Lentera Harmoni GIHN 2026 Membawa Inovasi Ramah Lingkungan Satya Wacana untuk Indonesia

Beragam karya inovasi memenuhi Balairung Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) dalam Gelar Inovasi Harmoni Nusantara (GIHN) 2026, belum lama ini. Dari robot yang dapat memilah baterai, produk perawatan tubuh berbahan alami yang memanfaatkan ekstrak bunga hasil olahan sendiri, hingga sisa serutan kayu yang diolah menjadi alas kandang hewan, setiap stan membawa cerita tentang bagaimana civitas academica UKSW mencoba mengubah ide menjadi sesuatu yang dapat digunakan.

Mengusung tema “Lentera Harmoni, Inovasi Ramah Lingkungan dari Satya Wacana untuk Indonesia”, GIHN 2026 mempertemukan berbagai karya dari fakultas, prodi, dan universitas mitra. Tidak semuanya berbentuk teknologi canggih, sebagian justru berangkat dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, sampah organik, sisa produksi, bahan alami, hingga kebutuhan masyarakat.

Salah satunya terlihat dari Fakultas Teknik Elektronika dan Komputer (FTEK). Salah satu yang menarik perhatian adalah RECELL – AI, robot pemilah baterai. Dengan bantuan sensor dan AI, robot tersebut dapat mengenali kondisi baterai dan menentukan apakah baterai masih dapat digunakan atau tidak. Selain itu,  FTEK juga memperkenalkan WERAKUDA, robot terbang atau flying robot yang dapat bekerja secara otomatis.

“Ketika baterai melewati sensor, AI akan mendeteksi apakah baterai itu masih bisa digunakan atau tidak,” jelas Hana Gabriella Mahasiswa Prodi Teknik Komputer UKSW.

Ada pula TERRA AGRI yang membawa teknologi robotik ke bidang pertanian. Robot ini dikembangkan untuk membaca kondisi tanah dan memberikan rekomendasi mengenai jenis tanaman yang tepat untuk kondisi tanah tersebut. Cerita lain datang dari Fakultas Pertanian dan Bisnis (FPB) yang memanfaatkan apa yang tersedia di sekitar melalui kolaborasi UKSW dengan masyarakat RW 04 Kelurahan Pancuran melalui Smart Farming Anti Stunting. Warga mengembangkan sayuran hidroponik yang kemudian dipanen dan dijual kepada masyarakat sekitar. Hingga saat ini, hasil panen telah dijual sebanyak tujuh kali dan turut dimanfaatkan dalam kegiatan yang berkaitan dengan penanganan stunting.

“Yang dikembangkan saat ini hanya sayuran dulu, hidroponik. Kita sudah menjualnya tujuh kali, juga dijual ke warga-warga,” ungkap Winarni Indah, pengurus PKP-RW dan Smart Farming RW 04 Kelurahan Pancuran.

Sementara itu, di salah satu stand YourProud dari Tim Running Palette memanfaatkan serutan kayu dari produksi perahu di Rawa Pening untuk dijadikan alas kandang hamster, kelinci, dan hewan lainnya. Ide tersebut muncul ketika tim melihat serutan kayu dari proses produksi perahu dibakar begitu saja.

“Pada saat kami ke sana, banyak sisa serutan kayu yang dibakar. Terus jadinya mencemari lingkungan. Sayang juga kalau terbuang, akhirnya muncullah ide,” cerita Glebova Fiona mahasiswa Psikologi salah satu tim Running Palette.

Jika alas kandang biasa perlu diganti setiap dua hingga tiga hari, Running Palette dikembangkan agar dapat digunakan sekitar satu minggu sebelum diganti. Tim ini juga bekerja sama dengan UMKM pembuat perahu untuk memperoleh bahan baku. Sementara itu, ZEROWA dari Fakultas Sains dan Matematika (FSM) menghadirkan produk sabun yang menggunakan squalene alami dari minyak biji labu sebagai pengganti squalene dari sumber hewani. Kemudian, pengunjung juga dapat menemukan eco-enzyme hingga Body Lotion Calendula yang dibuat dari ekstrak calendula yang diolah sendiri, kemudian dicampurkan dengan olive oil dan essential oil.

