen perubahan dan inspirasi bagi masyarakat. Salam Satu Hati UKSW! (Arl_TimKomblik/foto:Istimewa)
