Bagi Kanaya Abigail, mengampanyekan Sustainable Development Goals (SDGs) di Slovakia bukan hanya tentang berbagi pengetahuan. Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) yang akrab disapa Abigail ini juga memanfaatkan program Global Volunteer AIESEC untuk memperkenalkan Indonesia melalui budaya, keberagaman, dan warisan bangsa kepada masyarakat setempat.
Selama mengikuti program, Abigail membawakan materi tentang 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) kepada siswa berusia 6–18 tahun di tiga sekolah di Slovakia. Menggunakan metode pembelajaran partisipatif melalui permainan, simulasi, dan diskusi interaktif, ia menciptakan suasana belajar yang aktif sehingga para siswa terdorong untuk memahami isu-isu global, berpikir kritis, bekerja sama, dan menerapkan aksi nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Di sela-sela pembelajaran, Abigail selalu mengawali kelas dengan memperkenalkan Indonesia. Ia membawa batik, kebaya, uang rupiah, hingga camilan khas Indonesia agar para siswa dapat mengenal budaya Indonesia secara langsung. Di salah satu sekolah yang tergabung dalam United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) Schools Network, ia juga mengenalkan Sumbu Filosofi Yogyakarta, Candi Borobudur, Candi Prambanan, serta situs Warisan Dunia Indonesia lainnya.

“Saya selalu membawa presentasi tentang Indonesia, seperti budaya dan makanan. Saya juga membawa batik, kebaya, bahkan uang rupiah supaya mereka bisa melihat langsung,” ujarnya.
Menurut Abigail, batik menjadi budaya Indonesia yang paling menarik perhatian siswa di Slovakia. Mereka banyak bertanya tentang proses pembuatannya, jenis-jenis batik, hingga aroma khas kain batik yang berasal dari lerak. Selain itu, kekayaan alam Indonesia, seperti Gunung Merapi, komodo, binturong, dan dugong, juga membuat mereka antusias karena merupakan hal yang jarang mereka temui.
“Mereka sangat antusias dan menyukai budaya Indonesia. Batik menjadi salah satu yang paling menarik perhatian mereka,” tuturnya.
Tak hanya memperkenalkan Indonesia kepada para siswa, Abigail juga bertukar budaya dengan relawan dan masyarakat dari berbagai negara, seperti Slovakia, Ukraina, Rusia, Serbia, dan Venezuela. Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya adalah saat memperkenalkan kebaya bergaya peranakan yang merupakan hasil akulturasi budaya Portugis dan Tiongkok. Menurutnya, keterbukaan masyarakat Slovakia dan teman-teman internasional untuk mengenal budaya Indonesia menjadi pengalaman yang sangat berharga.
“Bagi saya, membawa nama Indonesia berarti menjadi duta yang memperkenalkan nilai-nilai positif bangsa kepada masyarakat internasional. Saya ingin menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya, keberagaman, dan masyarakat yang ramah,” ungkap Abigail.
Pengalaman tersebut membuktikan bahwa ruang kelas dapat menjadi jembatan pertukaran budaya. Melalui pembelajaran SDGs, Abigail tidak hanya mengajak siswa memahami isu-isu global, tetapi juga menghadirkan Indonesia di tengah keberagaman budaya dunia.
Selain Outgoing Global Volunteer (oGV) yang diikuti Abigail, AIESEC di UKSW juga menghadirkan berbagai program pengembangan bagi mahasiswa, seperti Youth Today dan Join AIESEC untuk memperkenalkan peran pemuda sebagai agen perubahan, Impact Circle yang mengangkat isu-isu sosial dan Sustainable Development Goals (SDGs), serta AIESEC Future Leaders yang berfokus pada pengembangan kepemimpinan, komunikasi, dan kolaborasi. Beragam program ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi sekaligus memperluas wawasan di tingkat nasional maupun internasional.

Program ini menegaskan kiprah UKSW dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) yaitu ke-4 pendidikan berkualitas dan ke-17 yaitu kemitraan untuk mencapai tujuan. Kegiatan ini juga menjadi wujud nyata komitmen UKSW terhadap program Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Diktisaintek) Berdampak yang selaras dengan Asta Cita 4 yaitu memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM), sains, teknologi, dan pendidikan.
Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak 1956 dengan 15 fakultas dan 65 program studi di jenjang D3 hingga S3 dengan 36 prodi terakreditasi Unggul dan A. Terletak di Salatiga, UKSW dikenal dengan julukan Kampus Indonesia Mini, mencerminkan keragaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah. Selain itu, UKSW juga dikenal sebagai “Creative Minority” yang berperan sebagai agen perubahan dan inspirasi bagi masyarakat. Salam Satu Hati UKSW! (ARL_TimKomblik/foto:Istimewa)