Tidak hanya soal lingkungan, GIHN 2026 juga membawa pengunjung melihat inovasi dari berbagai bidang. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) PPG Matematika, mereka memperkenalkan website berbasis Augmented Reality (AR) yang membantu pengguna mempelajari jaring-jaring bangun ruang. Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) turut membawa berbagai karya dari empat program studi. Mulai dari permainan Spin and Speak untuk melatih kemampuan berbicara dalam bahasa Inggris, board game Game Really dari mata kuliah gamifikasi, buku karya dosen dan mahasiswa, hingga pertunjukan dan karya dari Program Studi Seni Musik.

Lentera Harmoni GIHN 2026 Membawa Inovasi Ramah Lingkungan Satya Wacana untuk Indonesia

Fakultas Hukum pun menghadirkan cara yang lebih interaktif seperti jurnal, kegiatan pusat studi, dan Unit Pusat Bantuan Hukum untuk mengenalkan bidang hukum kepada pengunjung. Di sisi lain, Fakultas Kedokteran memperkenalkan produk SAKABU, serundeng yang dibuat dari ikan gabus dan daun kelor. Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) turut menampilkan berbagai buku hasil karya dosen dan mahasiswa, yang memberikan gambaran mengenai karya serta kontribusi akademik yang dihasilkan di lingkungan fakultas. Sementara itu, Fakultas Psikologi menghadirkan games interaktif serta layanan konseling minat dan bakat yang membantu pengunjung mengenali potensi dan ketertarikan diri. Melengkapi rangkaian pameran, Fakultas Interdisiplin (FID) kembali menghadirkan virtual tour pariwisata menggunakan Virtual Reality (VR), sehingga pengunjung dapat merasakan pengalaman imersif untuk menjelajahi berbagai destinasi wisata secara virtual.

Berbagai karya tersebut membuat GIHN 2026 tidak hanya menjadi tempat untuk melihat hasil tugas atau penelitian mahasiswa. Bagi siswa yang datang, stan-stan tersebut justru menjadi kesempatan untuk mengenal lebih jauh apa yang dilakukan mahasiswa di UKSW.

“Banyak sekali inovasi dan karya yang bisa kita ketahui, terutama untuk kelas 12 yang mau masuk kuliah nantinya. Banyak sekali informasi yang kita dapatkan melalui beberapa stand fakultas yang kita minati,” ujar April Seila, siswi SMK 2 Salatiga.

Hal serupa disampaikan Lova, siswa kelas 12 SMK Telekomunikasi Tunas Harapan, yang datang bersama temannya, Nazril. Menurutnya, kunjungan ke GIHN memberikan pengalaman sekaligus gambaran mengenai pilihan yang dapat mereka ambil setelah lulus.

“Seru banget dan bikin kita jadi lebih termotivasi untuk mengejar mimpi lagi. Selain itu, kegiatan ini juga memacu kita untuk punya tujuan dan semangat untuk berkembang ke depannya,” ungkap Lova.

Di tengah suasana GIHN 2026 yang ramai, pengunjung tidak hanya diajak melihat berbagai karya dan inovasi, tetapi juga menikmati rangkaian kompetisi terbuka untuk umum, seperti kompetisi band dan dance. Kehadiran para peserta dan penonton membuat area GIHN terasa semakin hidup, sekaligus menjadi ruang bagi masyarakat untuk menikmati hiburan sambil mengenal lebih dekat berbagai inovasi yang dihadirkan Satya Wacana.

Melalui GIHN 2026, UKSW kembali menunjukkan bahwa kampus bukan hanya tempat untuk memperoleh pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang bagi mahasiswa dan dosen untuk berinovasi, berkarya, bereksperimen, dan berkolaborasi lintas bidang. Berbagai karya yang dihadirkan dalam kegiatan ini turut menunjukkan komitmen UKSW dalam berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, serta SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Kegiatan ini juga sejalan dengan Asta Cita Presiden Republik Indonesia, khususnya Asta Cita ke-4 yang menekankan pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas.

Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak 1956 dengan 15 fakultas dan 65 program studi di jenjang D3 hingga S3, dengan 34 Prodi Unggul dan A. Terletak di Salatiga, UKSW dikenal dengan julukan Kampus Indonesia Mini, mencerminkan keragaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah. Selain itu, UKSW juga dikenal sebagai “Creative Minority” yang berperan sebagai agen perubahan dan inspirasi bagi masyarakat. (Chan_TimKomblik/foto: Chan)

Bagikan:
Facebook
Share
WhatsApp
PHP Code Snippets Powered By : XYZScripts.com